<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><rss xmlns:atom='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' version='2.0'><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-4865655923568025786</atom:id><lastBuildDate>Fri, 04 Dec 2009 15:22:16 +0000</lastBuildDate><title>YANUBA</title><description>Mari Kita Majukan Indonesia dengan Korupsi Bersama!</description><link>http://yanuba.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (YAB)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>25</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-4865655923568025786.post-8212498914313705315</guid><pubDate>Tue, 20 Oct 2009 04:45:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-10-19T21:47:08.255-07:00</atom:updated><title>P E S A I N G</title><description>Pesaingmu lebih banyak memberikan pemikiran kepadamu dibandingkan teman-temanmu. Teman-temanmu terlalu sopan dan enggan untuk menunjukkan kelemahan dan kekuranganmu. Sebaliknya, pesaingmu rela mengeluarkan banyak dana dan tenanga untuk “mengiklankan” kelemahan dan kekuranganmu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pesaingmu sangat efisien, rajin, cermat, dan teliti. Bahkan mereka termasuk orang-orang yang jeli terhadap kelemahan-kelemahanmu. Sedikit saja kesalahanmu pasti akan nampak di mata pesaingmu. Mereka membuatmu merasa harus terus mencari cara untuk memperbaiki nilai dan prestasi yang kamu raih, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesaingmu selalu membuatmu selalu waspada untuk selalu konsentrasi dan konsisten dalam penguasaan nilai dan perolehan prestasimu, karena pesaingmu akan dengan mudah merebut posisimu, melebihi nilaimu, dan melampaui presatsimu jika kamu menerapkan gaya santai dan selalu tenang-tenang saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesaingmu memaksakan disiplin tinggi terhadap dirimu. Tanpa pesaing, kamu akan menjadi malas, tidak mempunyai mental tanding yang kokoh, tidak mempunyai semangat berkompetisi, dan bahkan kamu bisa kehilangan selera terhadap usaha dan prestasimu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesaingmu memberi banyak kesan dan pesan kepadamu. Tanpa pesaing, kamu akan menjadi pemenang dalam drama “single fighter” yang membosankan. Tanpa pesaing, kamu akan mempertahankan budaya dan gaya “permainan” yang monoton. Tanpa pesaing, kamu tidak akan menaikkan porsi latihan dan semangatmu. Tanpa pesaing, kamu akan nampak menjadi pemenang tunggal namun mati perlahan-lahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbahagialah dirimu yang mempunyai pesaing. Cintailah pesaing-pesaingmu melebihi cintamu pada sahabatmu, karena pesaingmu juga mencintaimu, sebab ia juga membutuhkanmu untuk menjadi pesaingnya. Sayangilah pesaingmu, karena pesaingmu adalah kekasih: yang mengejekmu secara terbuka namun menyemangatimu secara diam-diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah mengapa aku selalu menghormati pesaing-pesaingku. Sikap mereka terhadapku merupakan hal positif bagi diriku. Semoga Allah memberkahi pesaing-pesaingku, dan menambah berkah-Nya pada diriku. Amien…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4865655923568025786-8212498914313705315?l=yanuba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://yanuba.blogspot.com/2009/10/p-e-s-i-n-g.html</link><author>noreply@blogger.com (YAB)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-4865655923568025786.post-9020313309642351654</guid><pubDate>Thu, 08 Oct 2009 16:38:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-10-08T09:45:05.012-07:00</atom:updated><title>Hal yang Sulit dalam Menulis</title><description>Saya yakin, bahwa semua orang perlu rasanya untuk mengeluarkan apa yang ada di hati dan pikiran, meskipun hanya lewat tulisan. Apalagi jika uneg-uneg rasanya sudah menyesak di dada. Lha… tapi bingung saat akan memulai menulis, tidak tahu mau nulis apa, tapi rasa ingin menulis sudah membuncah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneh memang. Di saat ada ide, ada gagasan, ada uneg-uneg, tapi tangan ini kaku rasanya diajak untuk melaju menuturkan isi hati melalui tulisan. Tapi memang begitulah, Andai saja otak kita punya tombol “print” mungkin gampang saja mengeluarkan isi pikiran dan hati kita. Tinggal pencet tolmbol “print” lalu pilih subject file yang hendak dicetak, langsung keluar apa yang hendak kita tuang dalam tulisan. Sayangnya otak kita hanya bisa memerintah tangan untuk bergerak sesuai dengan apa yang diperintahkan. Tapi ya begitu, tidak semua yang kita mau bisa langsung dituangkan dalam bentuk tulisan. Lalu bagaimana caranya? Mudah saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mempunyai seorang teman yang minta diajari proses kreatif menulis. Lalu saya suruh dia untuk mengamati apa yang dia lihat, apa yang dia dengar, apa yang dia setuh, apa yang dia rasa, dan apa yang dia pikir. Sudah hampir dua jam dia “bersemedi” mengamati apa saja, namun goresan pena di atas kertas tak kunjung ia mulai. “Aku masih bingung tentang bagaimana caranya memulai tulisan,” ujarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“lha kamu pengen nulis yang bagaimana?” tanya saya. “aku pengen nulis kaya’ Andrea Hirata,” jawabnya polos. “ya udah… coba saja,” balas saya simple. Selang tiga puluh menit ia kembali lagi, “Nggak bisa… sulit!” teman saya mengadu. “Ya sudah… gaya penulisan yang kamu suka kaya’ siapa?” tanya saya padanya. “Aku suka gayanya Kang Abik,” dia menjawab sembari tersenyum. “ya udah…. coba tulis…” saya mencoba menyemangatinya lagi. Selang dua puluh menit ia kembali mengeluh “wahh…. Nggak bisa! Aku bingung nulisnya,” keluhnya. Huhh…. Saat itu saya berfikir konyol, “apa saya harus  bunuh diri dulu, biar kejadian ngendat itu bisa ditulisnya. Bisa jadi bahan inspirasinya.” Hwihihi… guyon saya dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran-pikiran tentang “ini nulisnya bagaimana?” - “bagaimana menulis ini?” - “apa harus begini?” keraguan dan pertanyaan-pertanyaan kecil di kepala kadang-kadang memang menghambat dan menyurutkan minat dan keinginan seseorang untuk menulis.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sampai saya ada ide untuk memancingnya lagi, “besok kamu kuliah kan? Dosennya siapa?” tanya saya santai. “iya kuliah… Besok jadwalnya Pak fulan, orangnya galak. Kalo pas mata kuliahnya, nggak ada orang berani tidur,” jawabnya panjang lebar. “Lha… sekarang bayangkan saja wajahnya, deskripsikan wajah beliau dan suasana kelas. Coba itu.” pancing saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke depan Komputer (untuk kesekian kalinya) dia terbayang wajah sang dosen. Ia mendeskripsikan wajahnya, terbayang kegalakannya, terbayang suasana kelasnya saat diajar dosen, dan tingkah laku teman-teman sekelas saat kuliah. Tanpa terasa tangan teman saya itu sudah mengetikan cerita-cerita tentang si dosen killer dan suasana kelas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ahh… selesai sudah, lega rasanya. Puas hati saya, akhirnya keluar juga yang ada di dalam dada,” ujar teman saya itu usai mengakhiri catatannya. Lalu saya bisikkan sepotong kalimat di telinganya. “menulis itu mudah, yang sulit adalah meniru gaya tulisan orang lain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* YAB, tinggal di kerikiltumpul@gmail.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4865655923568025786-9020313309642351654?l=yanuba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://yanuba.blogspot.com/2009/10/hal-yang-sulit-dalam-menulis.html</link><author>noreply@blogger.com (YAB)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-4865655923568025786.post-774948272855250040</guid><pubDate>Wed, 07 Oct 2009 14:30:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-10-07T07:39:28.407-07:00</atom:updated><title>Seorang Teman dan Prestasi Pertamanya</title><description>Namanya Indra Parito Utomo. Seperti pemuda pada umumnya, Indra adalah orang yang selalu berusaha menjaga fashion style-nya sedemikian rupa agar nampak keren dan fashionable, namun di mata teman-temannya, meski berdandan sekeren apapun ia tetap saja Parito yang unik. Pemuda dengan gaya seperti dia bisa kita temui di pinggiran simpang lima saat malam minggu, atau jika kita menonton televisi, kita bisa melihat orang-orang seperti Indra meloncat-loncat kegirangan di depan kamera reporter yang sedang meliput bencana banjir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kamus teman-temannya, Indra adalah orang dengan pribadi unik, yang kalau berbicara terdengar sangat ngoyo dan very fast. Nada bicaranya menekan, kadang juga gaya bicaranya seperti orang sedang ingin menahan tawa. Bila saya boleh mendeskripsikan, wajahnya mirip jendral Cheng dalam film Yoko jaman dulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun di sini kita tak hendak menceritakan detail-detail gambaran bentuk Indra bagiamana, karena yang hasil karya asli bentukan Allah jangan dibicarakan lagi. Sudah Sunnatullah! Sekarang mari kita membicarakan usaha dan buah prestasi pemuda yang pernah populer dengan nama Parito ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7 Oktober 2009, hari ini, saya dikejutkan dengan berita bahagia dari dirinya via SMS. Begini isi pesannya: “Ris, kamu kan tahu sendiri… bertahun-tahun selama di MUS.YQ aku nggak pernah dapat juara apa pun. Selama ikut lomba aku selalu saja kalah, tapi hari ini aku juara 1 lomba debat. Alhamdulillah…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabar tahadduts binni’mah itu kembali mengingatkan saya pada hari-hari di pesantren dulu. Selama 8 tahun mukim di pesantren, tiap tahunnya ia hampir selalu tampil sebagai “atlet” pidato mewakili residennya. setiap kali tampil, setiap kali pula ia menelan kekalahan. Namun ia bukanlah pribadi yang putus asa. Jiwa besarnya luar biasa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kamus saya, Indra adalah pemuda yang jika dalam lagunya D’Masiv disebut pantang menyerah. Karena saya yakin, bahwa pemuda macam dia selalu mengamini kata Leo Tolstoy yang dikutip Andrea Hirata dalam Sang Pemimpi-nya: “Tuhan tahu, tapi menunggu...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bukanlah orang yang suka menarik “pajak kebahagiaan” seorang teman yang sedang merayakan kemenangan. Jujur, saya turut bersuka cita atas ikhtiyar dan buah prestasinya itu. Isi pesan itu nampak polos, diungkap dengan tulus dan sejujur-jujurnya, yang menggambarkan bahwa selama ini ia tak pernah sekali pun menjuarai kompetisi dan sekarang ia ketiban rejeki juara 1. dilihat dari kata-katanya, ia nampak bersorak bahagia. Saya yakin, hatinya ini sedang terbang melanglang buana ke angkasa. “Hwahaha..... Aku juara satu....” begitulah suara selebrasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pesan itu sekaligus datang sebagai tamparan kecil bagi saya. “Lha terus kapan aku juara satu?” Hmm.... hati saya mengiri, karena yaono-yaene ikut lomba berkali-kali saya belum pernah sekali pun merasakan atsmosfer menjadi yang pemenang terbaik: juara 1! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin semua orang ingin menjadi yang terbaik, bahkan dalam kamus saya keinginan itu adalah sebuah usaha yang “wajib”. Seseorang harus berusaha menjadi The Best, hasilnya biar Allah yang menentukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan ini saya tulis untuk melecut semangat-semangat orang yang telah berkali-kali gagal agar tidak mudah menyerah, karena setiap kompetisi selalu mempunyai kesan tersendiri. Delapan tahun Indra mengikuti kompetisi, dan baru 2009 ini dikaruniai Allah prestasi pertama yang langsung juara 1 adalah bonus dari kesabaran yang tidak pantas dipandang sebelah mata. Kita hanya berkewajiban berusaha dan berdoa, baru kemudian tawakkal pada apa pun hasilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit mengutip pesan istri Bang Azrul dalam sinefilm PPT 3 di SCTV, “Sementara kita pilih bagaimana jalannya, biar nanti Allah yang mengatur bagaimana hasilnya.” Mari kita berkompetisi, fastabiqul khoirot! Semoga kita bisa mengambil hikmahnya. Amien… (^_^)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4865655923568025786-774948272855250040?l=yanuba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://yanuba.blogspot.com/2009/10/seorang-teman-dan-prestasi-pertamanya.html</link><author>noreply@blogger.com (YAB)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-4865655923568025786.post-769150138566646014</guid><pubDate>Thu, 01 Oct 2009 04:12:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-09-30T21:26:46.852-07:00</atom:updated><title>Harga Sebuah Kesetiaan</title><description>Membicarakan Idul Fitri sekarang memang sudah basi, tapi mari kita bicarakan idul fitri itu dengan kesetiaan, karena memang banyak hal yang membuat hati saya mengharu biru saat lebaran tiba. Misalnya teman saya asal Kudus, sesama lulusan TBS yang jadi ustadz plus penjaga madrasah di Jakarta yang terpaksa menunda pulang mudiknya karena harus menyelengarakan bermacam-macam kegiatan. Mulai dari memimpin anak-anak takbir keliling kampung di malam hari sampai menjadi ketua panitia zakat fitrah di kampung barunya, di Jakarta.&lt;br /&gt;Dia, teman saya itu berujar, “jika saya mudik. Saya harus menempuh perjalanan jauh, dan memakan biaya yang tidak sedikit pula. Biarlah saya di sini saja, saya setia dan menikmati profesi saya.” Mendengar itu hati saya komplain, “lalu dimana romantisme antara dirimu dengan ayah-ibumu?” tapi yang jelas saya begitu bersyukur, saya bisa berkumpul dengan sanak keluarga saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Terharu juga saat mengingat teman saya di Tasik yang menjadi korban gempa saat Ramadan kemarin. Rumahnya roboh dan dia kini menumpang di rumah saudaranya. Terharu pula saat mengingat tepat satu tahun lalu, dimana tetangga saya meninggal saat tanggal satu Syawal. Sungguh kejadian yang sangat ironi.  Keluarga tetangga saya itu harus bersedih di tengah kegembiraan orang lain merayakan Idul Fitri. Bisa dibayangkan, betapa bingung dan repotnya menjadi ahli mushibah. Mereka harus mengurusi hal-ihwal si mayit, mulai dari pemandian jenazah, pengafanan, pemakaman, hingga pengajian selama tujuh hari. Untung saja, ada banyak tetangga yang mempunyai solidaritas tinggi. Sebagai tetangga yang baik, kami tetap setia dengan berempati dan besimpati atas kematian ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tetapi baiklah. Di tengah sinema haru itu, marilah kita pungut sisa-sisa yang masih ada, soal-soal yang mengharukan hati kita, setidaknya hati kecil saya ini. Biar ia menjadi sedikit penentram dan menumbuhkan lagi kerindukan kita atas pentingnya kebersamaan dan nilai kesetiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Di antara sederet soal yang membuat haru itu adalah HP tua milik saya. Ia tampak terengah-engah dan ngos-ngosan menerima berondongan SMS yang terlalu deras untuk HP se-usianya. Sebentar-sebentar HP ini sudah berteriak bahwa ia tak kuat lagi menerima SMS. “no place for new message,” ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Satu-satu pesan masuk itu saya hapus agar bisa menerima SMS lagi. Bukan pekerjaan yang mudah memang, karena sambil membuang, aku sempatkan untuk membalasnya, dengan sentuhan pribadi, dengan pilihan diksi dan gaya bahasa yang aku rangkai sedemikian rupa. Bukan SMS generik, yang sekali bikin bisa dikirim untuk seluruh umat sejagat. Aku tahu pentingnya menyebut nama-nama, dan menempatakn mereka sebagai pribadi istimewa di hatiku. Aku sangat mengerti hebohnya perasaan pihak yang dihargai dengan cara yang tentu saja special.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Jika cuma berpikir tentang mode, tentang ketuaan dan tentang gaya, rasanya HP ini sudah layak untuk saya campakkan, karena bahkan keponakan saya pun turut mengejeknya. ”Itu HP kalo dipake melempar kepala kambing bisa klenger!,” katanya. Tetapi setiap hendak menjual atau menukartambah benda ini, entah kenapa saya selalu teringat logika poligami. Banyak suami yang menyakiti istri pertama dengan kawin lagi cuma karena ia telah peot dan tua. Padahal, istri pertama tersebut begitu besar jasanya. Dia (istri pertama) itulah yang telah setia menemaninya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Begitu pula dengan HP saya ini. HP ini telah menemani saya dalam Touring Education PNMHII di UNAIR Surabaya, HP ini juga yang membantu dan menemani saya di ASEAN University Student Conference, HP ini juga telah menghubungkan silaturrahim saya dengan banyak orang penting, mulai dari orang tua, saudara, guru, dosen, sahabat, bahkan pejabat. HP ini juga pernah sangat berjasa dalam menyelamatkan saya saat tersesat di Semarang tempo dulu. Sungguh! Saya telah menyematkan bintang jasa pada HP butut saya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Saat orang-orang dengan bangga menenteng BlackBerry, maka dengan sebongkah setia dan rendah hati saya cukup membawa HP strawberry, karena warna HP saya ini memang merah, yang melambangkan kobaran cinta yang membakar siapa pun yang mendekat! Harga romantisme dan jasa yang telah diberikan HP ini pada saya begitu banyak. saya tidak bisa membayangkan betapa pedih dan sakit hatinya HP saya ini jika saya melegonya dengan HP baru. Maka selama HP ini masih bisa bersuara dan kirim SMS, biarlah ia menjadi teman hidup saya. Saya tetap meyakini, Life’s love and loyality! Biarkah rasa sayang ini menjadi harga sebuah kesetiaan HP ini pada saya. Semoga HP ini tetap membawa berkah. Amien.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4865655923568025786-769150138566646014?l=yanuba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://yanuba.blogspot.com/2009/09/harga-sebuah-kesetiaan.html</link><author>noreply@blogger.com (YAB)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-4865655923568025786.post-3340110886019316994</guid><pubDate>Thu, 23 Apr 2009 15:37:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-04-23T08:44:45.145-07:00</atom:updated><title>Remaja Indonesia Rajin Membaca dan Menulis</title><description>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;u&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style=""&gt;           &lt;/span&gt;Salah satu kegiatan yang mustahil diabaikan remaja &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; saat ini adalah kegiatan membaca dan menulis. Oleh sebab itu, adalah hal yang sangat salah jika banyak orang tua dan guru-guru menilai anak remaja dan anak didiknya malas membaca dan menulis. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Adalah operator 3 yang nampaknya pantas mendapat sambutan luar biasa karena turut membawa pengaruh besar dalam menanamkan budaya membaca dan menulis dalam kegiatan sehari-hari remaja &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Apa pasal? Karena dewasa ini, aktifitas membaca dan menulis telah diaplikasi remaja dalam kegiatan membaca dan menulis SMS. &lt;i style=""&gt;bargaining&lt;/i&gt; fasilitas yang hampir semuanya &lt;i style=""&gt;free&lt;/i&gt; menjadi daya tarik tersendiri dalam memikat publik; mulai dari telepon super murah, internetan gratis, hingga SMS gratis ke all operator. Dan fasilitas &lt;i style=""&gt;free &lt;/i&gt;SMS itulah yang mendongkrak animo remaja &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; terhadap kegiatan membaca dan menulis, atau lebih tepatnya, &lt;i style=""&gt;bales-balesan&lt;/i&gt; SMS.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Kirim SMS memang telah menjadi semacam &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;gaya&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; hidup masyarakat kebanyakan saat ini. Dalam kurun waktu satu hari, kita bisa saja mengirim ratusan SMS untuk sekedar menanyakan keadaan ayah, ibu, saudara, dan teman-teman kita. Tapi “Hidup bukan hanya urusan SMS”, jargon tersebut nampaknya sangat mengena terhadap realita sebagian besar manusia modern yang terjebak dalam rutinitas “kerja” pijat-pijat tombol &lt;i style=""&gt;handpone&lt;/i&gt;. Secara tidak sadar, sedikit demi sedikit otak kita mulai mengerucut karena lama terjebak dengan pemikiran-pemikiran yang sempit. Saat kebanyakan orang mulai tidak bisa memaknai hidup dengan hati dan logika, maka selamanya kita akan terdampar dalam sebuah kehampaan. Akhirnya, kita pun menjadi manusia modern yang tak peka, tak berperasaan, dan terlalu sosialis, sehingga timbul kebiasaan “menyerang” satu handpone dengan ratusan SMS yang sama dalam kurun waktu yang hampir bersamaan.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style=""&gt;            &lt;/span&gt;Untuk semua pengguna 3, jangan gunakan fasilitas SMS gratis itu untuk mengganggu orang lain. Karena siapa tahu, orang-orang yang anda “serang” dengan SMS gratis itu sedang super sibuk, sedang ingin menghubungi koleganya, atau bisa juga &lt;i style=""&gt;handpone&lt;/i&gt;-nya orang yang kalian ganggu itu hampir sekarat. Tolong, tanamkanlah rasa peka anda terhadap sesama, bukalah perasaan anda dalam berempati terhadap orang yang anda ganggu itu, luangkan pula waktu anda untuk kegiatan yang lebih positif ketimbang hanya saling berbalas SMS yang tidak penting. Hargailah waktu kita, karena kita hanya punya hari ini, sebab hari kemarin telah terlewati dan hari esok masih menjadi misteri. “Hidup Bukan Hanya Urusan SMS” setidaknya jargon itu bisa kita terapkan mulai dari sekarang.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4865655923568025786-3340110886019316994?l=yanuba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://yanuba.blogspot.com/2009/04/remaja-indonesia-rajin-membaca-dan.html</link><author>noreply@blogger.com (YAB)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-4865655923568025786.post-7095104296735757910</guid><pubDate>Sun, 01 Mar 2009 15:57:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-03-01T09:07:58.401-08:00</atom:updated><title>Tahun Awal di UNWAHAS: IP-ku 3,90</title><description>&lt;p align="justify"&gt;             Ingin hasil perfect, atau setidaknya mendekati sempurna. Itulah harapanku atas berbagai mata kuliah di prodiku, Hubungan Internasional (FISIP UNWAHAS Semarang). Berbagai mata kuliah ingin aku lahap dengan serius. Mulai dari yang belum pernah aku kenal sebelumnya, seperti Pengantar Ilmu Politik, Pengantar Sosiologi, Pengantar Filsafat, dan Pengantar Ekonomi, hingga yang jamak aku dapatkan semasa sekolah dulu, seperti Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Pancasila, dan Pendidikan Agama. Padahal sebenarnya, untuk mengejar standart minimum beasiswa yang aku peroleh pun cukup dengan perolehan 3,00. Tapi aku tak mau berhenti pada nilai itu, kepalang basah! maka target IP-ku pun tidak main-main, yakni minimal 3,80.&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;            IP 3,80 jelas bukan jumlah yang sedikit, mengingat batas maksimum IP adalah 4,00, jadi target 3,80 adalah mendekati sempurna. Saat mematok target itu pun aku yakin, bahwa cara meraihnya pun tidak asal-asalan, mesti jungkir balik, dan yang pasti harus lebih ganas dalam melahap buku-buku tebal. Lebih tepatnya, aku harus bisa menjadi predator buku! Bukan hanya menjadi kutu buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Jumlah teman sekelasku pun tidak banyak, hanya sekitar 15 anak saja. (Maklum... secara umum, peminat FISIP memang tidak begitu banyak. Apalagi jurusan Hubungan Internasional yang di Jateng hanya ada di UNWAHAS saja. Itu jelas mempengaruhi nilai jual HI di wilayah Jateng.) lima belas anak itu, semuanya peraih beasiswa awal, dengan skill di atas rata-rata (tapi tidak semuanya dech) tapi tentu saja, kami semua tetap harus berpacu menjadi yang terbaik. Lebih-lebih aku, yang sudah masuk list beberapa dosen FISIP. (Malu dong kalau nggak bisa be the best)&lt;br /&gt;            Tapi cobaan menimpaku, sifat asliku muncul: malas belajar! Maklum... zaman sekolah dulu. Di madrasah dan pesantrenku dulu aku tidak begitu ngopeni pelajaran semacam ini. Pelajaran-pelajaran umum adalah hal yang jamak diabaikan olehku. Walhasil, waktu-waktuku di sini memang lebih banyak bermuara pada sisi lain dari mata kuliah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Awal-awal masuk dulu, aku diminta dosen dan beberapa senior untuk jadi panitia Kongres Akbar Pemilihan BEM. Terus terang, awalnya aku tidak mau, karena ini jelas akan mengurangi jatah waktu belajarku (hwehehe... gayaku sok rajin belajar) tapi ternyata, anak baru yang jadi panitia tidak cuma aku saja, ada beberapa yang jadi panitia (ternyata mereka daftar sendiri untuk jadi panitia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Setelah acara yang menurutku cuma mengobral omong kosong dan membuang-buang waktu dan uang itu selesai, aku kembali jadi YAB. Sssttt... diam-diam aku mulai merancang impian-impianku untuk UNWAHAS.  Program-program yang dulu pernah aku rencanakan sebelum benar-benar masuk UNWAHAS, aku rancang, dan tentu saja aku mengumpulkan massa untuk berepot-repot, menyibukkan diri dengan program-programku dalam “menghidupkan” nyawa emulasi kampus. Mengingat jargon zaman ini adalah, “kuasailah media” maka media internal kampus menjadi obyek utama kami. Akhirnya, jadilah buletin elwahid, yang alhamdulillah mendapat respon positif dari banyak kalangan universitas. Welehh... welehhh.... semoga aja langgeng. Amien. (namun elwahid sebenarnya saya harapkan akan berkembang menjadi majalah kampus. Doain aja yach...)&lt;br /&gt;            Namun, tidak sedikit pula yang merespon negatif, terutama kalangan-kalangan “mamang”, (maaf jika saya anggap demikian, karena sifat pesimis mereka yang acap mengganggu kinerja kami.) Dari sini saja pikiranku segera menerawang ke mana-mana. Ooo... kubu-kubu di sini ternyata mirip partai-partai di negaraku. Sama warnanya namun bisa pecah menjadi dua, tiga dan seterusnya. Sama niat baiknya, tetapi macam-macam cara menjalankannya. Lumayan jika cuma beda cara. Tetapi ada niat baik yang begitu banyaknya sementara kebaikannya sendiri tidak muncul-muncul juga. Hingga akhirnya media yang saya dirikan itu pun membuat beberap pihak kalng kabut dan akhirnya turut memperbarui media mereka. Konflik emulasi di kampusku itu sungguh mengisyaratkan tentang bermacam-macam keadaan yang ada di otakku. “OK... silahkan kalian main keras, saya tidak berminat. Kami ingin main cerdas saja! Hwehehe.....” kilahku saat itu. Karena kerja keras saat ini tidak lebih jitu daripada kerja cerdas.&lt;br /&gt;            Setelah sukses dengan program pertama, aku masih seperti dulu: mencintai sastra. Maka aku tegaskan untuk mengikuti sayembara cerpen se-Jateng, Jatim, dan DIY. Walhasil, hari-hariku pun sibuk dengan berfikir kreatif menyusun ide dalam cerpen. Hingga hasilnya, lahirlah cerpen berjudul: LiNGKARAN. (sayang... gagal jadi the best. hehehe...)&lt;br /&gt;           &lt;br /&gt;            Kesibukan itu jelas memakan waktuku untuk belajar, padahal saat itu aku sadar betul bahwa aku sedang UTS (Ujian Tengah Semester) tapi karena keburu “nafsu” cerpen. (yach... mungkin karena terlalu cinta, hehehe....) maka hari-hariku lebih bertumpu pada pergulatan metafora, diksi, dan gaya bahasa, daripada berpusing-pusing dengan buku-buku tebal kuliah. Ironisnya, aku lebih banyak keluar duit untuk buku-buku sastra daripada buku-buku Sosial Politik. (Gila kan??)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Terus tertang kesibukan-kesibukan yang tidak begitu penting itulah yang banyak bermuara pada hari-hariku di UNWAHAS, hingga masa UAS selesai, ada dua mata kuliah yang dulu aku tidak sempat mengumpulkan tugas paper, makalah. Hingga akhirnya aku curhat dengan salah satu senior yang memang akrab denganku, kebetulan tahun kemarin dia menjadi peraih IP terbaik. Muhammad Masykur Afandi, aku acap memanggilnya Bang Fandi. “Alhamdulillah... UAS kemarin aku bisa ngerjain dengan optimis sukses, tapi Bang.... aku belum buat tugas membuat makalah Pancasila dan Agama.... kira-kira gimana ya??” keluhku saat itu. Dan aku masih ingat betul saat dia menasehatiku, “Ingin hasil yang terbaik kok tidak melakukan yang terbaik.” Saat itu aku langsung sadar diri, target 3,80 mungkin memang harus dibiarkan melayang saat ini. Aku merasa sangat berdosa dengan diriku, dosenku, orang tuaku. (kesepakatan dengan sahabat-sahabatku di universitas lain pun jadi kebayang.... “yang IP-nya sedikit ngasi hadiah ama yang IP-nya tinggi.” Ughhh.... berapa rupiah yang mesti aku keluarkan untuk memberi hadiah-hadiah pada mereka? Huhuhu...)&lt;br /&gt;            Namun aku tidak ingin larut dalam penyesalan, toh, aku memang masih asing dengan berbagai mata kuliah itu, (terus terang materi-materi FISIP, terutama HI, bikin aku cepet BeTe. yach.. masih asing sich... secara, aku kan dulu jebolan IPA). Namun semua itu hilang saat aku dikabari bang Fandi, bahwa dia telah mengecek, IP-ku lebih dari harapan, 3,90. Subhanallah.... aku langsung mencak-mencak, jengkulitan. Hwohoho... (Ya Allah... saya janji dech, semester depan saya akan berjuang lebih sungguh-sungguh dalam belajar dan kuliah. Saya tidak ingin mengecewakan impian saya, orang tua, dan dosen saya.) saya jadi teringat dengan pesan salah salah dosen saya, “Apa yang kamu pikirkan, itulah yang akan terjadi.”&lt;br /&gt;            Syukron ‘ala a’tho’ika, ya Allah.... Engkau selalu memberi lebih dari apa yang aku harap.Wallahu A’lam. Terakhir dan ini terpenting bagiku, mata kuliah yang sebenarnya asing ini mengajariku meyakini satu hal: “Jika segala sesuatu dikerjakan sesuai porsinya, tak peduli betatapun lambat kita berusaha, selama kita berfikir kita bisa, maka kita akan menuai hasil maksimal juga! If U think U can, U can. OK”&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4865655923568025786-7095104296735757910?l=yanuba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://yanuba.blogspot.com/2009/03/tahun-awal-di-unwahas-ip-ku-390.html</link><author>noreply@blogger.com (YAB)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-4865655923568025786.post-6200684659398196966</guid><pubDate>Thu, 06 Nov 2008 15:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-11-06T07:11:28.149-08:00</atom:updated><title>ada mendung di hatiku</title><description>&lt;p&gt;Ku nanti hujan di pucuk musim rindudan ternyata tibalah saatnya, Novemberkusaatnya menuai lembaran-lembaran airmenebar jejak di atas tanah&lt;br /&gt;Rintiknya merdu…Semarang yang panas menjadi dingin.&lt;br /&gt;Basah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itulah datang rintik-rintik&lt;br /&gt;Menemani anak-anak berpesta air&lt;br /&gt;Sorak sorai…&lt;br /&gt;Inilah saatnya kita membajak ceritatentang atap-atap yang berdenting&lt;br /&gt;tentang senandung bambu di atas tanah basah.&lt;br /&gt;tapi kini..&lt;br /&gt;masih kunanti hujan kata di pucuk musim ceritabersama kesibukan yang meruntuhkan tanggul-tanggul idedan bibit-bibit imajinasiku masih saja mandul.&lt;br /&gt;Aku kehilangan banyak kata!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesibukanku mulai deras.&lt;br /&gt;Membanjiri waktu khayalku&lt;br /&gt;Dan seseorang di ujung sana&lt;br /&gt;Memasungku dalam buaian kata&lt;br /&gt;Aku dihujam rintik-rintik kata yang bisa membuatku angkuh&lt;br /&gt;Ingatkan aku…&lt;br /&gt;Aku masih bukan siapa-siapa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;November telah dimulai dari kemarin&lt;br /&gt;Tapi ladang karyaku masih gundul&lt;br /&gt;Dan waktu bertanam kata nampaknya semakin mahal&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;                            PP. Wahid Hasyim Sampangan - Semarang, 06 November 2008&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4865655923568025786-6200684659398196966?l=yanuba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://yanuba.blogspot.com/2008/11/ada-mendung-di-hatiku.html</link><author>noreply@blogger.com (YAB)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-4865655923568025786.post-4421547520160793939</guid><pubDate>Wed, 05 Nov 2008 02:07:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-11-04T18:10:27.267-08:00</atom:updated><title>Mari Mencari Cara untuk Turun</title><description>Sejarah kita menyodorkan sketsa rumit bahwa proses untuk naik menjadi presiden dan turun dari tahta Istana Merdeka ternyata bisa menjadi dua hal yang sama-sama serunya. Para pemimpin di negeri ini selalu melewati cara yang sulit, bahkan kadang menyakitkan, ketika harus turun dari kursi yang didudukinya manakala datang akhir masa jabatannya. Sumber rasa sakit itu sebenarnya datang dari satu sebab saja, yaitu cara turun yang tidak lazim. Cara yang wajar bukannya kita semua tidak tahu, tapi entah karena apa, para pemimpin itu selalu saja tergiur dengan cara-cara keliru yang dirancangnya sendiri.&lt;br /&gt;Kekeliruan mereka tentu bisa bertingkat-tingkat kelasnya. Dari yang sekadar tak puas jika hanya menjabat sekali, lalu ingin menjabat untuk yang kedua, sok merasa rakyat masih menghendaki ia memimpin lalu dengan segala cara ingin memperpanjang masa jabatannya, hingga tingkat yang paling rimba: kemauan untuk berkuasa selamanya. Akhirnya, proses turun yang mestinya menjadi laku alamiah dan biasa-biasa saja justru mengakibatkan babak belur, luka-luka, dan rasa sakit belaka.&lt;br /&gt;Hikmah dari cara turun yang kacau itu ialah segagah dan sebesar apa pun pemimpin kita, tak peduli berapa banyak bintang jasa yang dikumpulkannya, betapa memukau karisma kebapakannya, mereka ternyata selalu seperti para pendaki gunung yang gagah menaklukkan puncak, namun kebingungan ketika harus mencari jalan untuk kembali turun ketika waktunya tiba. Karena itu, yang akhirnya terjadi adalah bingung dan nervous yang amat sangat, juga suasana yang mendebarkan di mana-mana. Kronologi selanjutnya, suhu politik naik, ekonomi kacau, demo di mana-mana, pejabat tunggang langgang, adegan saling dorong, jatuh, dan akhirnya rasa sakit yang tak terhindarkan.&lt;br /&gt;Pemimpin yang turun menapaki anak tangga satu demi satu dengan wajah tersenyum sambil dipegangi sebelah tangannya seperti anjuran filsafat mikul dhuwur adalah impian semua pemimpin kita. Pak Harto bahkan pernah berkali-kali menyampaikan, bahwa mengisi masa pensiun sambil madheg pandita ratu adalah impian mewah terakhirnya. Tapi, ternyata tetangga dekat kita, Singapura-lah yang sukses mempraktikkannya. Lee Kwan Yew yang dua tahun lebih muda dibanding Pak Harto lengser keprabon pada 1990 setelah menjabat sejak 1965. Setelah kursi perdana menteri ditempati Goh Chok Tong, Lee didudukkan di kursi goyang sebagai menteri Kanan di jajaran kementerian Goh.&lt;br /&gt;Dibandingkan Singapura, Indonesia punya jam terbang lebih tinggi soal gonta-ganti pemimpin. Telah enam kali kita punya pengalaman ganti presiden sejak republik ini berdiri. Tapi, mulai presiden pertama Soekarno, kemudian Soeharto, Habibie, Gus Dur, hingga Megawati, semua lengser dengan cara yang tidak happy.&lt;br /&gt;"Inilah saatnya menutup satu babak dalam sejarah Singapura dan memulai babak baru," kata Goh Chok Tong dalam pidato serah terima jabatan kepada Lee Hsien Loong, perdana menteri yang sekarang. Ada kesan rapi ketika era lama berakhir dan era baru mengganti. Jauh berbeda dengan kita, cobalah simak bagaimana Soekarno jatuh lalu digantikan Soeharto, dan Soeharto pun akhirnya diturunkan paksa. Habibie jatuh, lalu digantikan Gus Dur yang tak lama kemudian digusur. Sebagai presiden dengan bakat humor yang nyaris tiada tanding, proses turunnya Gus Dur dari kursi istana ternyata tak sedikit pun mampu memancing tawa kita seperti humor-humor Gus Dur biasanya. Kita semua ingat, pada saat-saat terakhir kejatuhan Gus Dur, televisi menyiarkan tayangan langsung dari istana yang sedang panas dan Gus Dur yang selama rezim Ode Baru selalu mampu menghibur kita semua dituntun ke sana-kemari hanya dengan celana kolor.&lt;br /&gt;Kita memang tidak tahu secara detail bagaimana Soekarno turun dari kursi kepresidenan kala itu karena belum datang era televisi yang bisa menyiarkan secara langsung detik-detik presiden dijatuhkan. Tapi, dari berbagai referensi dan cerita mulut berbagai versi, presiden pertama kita, agaknya, memang jatuh tersungkur secara menyedihkan. Soekarno tak sekadar terpeleset dari anak tangga kekuasaannya yang tinggi, tapi ada semacam proses mendorong yang begitu kasarnya.&lt;br /&gt;SBY memang baru akan mengakhiri masa jabatannya pada 2009. Namun, proses saling dorong antara kubu Mega dan SBY, tampaknya, telah dimulai sejak awal tahun kemarin, sekadar untuk menegaskan bahwa "duel" memang belum berakhir. "Pemerintahan saat ini, saya lihat seperti penari poco-poco. Maju satu langkah, mundur satu langkah. Maju dua langkah, mundur dua langkah. Kadang malah hanya jalan di tempat," kata Megawati dalam pidato politik Ulang Tahun Ke-35 PDIP di GOR Sriwijaya Palembang tempo hari (jawa pos 31/1).&lt;br /&gt;Sindiran itu langsung dibalas kubu SBY. "Kalau kebijakan SBY tentang pemberantasan kemiskinan ibarat penari poco-poco, Megawati ibarat penari undur-undur. Tidak pernah maju, tetapi mundur terus," kata ketua Fraksi Partai Demokrat DPR. (jawa pos 2/2).&lt;br /&gt;Yang menjadi misteri dari babak ending ini adalah bagaimana detik-detik Presiden SBY dalam mengakhiri masa baktinya. Tapi sepertinya menurunkan presiden dari singgasananya agaknya lebih keren dan mengasyikan dari pada berusaha menurunkan harga BBM yang tidak sesegera diturunkan Presiden SBY. Lepas dari warming up dorong-mendorong antara kubu Mega dan SBY. Bagaimana dengan serah terima jabatan rektor di UNWAHAS? Sudahkah madheg pandita ratu? Agaknya ada yang kesulitan untuk turun dari “singgasana sementara” di rektorat. Sebagai warga NU yang selalu menjunjung ta’awun. Mari kita bantu beliau turun dari kursi empuk yang telah membawa beliau tidur terlelap dalam jabatan sementara. Wallahu a’lam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4865655923568025786-4421547520160793939?l=yanuba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://yanuba.blogspot.com/2008/11/mari-mencari-cara-untuk-turun.html</link><author>noreply@blogger.com (YAB)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-4865655923568025786.post-2857520259343916215</guid><pubDate>Sun, 21 Sep 2008 08:08:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-09-21T01:14:00.924-07:00</atom:updated><title>kutanya....</title><description>Tahukan kau tahu apa itu cinta,&lt;br /&gt;jika kukutanyakan itu padamu&lt;br /&gt;kan kau jawab apa??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                          Semarang, 19 September 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4865655923568025786-2857520259343916215?l=yanuba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://yanuba.blogspot.com/2008/09/kutanya.html</link><author>noreply@blogger.com (YAB)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-4865655923568025786.post-4025843358511649822</guid><pubDate>Sun, 21 Sep 2008 07:10:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-09-21T01:04:45.306-07:00</atom:updated><title>Kubaca, dan terus Kubaca</title><description>cinta...&lt;br /&gt;adalah kamus besar kehidupan...&lt;br /&gt;berisi ragam kata&lt;br /&gt;       bermakna ragam kata dalam isi yang beda&lt;br /&gt;bersusun huruf kehidupan&lt;br /&gt;       beragam kisah ada di dalamnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tersimpan banyak nama di dalamnya&lt;br /&gt;dalam kasus sama, mau pun yang lainnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nur Baiti Amalina adalah sebuah nama&lt;br /&gt;tersusun dalam huruf-huruf cinta,&lt;br /&gt;                                                    di hatiku,&lt;br /&gt;                                                        hidupku,&lt;br /&gt;                                                           dan kamus kehidupanku.&lt;br /&gt;NBA adalah cahaya&lt;br /&gt;saat huruf-huruf yang lain tak terbaca&lt;br /&gt;ia hadir membawa ragam kisah yang berbeda&lt;br /&gt;           tertuang cinta yang selalu special untuknya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jika kulukis kata-kataku dalam kanvas hati&lt;br /&gt;kan timbul cahaya-cahaya yang menelan hitam dalam kertas gelap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan... jika bukan karena-Mu,&lt;br /&gt;roboh jiwa mendengar mereka&lt;br /&gt;namun Kau beri aku NBA, yang datang saat yang lain biasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan... jika bukan karena-Mu,&lt;br /&gt;hancur hati putus asa&lt;br /&gt;tapi Kau tuliskan aku cinta, dan aku mengeja....&lt;br /&gt;                                                                  N B A....&lt;br /&gt;                                                                  eN Be A...&lt;br /&gt;                                                                  dan eN Be A...&lt;br /&gt;lalu kubaca perlahan dalam diam,&lt;br /&gt;saat yang lain datang bersuara&lt;br /&gt;kubaca, dan terus kubaca.... dan muncullah Nur Baiti Amalina&lt;br /&gt;dalam asma-Mu, Tuhan....&lt;br /&gt;kutemukan cinta dalam kamus besar kehidupan.&lt;br /&gt;Kubaca, dan terus kubaca...&lt;br /&gt;Nur Baiti Amalina, cukup....  itu saja...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                                              Jepara, 21 September 2008&lt;br /&gt;                                                                  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;saat yang lain mempertanyankan cinta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;                                                                  NBA bukan hanya seorang kekasih hatiku, tapi lebih dari itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;                                                                  dia adalah inspirasi dan sumber semangat bagiku. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;                                                                  Aku cinta dia, cukup dia saja. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;                                                                  Jangan Kau tambah yang lain,  Tuhan....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;                                                                   ijinkan aku memilikinya, karena-Mu&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4865655923568025786-4025843358511649822?l=yanuba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://yanuba.blogspot.com/2008/09/kubaca-dan-terus-kubaca.html</link><author>noreply@blogger.com (YAB)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-4865655923568025786.post-3291722659767490285</guid><pubDate>Mon, 28 Jul 2008 06:13:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-07-27T23:18:41.220-07:00</atom:updated><title>ini bukan sajak saya</title><description>&lt;div class="post-body entry-content"&gt; Aku kagum padanya&lt;br /&gt;Setiap kali aku menemuinya,&lt;br /&gt;Aku merasa memandang surga.&lt;br /&gt;Tak pernah kutemukan yang seperti dia.&lt;br /&gt;Karya Tuhan yang paling sempurna.&lt;br /&gt;Dibawah telapak kakinya aku rela berbaring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya ingin kau sayangku,&lt;br /&gt;Duduk disampingku,&lt;br /&gt;Sambil berbicara tentang tugas kita,&lt;br /&gt;Masalah kita,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya ingin kau gadisku,&lt;br /&gt;Bulan di malamku,&lt;br /&gt;Mentari di pagiku.&lt;br /&gt;Aku tak pernah merasa ada yang cela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun aku tak pernah berkata mesra,&lt;br /&gt;Tak pernah merayu menggoda,&lt;br /&gt;Tapi aku tak pernah rela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya ingin kau hatiku&lt;br /&gt;Menemanimu ke ujung dunia,&lt;br /&gt;Melewati batas nalar menuju dunia yg paradoks.&lt;br /&gt;Karena,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan ini lain Tuhan,&lt;br /&gt;Apa yang Kau lakukan padanya?&lt;br /&gt;Aku tahu aku tidak pantas untuknya,&lt;br /&gt;Tapi aku belajar,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi aku memutuskan untuk menjaga hati.&lt;br /&gt;Sejak pertama berjumpa dengan nya, berkenalan dengan nya,&lt;br /&gt;Aku sudah tahu Tuhan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku selalu kagum padanya&lt;br /&gt;Aku tidak pantas menerima semuanya,&lt;br /&gt;Aku tidak akan pernah bertemu dengan nya lagi.&lt;br /&gt;Aku hanya mau hidup sendiri..&lt;br /&gt;Maafkan aku perempuan,&lt;br /&gt;Maafkan aku Tuhan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15 Maret 2008&lt;br /&gt;Pk. 22.55  &lt;/div&gt;                                                       &lt;span class="post-author vcard"&gt;&lt;span class="fn"&gt;Tyson&lt;/span&gt; &lt;/span&gt; &lt;span class="post-timestamp"&gt; di &lt;a class="timestamp-link" href="http://tyson-revolusi-indonesia.blogspot.com/2008/03/puisi-cinta-kepada-kasih-tak-sampai.html" rel="bookmark" title="permanent link"&gt;&lt;abbr class="published" title="2008-03-25T02:52:00-07:00"&gt;02:52&lt;/abbr&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;puisi di atas memang bukan sajak saya. (karena saya tak berani membuat sajak itu) tapi setidaknya, barisan kata itu bisa mewakili kata-kata yang dulu sempat melilit urat-urat kehidupan. menusuk-nusuk hati!&lt;/span&gt; melahirkan sakit yang menjalar... semoga lekas sembuh. Amien... (kerikil tumpul)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4865655923568025786-3291722659767490285?l=yanuba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://yanuba.blogspot.com/2008/07/ini-bukan-sajak-saya.html</link><author>noreply@blogger.com (YAB)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-4865655923568025786.post-3972679837575626492</guid><pubDate>Mon, 30 Jun 2008 02:33:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-06-29T19:34:43.606-07:00</atom:updated><title>Inilah Dunia Remaja Kita</title><description>&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="PT-BR"&gt;Coretan saya kali ini mungkin bisa menjadi deskripsi kasar tentang remaja Indonesia saat ini. Saya comot dari beberapa data di dunia maya dan sedikit interview dengan beberapa teman dan saudara. Rupanya, lontaran tema tentang Gaya Anak Muda sekarang ini mendapat respons yang luar biasa. Telah di-view oleh para maniak internet tak kurang dari 18.000 kali dan mendapat tanggapan begitu meriah di forum Life Style.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="PT-BR"&gt;Setelah saya susun sedemikian rupa, inilah kira-kira bentuk remaja Indonesia sekarang. Bagi bapak-bapak atau ibu-ibu yang (mungkin) membaca tulisan ini, kemungkinan besar akan merasa asing dengan istilah-istilah berikut, tapi beliau-beliau tentu bisa bertanya dengan anaknya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="PT-BR"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="PT-BR"&gt;Remaja cowok: gaya rambut Mohawk, Emo, Harajuku, Britpop. Rambut cewek: di-rebounding, hitam, dan lurus banget, tapi ada juga yang disemir kaya' anjing bule. Setelan indies, rock and roll, atau bergaya sok kejepang-jepangan. Pakaian (terutama cewek), menyukai warna yang &lt;i&gt;nabrak-nabrak&lt;/i&gt;. Baju kuning, cardigan ungu, celana biru, sepatu pink, tas hijau, dst. Sedangkan kaum cowok memakai t-shirt khas distro, atau jika lebih berduit pake Polo shirt dengan kerah yang dibiarkan mengembang, dan milih celana pencil. Pakai jam tangan Levi's dengan model kotak-kotak (tapi kebanyakan kw1).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="PT-BR"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="PT-BR"&gt;Dragon Ball, Doraemon, Kungfu Boy, Pokemon, Legenda Naga? &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt;Udah lewat… Sekarang sudah bukan jamannya!.&lt;i&gt; &lt;/i&gt;Sekarang era-nya Naruto, Bleach, Death Note, Avatar. Yang cewek punya kegemaran nonton drama Korea. Kalau pegang remote TV yang di-klik saluran musik melulu. Kata mereka "gue bangetz…"&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt;Kalau makan &lt;i&gt;milih&lt;/i&gt; yang nampak mewah tapi (cukup) murah; alias yang ada paket hemat-nya. Rp 5000,-an. Biasanya Remaja-remaja suka makan rombongan. Tapi, saat bayar, antri! Alias Yar-We bayar dewe-dewe. Yang ngiutng sampai BeTe, kenapa nggak sekalian satu saja yang bayar? Kalau di cafe, beli kopinya satu gelas, tapi yang nongkrong separo kelas, dan betah ber-jam-jam. Di bus, di angkot, atau lagi jalan, di sekolah, atau di kampus, mp3, mp4 atau iPod tak pernah ketinggalan, earphone selalu setia menemani telinga.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt;Sekarang zamannya internet! Mau tahu apa aja cari info di warnet. Sedangkan yang punya laptop dan kebetulan di daerahnya ada Hotspot area, cari wi-fi gratisan. Pas lagi kesepian, nggak ada tempat tongkrongan, malu dong… kalau Cuma bengong. So, agresi dimulai dengan &lt;i&gt;hunting&lt;/i&gt; tempat, nyalain laptop, terus buka internet. Padahal, yang dibuka website yang tidak begitu penting dan yang dibuka gambar-gambar nggak jelas. Kalau punya friendster, myspace, facebook, yang penting temannya banyak! Nggak peduli, mau kenal kek, kagak kek, di-add saja terus… yang penting temannya banyak. Itu aja!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt;Suka banget ke mall. Cowok-cowoknya biasa nangkring di pinggir-pinggir eskalator sambil lihat bawah, atau di bagian kaca depan sambil liat luar. Sedangkan yang cewek sibuk nyari pernak-pernik. Remaja cewek kalau jalan ke mall suka bawa tas yang dicangklong di lengan, mirip tas ibu-ibu yang mau ke resepsi pernikahan, mungkin biar terlihat sudah dewasa. Sudah pada mulai kenal &lt;i&gt;clubbing&lt;/i&gt;, rajin mencari &lt;i&gt;invitation&lt;/i&gt; agar bisa &lt;i&gt;clubbing&lt;/i&gt; gratis. Banyak yang merokok, tapi (sepertinya) nggak ditarik. Cuma isep-buang, isep-buang, yach... mungkin agar nampak keren. (Ssst… remaja sekarang sering saling main tipu dengan penampilan. dilihat dari belakang sepertinya body malam Minggu. Tapi, begitu dilihat dari depan, masyaAllah… tampangnya, malam Jumat Kliwon!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt;Bikin MSN/YM biar dianggap gaul, myspace, LC (Live Connector), facebook, dan situs pertemanan lainnya. Kalau dulu, cowok baru kenalan sama cewek nanyanya nomor HP doang, sekarang ditambah lagi, "friendster lu apa?" Bacaannya buku-buku teenlit, Cosmo Girl, dll. Kalau lagi ngomong, kadang pakai lirik lagu, tapi sebenarnya sering nggak nyambung!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt;Cewek-cewek kalau lagi ngobrol di angkot, dalam jumlah banyak, biasanya ngomong sedikit langsung ketawa bareng sampai mulutnya terbuka lebar. Kayak mau robek, gitu. Dikira angkot moyangnya kaleee, sampai ketawanya ngalahin klakson truk gandeng, huahahaha… huuuahahaha…huuuuahahahaaa..!!! Padahal yang diobrolin, cuma seorang cowok sampe ke temen-temen tuch cowok. Kadang-kadang juga ngobrolin brondong!. Yang jelas hal-hal yang ngga penting kayak: "Eh yang namanya itu siapa? Si fulan ini gimana? orangnya ganteng nggak? Pake motor apa?"&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt;Yang punya motor. Motornya &lt;i&gt;dipreteli,&lt;/i&gt; knalpotnya diganti yang grong! Seliweran terus... kaya' tukang ojek. Yang pake mobil (baca: &lt;i&gt;nglajo&lt;/i&gt;)&lt;i&gt; &lt;/i&gt;juga nggak jauh gila. Biasanya milih bus yang musiknya "ajeb-ajeb" plus sound system yang super kenceng. Kalau bus langganan nggak ada, rela nunggu sampe sore. Nuggu bus dengan spesifikasi yang nggak jauh beda!&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt;Kalau lagi sendirian di tempat ramai, kerjaannya &lt;i&gt;ngutak-ngatik&lt;/i&gt; HP, biar keliatan seperti lagi sibuk SMS-an, padahal sedang kesepian… remaja sekarang rata-rata paham banget dengan berbagai fitur jenis HP. Dan yang paling akut. Hobi banget sama yang namanya SMS. Dan sepertinya hal ini memang sudah menjadi kebutuhan hidup. Kalau lagi ngetik, suka buat kalimat yang aneh-aneh. Misal: sayaH seDang galauw menikmati sepi seNdirih… Ah, sangatZ gelisah… HuHUhU... dan yang paling angker dan sering bikin pusing adalah gaya tulisan dengan paduan huruf dan angka, misal: c1nt4, m3n991la, Lo3, 5zih, b4r3n9 Hi, hR Ni Lo3 M0 jLn2x B4rEn9 9W g4..? Kq MbaL4s sMs-nyh LamA b9t C..? (yang ini saya sebut gaya erwete begete alias ruwet banget. saya heran, ngetiknya pasti lamaaaa banget….) dan di kota-kota besar biasanya lebih parah lagi. Mereka biasanya mengubah nama teman-temannya dengan cara ditambahi "ski". Contoh: Roy jadi Roski, Devi jadi Devsky, Taufik jadi Taufski, Fery jadi Ferski, dan Aris jadi Arisky. Yeah..... emang ikut &lt;i&gt;mbanca'i&lt;/i&gt; po?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt;Sebentar-sebentar bilang: gue gitulohh…, gile lu…, cape dyeee…, keciaannn de luuuu…, bo, dan seterusnya. Misal: aduh bo, tau nggak sih tadi dia ngeliatin gue? Cewek-cewek sering banget bilang: ya iyalah…, dan, jangan gila dong…, sambil lidahnya melet-melet (mirip orang lagi kecekik lehernya!).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt;Menggilai pop art dan desain-desain rumit ala distro. Ada juga yang suka desain yang super simple, yang gambarnya cuma dikit. Banyak yang punya baju/kaus gambar Marylin Monroe dan cover album Velvet Underground yang bergambar pisang.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt;Banyak yang punya dua handphone, terutama cewek. Yang satu buat SMS, musik, foto-foto, dan satunya lagi buat menelepon murah. Kalau lagi foto-foto, posenya, cewek: miring kira-kira 45 derajat, tapi yang sekarang lagi nge-tren adalah 90 CW ato 90 CCW dan dijepretn dengan mengambil angle atas dengan tampang sok cute dan gaya yang lagi in saat ini adalah ambil &lt;i&gt;angel&lt;/i&gt; dari samping, yang cewek kadang-kadang bibir dimonyongin mirip Cinta Laura. Setelah itu diedit pakai Photoshop (istilah mereka, sotosop). Tujuannya, biar wajah yang jerawatan dibersihin, pokoknya supaya kandungan jelek-jelek di wajahnya nggak kelihatan. Pose yang cowok: ngangkat dagu, lihat ke arah yang terang cahayanya. Kalau enggak, nunduk ke bawah, tapi mata lihat ke depan sambil pamer rambut. biasanya juga pamer &lt;i&gt;piercing&lt;/i&gt; (tindikan) dan kadang juga pamer godek, pasang tampang sok dingin, dan juga, suka foto sambil lidahnya melet, pipi digembungin, lalu matanya melotot. Kadang-kadang saya bingung, ini jelek dibuat-buat atau jelek orisinal? Saya menyebut hal ini adalah upaya penipuan visual diam-diam…&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin: 0cm 0cm 0.0001pt; text-align: justify; text-indent: 36pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;" lang="SV"&gt;Orang tua mungkin hanya bisa geleng-geleng kepala, dan memang cenderung gampang pusing kepala. Pusing mikir tahu-tempe, lah… Berantem soal pilkada, lah… Pusing mikir ongkos sekolah anaknya, lah… Pusing mikir biaya masuk kuliah anaknya, lah... dan Pusing memikirkan masa depan anak-anaknya, dan seterusnya. Sedangkan remaja selalu haus kebahagiaan dengan cara mereka sendiri. Lalu kapan anak muda Indonesia haus prestasi? Turut memikirkan beban orang tua? Turut memikirkan masa depan bangsa? Atau setidaknya, cukup memikirkan masa depan dirinya. Punya hobi mengaji, membaca, mendengar dan tilawah al-Qur'an. Hmmm... sudahlah, tak perlu bertanya, berburuk sangka, dan saling tuding. Sekarang mari kita rubah gaya hidup kita. Semoga menjadi lebih baik. &lt;i&gt;WallahuA'lam&lt;span&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span&gt;(&lt;a href="mailto:kerikiltumpul@gmail.com" target="_blank"&gt;kerikiltumpul@gmail.com&lt;/a&gt;)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4865655923568025786-3972679837575626492?l=yanuba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://yanuba.blogspot.com/2008/06/inilah-dunia-remaja-kita.html</link><author>noreply@blogger.com (YAB)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-4865655923568025786.post-755933247083195550</guid><pubDate>Wed, 04 Jun 2008 06:31:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-06-03T23:57:15.356-07:00</atom:updated><title>Teguhkan Dirinya, Tuhan...</title><description>&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="en-US"&gt;Gerimis itu datang lagi&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="en-US"&gt;Dingin, dan tentu saja semakin sering…&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="en-US"&gt;Merintik-rintik di hatiku&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;Membahana dalam isak&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="en-US"&gt;Membanjir di kelopak&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="en-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="en-US"&gt;Cinta...&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="en-US"&gt;Sebuah jalan mencelakainya&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="en-US"&gt;Ia terjatuh…. tersungkur&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="en-US"&gt;Terseret sepanjang nafasnya&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="en-US"&gt;dibasuh darah di wajah&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="en-US"&gt;Banyak luka memar merias cantiknya&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="en-US"&gt;Dan cerita itu hadir di hadapanku&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="en-US"&gt;berputar-putar di kepalaku&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="en-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;Gemuruh badai mengoyak batin&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="en-US"&gt;Sambar petir menerjang imanku&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="en-US"&gt;Tapi ku tak ingin berkurang syukur&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;Telah Engkau selamatkan cintaku&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="en-US"&gt;Syukurku Tuhan…&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="en-US"&gt;Aku bahagia dengan keselamatannya&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="en-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="en-US"&gt;Ya Allah... teguhkan hatinya&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;B&lt;/span&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;agaimana pun Ia tetap kucinta &lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="en-US"&gt;apa pun keadaannya,&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;Betapa pun kondisinya,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;"&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;Karena &lt;/span&gt;&lt;span lang="en-US"&gt;aku mencintainya…&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="en-US"&gt;Nur Baiti Amalina, itu saja.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="en-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 2.54cm; text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm;" lang="en-US"&gt; Kudus, 03 Juni 2008&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-left: 2.54cm; text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm; font-style: italic;" lang="en-US"&gt; Tak ada yang lebih membahagiakan saat ini&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-left: 2.54cm; text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm;" lang="en-US"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;dari keselamatan Nur Baiti Amalina.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-left: 2.54cm; text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm;" lang="en-US"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ya Allah... teguhkan hati semua orang di sekelilingnya,&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-left: 2.54cm; text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm;" lang="en-US"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;hatinya, dan hatiku untuk tetap mensyukuri kemurahan-Mu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="margin-bottom: 0cm;" lang="en-US"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4865655923568025786-755933247083195550?l=yanuba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://yanuba.blogspot.com/2008/06/gerimis-di-musim-cinta.html</link><author>noreply@blogger.com (YAB)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-4865655923568025786.post-3940507187037096695</guid><pubDate>Thu, 08 May 2008 05:18:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-05-07T22:24:34.088-07:00</atom:updated><title>Sajak Hujan</title><description>&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Geneva;" lang="EN-GB"&gt;Kutulis sajak ini kala malam menangis,&lt;br /&gt;saat ratusan mata di sana mendung gerimis&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Geneva;" lang="EN-GB"&gt;Sebenarnya…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;Sering kali aku dan mereka berkata, &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;ketika orang memuji milikku dan milik mereka,&lt;br /&gt;bahwa sesungguhnya ini hanya titipan-Nya,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Geneva;" lang="EN-GB"&gt;harta ini hanya titipan-Nya,&lt;br /&gt;keluarga ini hanya titipan-Nya,&lt;br /&gt;dan semua ini memang hanya titipan-Nya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Geneva;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;          &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Geneva;" lang="EN-GB"&gt;Kadang aku berpikir…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Adakah aku dan mereka punya hak atas sesuatu yang bukan milik kami?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;namun… beberapa gumpal hati mereka terasa berat,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;nampak isak tangis di sekeliling imajinasiku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;ketika titipan itu diminta kembali oleh-Mu, Tuhan…&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Geneva;" lang="EN-GB"&gt;&lt;br /&gt;Ketika diminta kembali, kami sebut itu musibah&lt;br /&gt;kusebut itu ujian, tes kesabaran&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;kusebut dengan istilah apa saja untuk melukiskan bahwa itu derita&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Meraba-raba ikhlas hati&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;atas kehendak-Nya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Geneva;" lang="EN-GB"&gt;&lt;br /&gt;Ada gurat sedih di wajah Sabtu siang hari,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;saat kudapati kabar duka Jum’at pagi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Cadar kabut duka menutup wajah langit Jepara&lt;br /&gt;ada hujan yang merintik di sajakku ini&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Mautul ‘Alim Mautul ‘Alam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;        &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Geneva;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Tuhan… tabahkan hati mereka,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Sematkan pula ikhlas itu padaku dan keluargaku&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;karena aku dan mereka juga akan meninggalkan dan ditinggalkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Geneva;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt;                                                               &lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: center;" align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Geneva;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt;                                                                                   kerikil tumpul&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 3in; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; font-family: Geneva;" lang="EN-GB"&gt;                           Kudus, 1 Mei 2008&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 8pt; font-family: Geneva;" lang="EN-GB"&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;7 Hari wafatnya KH. Muhtarom, Batealit Jepara&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Dalam dingin, ditemani isak tangis langit di Aula DPRD Kudus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;u&gt;&lt;span style="font-size: 9pt; color: black;" lang="EN-GB"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;span style="text-decoration: none;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4865655923568025786-3940507187037096695?l=yanuba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://yanuba.blogspot.com/2008/05/sajak-hujan.html</link><author>noreply@blogger.com (YAB)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-4865655923568025786.post-1690363442939841701</guid><pubDate>Sat, 22 Mar 2008 07:26:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-03-22T00:42:14.671-07:00</atom:updated><title>Aku Mencintaimu, Cinta</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_vwYklp2dFig/R-S362sm3eI/AAAAAAAAADA/G7HgZEnF8w4/s1600-h/%28calon%29+istriku.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://bp3.blogger.com/_vwYklp2dFig/R-S362sm3eI/AAAAAAAAADA/G7HgZEnF8w4/s320/%28calon%29+istriku.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5180467693125819874" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm;" align="center" lang="en-GB"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="en-GB"&gt; &lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Cinta mengajak kita untuk merefleksi apa yang terjadi di sekitar kita, tentang pemahaman hak asasi manusia dan berbagai hal yang ada di dalamnya. Dengan cinta, saya mencoba menuliskan bahwa persoalan cinta juga merupakan persoalan benturan keadaan, benturan realitas, kemampuan, dan segala persoalan eksistensi identitas manusia tertentu. Seni bercinta yang diadopsi dari Barat menjadi “turis-turis” asing yang bisa melihat, menilai, menyentuh, dan acap kali menikmati cinta di balik etalase cinta sebelum saatnya. Sehingga persoalan cinta tak ubahnya seperti barang dagangan yang dipajang di deretan persoalan hidup, tentang kesewang-wenangan, perampasan, dan segal persoalan manusia yang lemah dan hanya sebatas penilaian, tidak bisa berbuat apa-apa dan malah terkadang ditindas dengan mengatasnamakan cinta sejati, karena persoalan cinta telah menjadi komoditi, dan mungkin itu benar adanya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="en-GB"&gt; &lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Akan tetapi terlalu berlebihan untuk secepat itu menilai dan menentukan keadaan cinta karena persoalan cinta sebenarnya tidak hanya persoalan impor/ ekspor nilai budaya, benturan peradaban, etika, nilai moral, tapi juga merupakan persoalan komitmen semua pihak untuk bertanggungjawab terhadap penghargaan nilai kemanusiaan, jadi persoala cinta  adalah komitmen universal, komitmen kita bersama.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt;Syaikh Abdul Qadir Al Jailani pun turut angkat bicara tentang cinta, “Cinta adalah syiar bagi orang-orang yang tulus, ia adalah sumber sifat-sifat terpuji bagi para pengelana. Sumber kesabaran meski ketika sedang tak diuji, sumber rasa syukur meski tak diberi nikmat, dan su,mber keridhaan atas apa yang telah ditakdirkan atasnya. Dia tidak melihat kepada orang lain, tidak memikirkan apa pun selain Allah.”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0cm;" align="justify"&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt;Kemudian beliau Syekh Abdul Qadir Al Jailani masih melanjutkan kata-katanya, “Apakah engkau mengetahui bahwa &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt;&lt;i&gt;Allah Subhanahu wa Ta’ala &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt;memiliki rasa cemburu? Ia mencipatakanmu hanya untuk-Nya, mengapa engkau bersama dengan selain dirinya? Apakah Anda tidak mendengar firman-Nya yang berbunyi, “&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt;&lt;i&gt;Allah mencintai mereka dan mereka mencintainya.” &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt;Dan juga firman-Nya, “Dan tidaklah Ku cipatakan jin dan manusia melainkan untuk menyembahku?” (Adz-dzariyat:56). Tapi saya hendak jujur, dalam kapasitas saya sebagai manusia biasa, saya tidak bisa lepas untuk tetap mencintai dan dicintai sesama makhluk, dan saya tidak bisa mengelak bahwa mencintai wanita adalah sebuah hal yang mengandung banyak resiko, termasuk di antaranya adalah sakit, benci, rindu, cemburu, dan lain sebagainya. Tapi bagaimana pun juga, saya tetap mencintainya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt;&lt;i&gt;Nastaghfiruka 'ala khottoyana, Ya Robb.....&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt; Aku mencintai-Mu dan mencintainya. &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua, serif;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="en-GB"&gt;&lt;i&gt;Wallahu A’lam.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="en-GB"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm;" align="center" lang="id-ID"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm;" align="center" lang="id-ID"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 1.27cm; margin-bottom: 0cm;" align="justify" lang="id-ID"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4865655923568025786-1690363442939841701?l=yanuba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://yanuba.blogspot.com/2008/03/aku-mencintaimu-cinta.html</link><author>noreply@blogger.com (YAB)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_vwYklp2dFig/R-S362sm3eI/AAAAAAAAADA/G7HgZEnF8w4/s72-c/%28calon%29+istriku.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-4865655923568025786.post-4093409851922774555</guid><pubDate>Wed, 05 Mar 2008 07:12:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-03-04T23:20:23.547-08:00</atom:updated><title>Syukurku Pada-Mu</title><description>&lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt; &lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua, serif;"&gt;&lt;span style="color:#333333;"&gt;Setelah sekian lama tidak “menyentuh” blog ini (karena banyaknya aktivitas saya akhir-akhir ini. &lt;i&gt;hehehe... pura-pura sibuk&lt;/i&gt;), ada sebuah rindu yang terus menjajah hati saya untuk ber-&lt;i&gt;tahadduts binni’mah &lt;/i&gt;pada khalayak. Bahwa sudah selayaknya saya berterima kasih pada rekan-rekan OSIS dan beberapa teman sekelas atas rayuan dan paksaan mereka yang telah berhasil mendorong saya untuk mengikuti lomba apresiasi sastra dalam cerpen dan puisi di UMK. Karena, tidak jauh berbeda dengan 10 Januari 2008, 10 Februari kemarin ternyata masih menyimpan banyak kejutan yang meminang kebahagiaan di hati saya. Alhamdulillah, predikat terbaik ke-2 berhasil mendarat di nomor 66, YAB. Meski target juara (terbaik pertama) masih belum berhasil saya genggam, tapi memang itulah yang saat ini bisa saya raih dalam kapasitas saya sebagai seorang yang masih bodoh, puji syukur tetap harus saya panjatkan meski dalam kesekian kalinya, saya harus rela berada di bawah perempuan (juara satu perempuan-red).&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua, serif;"&gt;&lt;span style="color:#333333;"&gt;Tidak itu saja, dalam sebuah &lt;i&gt;talk show&lt;/i&gt; tentang kepenulisan di UMK, oleh salah seorang narasumber, saya diberi hadiah berupa bukunya yang berjudul &lt;i&gt;Wiralaba, Minim Rugi Maksim di Laba. &lt;/i&gt;Meski itu adalah buku tentang bisnis ekonomi, tapi mendapatkannya secara cuma-cuma yang diberikan oleh penulisnya sendiri melalui sebuah game cerdas tentu mengandung nilai prestis tersendiri.   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua, serif;"&gt;&lt;span style="color:#333333;"&gt;Agaknya, tahun 2008 merupakan tahun untuk membangkitkan gairah saya dalam berprestasi. Setelah (lumayan) sukses dengan perolehan gelar terbaik ke-dua dalam lomba cerpen yang diselenggarakan Muhammadiyah pada bulan Januari, alhamdulillah pada Februari-nya saya “berhasil” bersyukur dengan predikat terbaik ke-dua dalam lomba puisi di UMK. Meski sebenarnya kekecewaan itu ada karena pihak perempuan lebih mendominasi jalannya lomba sekaligus kemenangannya. Tapi bagaimanapun juga saya tetap bersyukur dengan pemberian ini. (&lt;i&gt;Lagian siapa sich yang nggak bahagia ketika berhasil mendapat hadiah 1 juta,hehehe…&lt;/i&gt;) &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua, serif;"&gt;&lt;span style="color:#333333;"&gt;Di lain pihak, saya diberi beasiswa madrasah selama semester genap dengan predikat murid berprestasi 2008 (sementara). &lt;i&gt;Masya’Allah… &lt;/i&gt;rezeki sepertinya terus mengalir masuk rekening &lt;i&gt;(tapi juga nggak pernah berhenti keluar, hehehe…)&lt;/i&gt; &lt;i&gt;Allah, syukron ‘ala kulli ni’amika… Ana ‘abdukal faqir, ila ridloka, wa mahabbatika… Faghfirli waliwalidayya wa ahlana, fi dunya wad dien. Amien… Wallahu A’lam.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.5in; margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4865655923568025786-4093409851922774555?l=yanuba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://yanuba.blogspot.com/2008/03/syukurku-pada-mu.html</link><author>noreply@blogger.com (YAB)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-4865655923568025786.post-2251508572545372654</guid><pubDate>Wed, 30 Jan 2008 08:05:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-01-31T07:25:39.166-08:00</atom:updated><title>Renungan dalam Kejujuran</title><description>&lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;&lt;u&gt;&lt;b&gt;&lt;em&gt;Adalah Dirimu&lt;/em&gt;&lt;/b&gt;&lt;/u&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;Adalah sebuah meja itu&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;Tempat kita bertukar pandang&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;Saat lembam kurasakan dalam angan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Dan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;tetes kembang Lily merintik merayu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;Pada kertas putih itu&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;K&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;au menyedot hatiku dalam pusaran mata&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;Dalam titik tak terkendali&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;Aku selalu temukanmu... dalam deru kasih merindu&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;Bak fluida raksa yang tak leleh&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;Kau abadi dalam ingatan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Dalam gumpal darah, di situlah hati&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;Tempatku tanam cinta diam-diam&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;Saat kulihat aku dalam pandangan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;Namun tak ada yakin itu terjadi, &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;Karena kau... adalah kesempurnaan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;Aku berpegang tangan, mata bertukar pandang&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;Demikian juga hatiku&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; margin-left: 0.5in;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;Saat bulan jadi sewarna arang&lt;br /&gt;Dibakar jenuh dalam tegukan ilalang&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;Tiada sangka terjadi...&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;Dalam sebuah labirin&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;Aku menemukanmu dalam dingin&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;Kau mengerang rindu dalam pelukan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;Membendung hasrat dalam kecupan&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;Hingga atmaku terbang, menirwana&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;Ooh... cinta, kaukah itu?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; margin-left: 0.5in; text-indent: 0.5in;" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; margin-left: 0.5in; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Lalu aku menunggu...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; margin-left: 1in;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Kata yang bergulir jatuh dari dinding-dinding bisu&lt;br /&gt;Dan aku menunggu...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="margin-bottom: 0in; margin-left: 0.5in; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Kata yang terpasung dalam sentuhan mesramu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Sentuhanmu...&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; memusnah segala lelah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;Meski bumi, langit, semesta terbelah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;Meski mata menangis darah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;Tiadakan setitik melebihi yang sudah&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;Ketika kejujuranmu memecah hatiku&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;Cinta... kaukah itu?&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" lang="id-ID"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;Cinta...&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Menjadi darah dalam tubuhku&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Memberi kehidupan dalam atmaku&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;Ragamu... Mewarnai denting waktu,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Dan kau datang... bak fajar merobek gulita&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;Saat katakan, "aku mencintaimu"&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;Dan suaraku menjawab, "cintaku juga padamu"&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;Karena kau... adalah dirimu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;div style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;" lang="id-ID"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;" align="center" lang="id-ID"&gt;&lt;span style="font-family:Book Antiqua,serif;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;u&gt;Kerikil tumpul&lt;/u&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="margin-bottom: 0in; text-indent: 0.5in;" align="center" lang="id-ID"&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;"&gt;Sabtu, 26 Januari 2008.&lt;br /&gt;dalam sebuah labirin cinta dunia&lt;br /&gt;yang hangat sekaligus mencekam kerinduan surgawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada sesuatu yang berbeda antara cinta dan nafsu. Cinta selalu tampil memukau dengan cahayanya yang terang benderang dan mewangi, sementara nafsu adalah polusi udara, mencemarkan  kasih sayang  atas nama cinta. Cinta murni adalah 24 karat, cinta yang  tercampur  secuil  nafsu adalah emas 22 karat, sedangkan  cinta yang terlalu bernafsu  adalah cinta berkarat.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Namun, secara manusiawi, apalagi dalam kapasitas kita sebagai manusia biasa. Kita harus jujur, bahwa kita tidak mungkin menerapkan cinta 24 karat, karena Allah memberikan fitrah kepada manusia berupa nafsu. Tapi tak ada alasan bagi kita untuk lengah begitu saja, mengingat  Allah juga membekali kita otak dan hati. Nafsu  butuh pengendalian, agar tidak menjadi ledakan bom atom yang membinasakan. Cukup letupan cinta saja yang akan memperindah dunia kita. Jangan terlalu, dan saya sadar akan hal itu. Sesuatu yang besar justru akan membahayakan. Sepanjang hidup Anda, ingatlah bahwa cinta adalah api dan air, kita tentu tak ingin api menjadi kobaran panas yang melalap rumah-rumah kalbu, dan tentu kita juga tak ingin air menjadi banjir yang mengguyur, menghanyutkan sukma.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sebagai makhluk kecil, kita cukup butuh secuil saja dari apa yang kita harap. Kita tak perlu muluk-muluk ingin ini dan itu, semuanya. Cukup cinta adalah merah dan biru. bukan yang lainnya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wallahu A'lam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4865655923568025786-2251508572545372654?l=yanuba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://yanuba.blogspot.com/2008/01/adalah-dirimu-adalah-sebuah-meja-itu.html</link><author>noreply@blogger.com (YAB)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-4865655923568025786.post-3139682214452941041</guid><pubDate>Mon, 21 Jan 2008 04:15:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-01-20T21:31:03.305-08:00</atom:updated><title>Sepotong Syukur di Antara Syukur</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Ada banyak kejutan dan kebahagiaan dalam Januari 2008 ini. mulai dari keterkejutan saya ketika mengetahui Among Kurnia Ebo, (penulis lepas asal Jogja)&lt;span style="font-style: italic;"&gt; &lt;/span&gt;ternyata juga mengenali YAB. dan lebih bahagianya lagi, saya diberi hadiah berupa bukunya yang berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Menulis Gak Perlu Bakat. &lt;/span&gt;Tidak itu saja, di depan puluhan pasang mata yang memadati seminar bertajuk "The Spirit of Writing" itu saya didoakan semoga menjadi penulis besar Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 10 Januari, Alhamdulillah cerpen saya berhasil menjadi terbaik kedua dalam lomba cerpen se-Kabupaten Kudus di Muhammadiyyah Kudus.  Meski hati saya belum puas karena target juara belum pernah tercapai. dan lebih parahnya lagi, lagi-lagi saya harus berada satu strip di bawah perempuan. seandainya juara itu diraih seorang laki-laki tentu saya tidak begitu mempersoalkan. tapi kali ini perempuan. Untuk yang kesekian kalinya saya harus rela satu strip di bawah perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, apa pun yang telah saya peroleh adalah sebuah karunia terbaik yang saya dapatkan saat itu.  mungkin belum saatnya orang bodoh seperti saya merasakan manisnya gelar juara. Memang benar apa kata saudara saya, mencapai ilmu ikhlas memang sulitnya minta ampun. tapi saya sadar. sekali lagi saya berkata. Apa pun yang diberikan Allah pada kita adalah yang terbaik untuk kita. Bukankah kita wajib bersyukur atas apa pun yang berhasil kita peroleh? &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lain syakartum la'azidannakum wa lain kafartum, inna adzaby lasyadiid. &lt;/span&gt;Maafkan hamba-Mu yang bodoh ini ya Allah.... cukupkan hamba atas kelengahan ini. Ampuni hamba.&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4865655923568025786-3139682214452941041?l=yanuba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://yanuba.blogspot.com/2008/01/sepotong-syukur-di-antara-syukur.html</link><author>noreply@blogger.com (YAB)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-4865655923568025786.post-9118122408988434622</guid><pubDate>Thu, 03 Jan 2008 15:22:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-01-03T07:58:52.518-08:00</atom:updated><title>Happy Birthday in Unhappy New Year</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    Tinggal menunggu hitungan jam, usiaku akan bertambah satu tahun. Genap menjadi 19 th. memperingati hari ulang tahun bagi saya bukan berarti saya tidak selaras dengan background saya sebagai muslim, apalagi saya adalah seorang santri. Bagi saya, moment seperti ini adalah langkah positif, selagi masih dalam batas-batas wajar dalam koredor Islam. saya menyebut moment ini sebagai peringatan dengan proses muhasabah menuju kedewasaan, atau lebih tepatnya dijadikan sebagai langkah awal dalam  introspeksi diri, bahwa semakin bertambah usiaku berarti semakin berkurang umurku di bumi. 04 Januari 1989 - 04 Januari 2008, tak terasa sudah 19 tahun aku hidup di bumi, sedangkan amal ibadahku masih tak seberapa di banding dosa-dosaku. Ya Allah.... betapa dloifnya hamba-Mu ini.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;    Ya Allah.... ampuni segala dosaku, hapus segala kesalahanku, jadikanlah aku menjadi hamba-Mu yang taat pada-Mu, mampu dan mau menjauhi segala larangan-Mu, mampu dan mau menjalankan segala perintah-Mu. Hamba sadar, kadang hamba terlalu berlebihan dalam mencintai ciptaan-Mu, maka ampunilah hamba, Ya Allah... dan ampuni pula kekasih hamba yang juga terlalu mencintai hamba. Jadikanlah cinta kami menjadi perantara cinta kepada-Mu, Ya Allah...... Jadikanlah kami menjadi orang yang sukses di dunia dan akhirat-Mu. Amien............&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ya Allah...... Indonesia sudah terlalu lama meneteskan air mata, hingga musibah banjir ada dimana-mana. Dengan tangis penuh  iba dan  doa penuh harap, lindungi lami dari amarah-Mu. Ampuni kami, tabahkanlah saudara-saudara kami yang tertimpa musibah. kuatkanlah hati mereka. Guru-guru kami, teman-teman, kerabat kami. selamatkan mereka semua. Hanya kepada-Mu lah kami pantas mengiba. kabulkanlah doa kami. Hamba sadar, hamba bukan siapa-siapa, hamba hanya sekerdil buruk di antara banyak ciptaan-Mu yang baik, ibarat sebuah kerikil tumpul di antara bebatuan emas. tapi atas nama manusia tersempurna, Nabi Muhammad Shollallahu 'alaihi wassalam, kabulkanlah doa hamba. cukup pengabulan itu sebagai hadiah terindah di ulang tahun ini.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4865655923568025786-9118122408988434622?l=yanuba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://yanuba.blogspot.com/2008/01/happy-birthday-in-unhappy-new-year.html</link><author>noreply@blogger.com (YAB)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-4865655923568025786.post-7434212745996545553</guid><pubDate>Thu, 03 Jan 2008 10:18:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-01-03T02:34:03.945-08:00</atom:updated><title>Secuil Pertanyaan tentang Cinta</title><description>&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;    just for my love&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;my God... if I fall in love,&lt;br /&gt;please, put my love to someone who love You&lt;br /&gt; to increase my strength to love You..&lt;br /&gt;my God... if I fall in love,&lt;br /&gt;please, keep my love to her so,&lt;br /&gt;i dont love her more than i love You&lt;br /&gt;my God... if I fall in love,&lt;br /&gt;permit me to touch a heart who chiseled her love to You so,&lt;br /&gt;I dont fall into a dale of illusion love&lt;br /&gt;my God... if I fall in love,&lt;br /&gt;keep my heart to her so,&lt;br /&gt;i dont go from Your heart&lt;br /&gt;my God... verily, I request to You to love You forever&lt;br /&gt;to love everybody who love You&lt;br /&gt;and everything that can accompany me to love You...&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;                                                            &lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;the "lovable's" lover&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;        Puisi di atas adalah karya dari seorang santriwati PPYUR MAK NU BANAT Kudus, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(kali ini saya tak hendak mempublikasikan namanya, karena saya yakin si Empunya puisi tak hendak namanya terpampang di sini, yang jelas dia adalah mantan Ketua OSIS MA NU Banat Kudus).&lt;/span&gt; Saya copy tanpa merubah tulisan, hanya sedikit merapikan tata letaknya agar enak dibaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Sungguh, puisi cinta yang sangat bernuansa religi. Kata si Empunya puisi, bait-baitnya dimaksudkan sebagai sebuah ungkapan bahwa cinta sejati hanya milik-Nya. Terlepas bagaimana pembaca menilainya, yang jelas, kata-katanya santun, mendidik, simple, dan tidak aneh-aneh. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Yach... mungkin perlu sedikit perubahan agar benar-benar tidak terasa aneh. Sedikit saja, sudah cukup)&lt;/span&gt; Tapi, kata-kata yang terangkai dalam bahasa Inggris tersebut bisa menjadi tidak simple dan terasa sangat aneh bagi orang yang tidak mengerti bahasa Inggris. Saya sendiri pun “belum berani” membuat puisi yang tersusun dalam bahasa Inggris, karena saya belum menguasai sastra Inggris. Boro-boro sastra Inggris, sastra Indonesia saja masih kalang kabut. Lagi pula, bahasa Inggris saya masih parah, apalagi sastranya? Hehe....&lt;br /&gt;    Sayang, puisi tersebut gagal masuk buletin madrasah saya, el Insyaet. Bukan karena puisi tersebut jelek atau aneh, sungguh bukan. Bukan itu sebabnya, melainkan redaksi saya yang teledor, terlambat membuka email. Ketika itu redaksi el Insyaet membuka email setelah proses penerbitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Mungkin ada tanda tanya besar dalam pikiran anda saat mengetahui ada puisi di atas.  Mengapa justru puisinya yang saya masukkan dalam posting kali ini? Kenapa tidak puisi saya sendiri? Apakah ada hubungan cinta antara kami berdua sebagaimana gosip yang dulu pernah berkembang di madrasah Mu’allimat? &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Aneh kan? Kenapa justru kabar burung itu mencuat di Mu’allimat, kenapa tidak di Banat? Huhh... saya juga tidak tahu kenapa. Aneh!!)&lt;/span&gt; Bukan, bukan, bukan itu jawabannya. Begini jawabannya, Saya hanya turut mengamini pendapatnya, dengan begitu hati saya terpanggil untuk mempublikasikan puisi cinta-nya sebagai sebuah ungkapan bahwa cinta sejati hanya milik-Nya. Karena kemarin si Empunya puisi tersebut menanyakan apa arti cinta menurut saya. Dia heran dan sedikit isykal dengan puisi karya saya di blog ini (Wanita dari Utara. Puisi pada artikel berjudul CINTA). Dan atas keheranan itulah dia akhirnya “bertanya” via email, “menurut anda apa sich itu cinta????” &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(kalimat tanya-nya tidak saya rubah sedikit pun, termasuk empat tanda tanya yang menghebohkan itu, hehehe....)&lt;/span&gt;. sekedar intermezzo, subject email-nya pun tidak main-main, “Saya tertantang untuk Bertanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Begini isi emailnya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(yang saya ambil hanya poin pentingnya saja)&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;“.......Membaca puisi anda berjudul Wanita dari Utara, anda berkata yang anda bahas adalah tentang refleksifitas cinta tersebut....tapi kenapa orientasi anda jelas pada....(anda tahu sendiri) mungkin,,, jiwa kepuitisan orang berbeda satu sama lain, yang dimaksud..bagaimana jika ada orang yang memaknai puisi tersebut berbeda dengan maksud anda...kenapa anda tidak memakai bahasan lain dalam puisi tersebut..karena jelas dalam puisi tersebut denotasi kelihatan... dan...ternyata anda suka membahas cinta,cinta, dan cinta.... Ada Apa sich dengan Cinta????.....”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Banyak orang menganalogkan cinta seperti kentut &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(maaf ya sebelumnya)&lt;/span&gt;, bila ditahan sakit perut, bila dikeluarkan orang-orang pada ribut. Dan itu pula yang dulu pernah menimpa diri saya. Ada juga yang mengartikan cinta sebagai garam kehidupan, hidup tanpa cinta akan terasa hambar dan tidak berarti. Tapi menurut zodiak saya, capricon. Cinta bagi capricon adalah suatu kebutuhan, begitu mereka mendapatkannya, mereka akan memperlakukannya sebagai barang berharga. Capricorn sangat setia selama pasangannya selalu bersedia membantunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sebenarnya terlalu banyak definisi dari cinta. Tergantung cinta yang bagaimana, siapa yang merasakannya dan kepada siapa cinta itu diberikan.&lt;br /&gt;Cinta adalah permainan, bagi orang yang gak serius dengannya.&lt;br /&gt;Cinta adalah kekuatan, bagi orang yang kesepian karenanya.&lt;br /&gt;Cinta adalah kesempurnaan, bagi orang yang sangat mendambakannya.&lt;br /&gt;Cinta adalah kebutuhan, bagi orang yang memdambakannya.&lt;br /&gt;Cinta adalah ibadah, bagi seorang hamba pada Robb-nya, seorang suami pada istrinya, istri pada suaminya, ibu pada anaknya, anak pada ibunya, dst.&lt;br /&gt;Ya... gini nich efeknya, kalo satu kata poligami sama banyak makna.&lt;br /&gt;Tapi secara garis besar, CINTA menurut saya adalah sebuah rasa yang bisa melahirkan kerinduan terhadap sesuatu, sebuah, atau seseorang yang diinginkannya, hingga menumbuhkan perasaan bahagia pada setiap orang yang merasakannya. (Wallahu A’lam).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Lalu bagaimana tanggapan saya mengenai puisi saya yang agak di-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;isykal&lt;/span&gt;-kan oleh “dia”?. tenang.... tentu saya akan menjawabnya. Cinta bagi saya mempunyai makna yang luas, dan (mungkin) tak terbatas. Saya sendiri menyebutnya sebagi makhluk tak terbatas, karena memang mempunyai arti yang luas. oleh sebab itu, bisa saja refleksifitas cinta seseorang diorientasikan pada Robb-nya melalui makhluk-Nya. Yach.... karena saya sendiri bukan seorang penyair, kalau dianggap pun penyair, tentu hanya penyair amatiran, sudah gitu gadungan lagi, hehe...... saya pun hanya berlagak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sok&lt;/span&gt; bisa menulis puisi, atau dengan kata lain, pura-pura bisa berpuisi. Bukankah tidak selamanya pura-pura itu buruk. Iya kan? tapi saya tidak pura-pura bercinta. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lha&lt;/span&gt;, sedangkan dia?, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wallahu A’lam.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4865655923568025786-7434212745996545553?l=yanuba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://yanuba.blogspot.com/2008/01/secuil-pertanyaan-tentang-cinta.html</link><author>noreply@blogger.com (YAB)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-4865655923568025786.post-3632444446132027627</guid><pubDate>Wed, 02 Jan 2008 08:08:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-01-02T00:11:55.636-08:00</atom:updated><title>Kurikulum SMS</title><description>Apakah benar remaja Indonesia rendah dalam minat membaca dan menulis? Saya rasa itu tidak benar. Fakta menyebutkan bahwa remaja di negara kita, (termasuk saya, dan mungkin juga anda), sangat gemar dalam membaca dan menulis, terutama jika yang ditulis dan dibaca adalah SMS (Short Message Service). Bahkan tanpa kita sadari, minta kita dalam dua aktifitas tersebut sangat tinggi. Karena memang selain biayanya yang ekonomis, caranya pun praktis. Tinggal pencet-pencet, maka dalam hitungan detik pesan sampai tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data riil menyebutkan. Dua tahun lalu Presiden SBY pernah memberikan sebuah nomor yang langsung diakses R-1. Nomor tersebut adalah 9949, yang difungsikan sebagai penampung suara-suara rakyat. “Silahkan rakyat menyampaikan keluhan tentang apa saja, nanti akan ditidaklanjuti”, begitulah kurang lebih kata Presiden waktu itu. Dalam tempo waktu dua hari, sebanyak 15.300 SMS masuk ke nomor tersebut. Berdasarkan data tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa hobi masyarakat Indonesia terhadap baca-tulis SMS sangat tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta di atas mengindikasikan bahwa remaja, atau masyarakat Indonesia pada umumnya sangat ‘gila’ terhadap budaya membaca dan menulis yang konon sudah mulai punah. SMS tidak hanya sebagai fenomena baru. Lebih dari itu, SMS adalah sebuah aktifitas keseharian yang telah membudaya dan telah menjadi kegiatan yang tak bisa, atau katakanlah sulit ditinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyikapi begitu maraknya hobi remaja Indonesia terhadap baca tulis SMS, setidaknya ada langkah serius dari pihak DIKNAS untuk membuat sebuah terobosan baru yang saya sebut dengan “Kurikulum SMS”. Sebuah kurikulum yang bisa merefleksikan sebuah pola pendidikan yang sifatnya SIMPLE, CEPAT, AKURAT, dan HEMAT.  Tidak seperti kurikulum-kurikulum pada umumnya yang penuh dengan teori, teori, dan teori, hingga akhirnya siswa lebih memilih SMS-an daripada mendengar guru berteori panjang lebar. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wallahu A'lam.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4865655923568025786-3632444446132027627?l=yanuba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://yanuba.blogspot.com/2008/01/kurikulum-sms.html</link><author>noreply@blogger.com (YAB)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-4865655923568025786.post-5505576098155868791</guid><pubDate>Mon, 10 Dec 2007 01:34:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-12-09T18:05:39.022-08:00</atom:updated><title>Rindu</title><description>Sesuatu yang sangat berat sedang menggelanyut di hati saya,  bukan batu besar atau besi, tapi sesuatu itu adalah sebuah perasaan hati terhadap seseorang.&lt;br /&gt;Biasanya saya meringankan beban sesuatu yang berat itu dengan mendengarkan suara merdunya melalui telekomunikasi jarak jauh, atau lazim disebut telepon.    &lt;br /&gt;Tahukah anda, sesuatu yang saya anggap berat itu?? Benci?? tidak, sesuatu yang berat itu tidak benci, melainkan rindu. Ya. Saat ini saya memang sedang dilanda rindu besar-besaran pada seseorang yang saya cintai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya rasa ada kekuatan rindu melebihi kekuatan cinta. Sifat rindu begitu global, ia tidak hanya terkirim pada seseorang yang kita cintai. lebih dari itu, ia bisa saja terkirim pada sikap seseorang yang kita benci. Tidak percaya??. OK, sekarang tanyalah pada diri anda. Ketika anda benci terhadap seseorang, mungkin karena dia selalu jahil atau sering mengganggu anda dengan mengirim SMS gokil atau sekedar minta kenalan, atau ketika anda biasa melewati segerombolan cewek atau cowok yang biasa memanggil-manggil nama anda, dan tiba-tiba orang yang sering menjahili atau mengganggu anda itu menghentikan kejahilannya. Bisa saja anda merasa kehilangan sesuatu yang biasa anda rasakan.  tapi, saya sadar hati orang berbeda-beda, ada yang sama, tapi ternyata ada bedanya juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya, kadang-kadang merasa benci terhadap oran gyang saya cintai. bukan karena dia membuat masalah, tapi karena dialah hati saya merasakan gejolak luar biasa, berat dan sangat menyiksa, yakni rindu. Mengadopsi pernyataan Aisya (salah satu tokoh dalam novel AAC) tentang cinta. Ahh... rindu, engkau memang siksaan yang menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah, bagaimana anda menyikapi rindu itu, itu terserah anda.&lt;br /&gt;asalkan satu, format rindu anda dengan porsi secukupnya. jangan berlebihan, karena sesuatu yang berlebihan tidaklah baik. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wallahu A'lam.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4865655923568025786-5505576098155868791?l=yanuba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://yanuba.blogspot.com/2007/12/rindu.html</link><author>noreply@blogger.com (YAB)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-4865655923568025786.post-7684626050039793691</guid><pubDate>Sun, 09 Dec 2007 09:40:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-12-09T01:43:46.720-08:00</atom:updated><title>Sesuatu yang Salah</title><description>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    Beberapa hari yang lalu ada sebuah email yang masuk ke mail box saya. Isinya cuma tiga buah kata, tapi cukup jitu untuk membuat jantung saya berdegup kencang dan membuat dahi saya berekrut ketika membacanya. Adalah kalimat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“I Love U”&lt;/span&gt; yang tertulis dalam email yang dikirim oleh seseorang yang tak saya ketahui siapa, dan dimana sebenarnya dia berada. Yang jelas email itu dikirim oleh seseorang yang beralamat email &lt;span style="font-style: italic;"&gt;melinda.sherpa@gmail.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;    Keterkejutan saya pada isi email itu langsung buru-buru saya hapus dari memori hati dan otak saya. Sebab saya pikir, saya tak perlu bingung untuk mencari tahu siapa sebenarnya pengirim email tersebut, meski di sana tertulis jelas nama pengirimnya. Tapi sekali lagi, saya rasa saya tak perlu tahu siapa dia sebenarnya. Bukannya sombong kepada pengirimnya atau apatis terhadap isi emailnya, tapi saya pikir (mungkin) itu hanya iseng-iseng pengirimnya belaka, atau bisa saja pengirimnya memang sengaja mengerjai saya. Oleh sebab itu, maka saya pun tak punya inisiatif sama sekali untuk menanggapinya dengan membalas email tersebut. Lagi pula, jika isi email itu serius pun, saya tak hendak menyikapinya serius, apalagi membalasnya. Karena saya punya alasan yang lebih serius dari pada isi email tersebut.&lt;br /&gt;    Sikap cuek saya terhadap isi email itu tidak lantas membuat saya apatis terhadap satu kata ‘sakti’ yang ada di dalamnya, yakni kata LOVE. Entah kenapa, setelah kedapatan kata itu, ‘hobi’ saya dalam mengulas kata perihal cinta tiba-tiba muncul kembali.&lt;br /&gt;    Siapa pun tahu, arti love adalah cinta, tapi cinta yang bagaimana, seperti apa, dan kepada siapa cinta itu ada, ternyata masih sangat abstrak untuk diulas. Bagi saya kerajaan cinta belum bisa dijelaskan secara konkrit dan spesifik, karena wilayah kerajaan cinta masih terlalu luas untuk dikelilingi.&lt;br /&gt;    Cinta, menurut saya adalah sebuah kata yang sakral, hingga saya tak berani memberikannya pada setiap orang. Saya takut salah memberi, karena cinta saya hanya untuk orang yang pantas saya cintai. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Lagi pula, siapa yang mau saya cintai? hehehe... )&lt;/span&gt; Tapi, watak manusia pada umumnya adalah ingin mencintai dan dicintai.&lt;br /&gt;    Cinta adalah kelenjar rangsang yang tidak selalu aktif di syaraf fisik. Ia bisa berupa insight, pengolahan emosi pada hati kecil kita. Namun ternyata, cinta tak selalu indah seperti di awal kita mengenalnya. Persahabatan sedekat apapun, tak pernah memilah-milah apa itu cinta atau hanya kedengkian semata. Permasalahan tentang cinta kadang justru timbul dari sahabat dekat, atau orang kepercayaan kita sendiri, karena cinta tak sebening kaca pada umumnya, melainkan jendela buram, yang mesti dibersihkan tiap kita ingin memandang ke luar sana.&lt;br /&gt;    Saya, atau lebih umumnya, kita. Kita merasa begitu takut untuk kehilangan orang yang kita cintai. Kita merasakan khawatir, takut, dan cemas yang begitu luar biasa ketika orang yang kita cintai juga dicintai banyak orang. Tapi, kadang kita, atau lebih khususnya saya. Saya juga sangat bahagia. Bahkan saya tak percaya bisa sebegitu bahagia. Sosok orang yang saya cintai itu bagaikan sebuah mimpi yang sangat indah, hingga saya begitu takut untuk terjaga dari tidur nyenyak saya, sebab saya tak ingin berpisah darinya barang sedikit pun, apalagi kehilangannya, jelas saya tak mau. Dia memenuhi segala yang saya impikan: Cerdas, pintar, baik hati, lembut, sabar, perhatian, pengertian, manis, dan jelita. hingga terkadang saya ingin menyimpannya di balik kelopak mata saya, agar hanya saja yang mampu melihat kecantikannya. Dalam tidur, saya biasa memanggilnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;‘Peri biru’&lt;/span&gt;. Namun pada akhirnya, saya harus sadar-(mengutip perkataan Aris Nugraha, sutradara Bajaj Bajuri)-, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Jangan melihat orang lain dengan serba sempurna. Sempurna baiknya, sempurna jahatnya, sempurna indahnya, sempurna buruknya. Tiada manusia yang sempurna, dan kita tak mungkin memuja dan membenci secara membabi buta”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;    Mungkin, anda berfikir email tadi salah kirim, atau katakanlah saya mendapat hal yang salah. Itu terserah logika anda. Tapi, saya pikir kita kadang butuh salah untuk mempercepat proses kedewasaan kita, agar kita bisa lebih teliti, dan tentunya lebih hati-hati lagi dalam memberi dan menerima cinta. Cinta memang bukan segala-galanya, tapi segala-galanya bermula dari cinta. Wanita bagi pria adalah jiwa dalam jiwa, tapi nilai pria bagi wanita adalah yang ada pada dirinya. Tahukah anda, siapa wanita yang saya cintai? Dialah ibu, dan tentunya, (calon) istri saya. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wallahu a’lam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4865655923568025786-7684626050039793691?l=yanuba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://yanuba.blogspot.com/2007/12/sesuatu-yang-salah.html</link><author>noreply@blogger.com (YAB)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-4865655923568025786.post-2550552813807088632</guid><pubDate>Wed, 05 Dec 2007 06:42:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-12-04T23:11:07.770-08:00</atom:updated><title>Cinta</title><description>&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Wanita dari Utara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi.... menyongsong matahari&lt;br /&gt;Ku langkahkan kaki dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tholabul 'ilmi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sembari mencuci mata&lt;br /&gt;memandang sepanjang pandangan mata&lt;br /&gt;Tiba-tiba... seorang wanita dari arah utara&lt;br /&gt;Dalam himpitan lalu lintas jalan raya&lt;br /&gt;Dengan keanggunan sayap-sayap birunya&lt;br /&gt;Bersama peri kecil di belakangnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelan-pelan kunikmati wajahnya&lt;br /&gt;Sungguh, tatapan matanya&lt;br /&gt;Begitu indah menggoda&lt;br /&gt;putih wajahnya dalam hijau kerudungnya&lt;br /&gt;Aduhai...... cantik sekali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah............&lt;br /&gt;Subhanalladzi kholaqoha&lt;br /&gt;Indah nian ciptaan-Mu ya Allah.....&lt;br /&gt;Indah alisnya, indah matanya&lt;br /&gt;Indah senyumnya dalam indah bibirnya&lt;br /&gt;Sebuah keindahan&lt;br /&gt;Di atas keindahan yang indah sekali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah........ dosakah mencintainya&lt;br /&gt;Salahkah hamba memujinya&lt;br /&gt;Sebuah keindahan dalam keindahan-Mu&lt;br /&gt;Wahai........ wanita dalam gaun hijau&lt;br /&gt;Wahai....... wanita bersayap biru&lt;br /&gt;Wahai....... wanita berparas ayu&lt;br /&gt;Aku rindu kau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi..... wanita&lt;br /&gt;Mengingatmu membuatku lupa&lt;br /&gt;Tunduklah wahai pandangan mata&lt;br /&gt;Cuci mata namun hati penuh noda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                                                    &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;kerikil tumpul&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;,&lt;br /&gt;                                            30 November 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;Puisi di atas saya buat atas refleksifitas cinta saya pada seseorang. Tapi yang hendak saya bahas bukan tentang seseorang itu, melainkan tentang refleksifitas cinta saya tersebut.&lt;br /&gt;Pembahasan tentang cinta saya rasa tak akan pernah usai. cinta, cinta, cinta, dan cinta.&lt;br /&gt;Saya menyebutnya sebagai makhluk yang tak terbatas. Ada dimana-mana, bisa datang kapan pun ia mau, (tentunya ketika Allah juga menghendaki).&lt;br /&gt;Kadang-kadang orang terlalu terburu-buru untuk mengatakan, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Ah, saya tak akan jatuh cinta sebelum saya lulus", &lt;/span&gt;atau, larangan orang tua pada anaknya, guru pada muridnya, atau kakak pada adiknya,  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"jangan jatuh cinta kalo belum dewasa!!".&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Saya tak setuju dengan istilah "tidak akan" atau "jangan" pada bab cinta, karena menurut saya cinta itu tak terbatas, pada siapa, kapan, dimana, dan lain sebagianya. Hanya saja, permasalahan kepada siapa, dan model cinta yang bagaimana yang perlu ditinjau kembali.&lt;br /&gt;Walhasil, jangan pernah meremehkan cinta, karena pandangan mata ada dimana-mana.&lt;br /&gt;dan ingat, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wa ila robbika farghob&lt;/span&gt;. (hanya kepada Tuhan-Mu lah engaku layak bercinta)&lt;br /&gt;Cinta, jangan pernah berhenti sedetik pun!! &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wallahu A'lam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4865655923568025786-2550552813807088632?l=yanuba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://yanuba.blogspot.com/2007/12/cinta.html</link><author>noreply@blogger.com (YAB)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-4865655923568025786.post-1973594101383824440</guid><pubDate>Mon, 19 Nov 2007 03:27:00 +0000</pubDate><atom:updated>2007-11-18T19:41:35.692-08:00</atom:updated><title>Pura-pura</title><description>Sebenarnya, kata pura-pura adalah bukan sebenarnya. hanya pura-pura. kadang kita selalu berpura-pura, atau bahkan selalu berpura-pura. pura-pura pandai, agar dikira benar-benar pandai. pura-pura bisa, agar dikatakan bisa, meski sebenarnya kita tidak bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang pura-pura mencintai, agar tidak melukai orang yang telah bersusah payah mencintainya. ada yang pura-pura membenci, agar dikatakan punya gengsi tinggi. Walhasil, dunia memang hanya sementara, tempat sementara untuk berpura-pura. salah seorang teman saya berkata, "kalau kita tidak berpura-pura, kita tidak akan mendapat teman". apa memang begitu?? saya rasa tidak. mengapa harus berpura-pura agar bisa mendapatkan teman? bukankah teman yang baik justru lebih suka kejujuran. Saya jadi teringat hadits  Nabi,  "Qulil Haqqon walau kana Murron", berkatalah jujur meski pahit rasanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya sadar, dunia ini memang hanya tempat berpura-pura. toh, memang di sini kita hanya berpura-pura. tapi, ada beberapa hal yang menurut saya harus jujur, dan tidak pura-pura. Saya harus jujur bahwa, Tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah Utusan Allah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4865655923568025786-1973594101383824440?l=yanuba.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://yanuba.blogspot.com/2007/11/pura-pura.html</link><author>noreply@blogger.com (YAB)</author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>2</thr:total></item></channel></rss>