Pesaingmu lebih banyak memberikan pemikiran kepadamu dibandingkan teman-temanmu. Teman-temanmu terlalu sopan dan enggan untuk menunjukkan kelemahan dan kekuranganmu. Sebaliknya, pesaingmu rela mengeluarkan banyak dana dan tenanga untuk “mengiklankan” kelemahan dan kekuranganmu.
Pesaingmu sangat efisien, rajin, cermat, dan teliti. Bahkan mereka termasuk orang-orang yang jeli terhadap kelemahan-kelemahanmu. Sedikit saja kesalahanmu pasti akan nampak di mata pesaingmu. Mereka membuatmu merasa harus terus mencari cara untuk memperbaiki nilai dan prestasi yang kamu raih,
Pesaingmu selalu membuatmu selalu waspada untuk selalu konsentrasi dan konsisten dalam penguasaan nilai dan perolehan prestasimu, karena pesaingmu akan dengan mudah merebut posisimu, melebihi nilaimu, dan melampaui presatsimu jika kamu menerapkan gaya santai dan selalu tenang-tenang saja.
Pesaingmu memaksakan disiplin tinggi terhadap dirimu. Tanpa pesaing, kamu akan menjadi malas, tidak mempunyai mental tanding yang kokoh, tidak mempunyai semangat berkompetisi, dan bahkan kamu bisa kehilangan selera terhadap usaha dan prestasimu sendiri.
Pesaingmu memberi banyak kesan dan pesan kepadamu. Tanpa pesaing, kamu akan menjadi pemenang dalam drama “single fighter” yang membosankan. Tanpa pesaing, kamu akan mempertahankan budaya dan gaya “permainan” yang monoton. Tanpa pesaing, kamu tidak akan menaikkan porsi latihan dan semangatmu. Tanpa pesaing, kamu akan nampak menjadi pemenang tunggal namun mati perlahan-lahan.
Berbahagialah dirimu yang mempunyai pesaing. Cintailah pesaing-pesaingmu melebihi cintamu pada sahabatmu, karena pesaingmu juga mencintaimu, sebab ia juga membutuhkanmu untuk menjadi pesaingnya. Sayangilah pesaingmu, karena pesaingmu adalah kekasih: yang mengejekmu secara terbuka namun menyemangatimu secara diam-diam.
Itulah mengapa aku selalu menghormati pesaing-pesaingku. Sikap mereka terhadapku merupakan hal positif bagi diriku. Semoga Allah memberkahi pesaing-pesaingku, dan menambah berkah-Nya pada diriku. Amien…
Senin, 19 Oktober 2009
Kamis, 08 Oktober 2009
Hal yang Sulit dalam Menulis
Saya yakin, bahwa semua orang perlu rasanya untuk mengeluarkan apa yang ada di hati dan pikiran, meskipun hanya lewat tulisan. Apalagi jika uneg-uneg rasanya sudah menyesak di dada. Lha… tapi bingung saat akan memulai menulis, tidak tahu mau nulis apa, tapi rasa ingin menulis sudah membuncah.
Aneh memang. Di saat ada ide, ada gagasan, ada uneg-uneg, tapi tangan ini kaku rasanya diajak untuk melaju menuturkan isi hati melalui tulisan. Tapi memang begitulah, Andai saja otak kita punya tombol “print” mungkin gampang saja mengeluarkan isi pikiran dan hati kita. Tinggal pencet tolmbol “print” lalu pilih subject file yang hendak dicetak, langsung keluar apa yang hendak kita tuang dalam tulisan. Sayangnya otak kita hanya bisa memerintah tangan untuk bergerak sesuai dengan apa yang diperintahkan. Tapi ya begitu, tidak semua yang kita mau bisa langsung dituangkan dalam bentuk tulisan. Lalu bagaimana caranya? Mudah saja.
Saya mempunyai seorang teman yang minta diajari proses kreatif menulis. Lalu saya suruh dia untuk mengamati apa yang dia lihat, apa yang dia dengar, apa yang dia setuh, apa yang dia rasa, dan apa yang dia pikir. Sudah hampir dua jam dia “bersemedi” mengamati apa saja, namun goresan pena di atas kertas tak kunjung ia mulai. “Aku masih bingung tentang bagaimana caranya memulai tulisan,” ujarnya.
“lha kamu pengen nulis yang bagaimana?” tanya saya. “aku pengen nulis kaya’ Andrea Hirata,” jawabnya polos. “ya udah… coba saja,” balas saya simple. Selang tiga puluh menit ia kembali lagi, “Nggak bisa… sulit!” teman saya mengadu. “Ya sudah… gaya penulisan yang kamu suka kaya’ siapa?” tanya saya padanya. “Aku suka gayanya Kang Abik,” dia menjawab sembari tersenyum. “ya udah…. coba tulis…” saya mencoba menyemangatinya lagi. Selang dua puluh menit ia kembali mengeluh “wahh…. Nggak bisa! Aku bingung nulisnya,” keluhnya. Huhh…. Saat itu saya berfikir konyol, “apa saya harus bunuh diri dulu, biar kejadian ngendat itu bisa ditulisnya. Bisa jadi bahan inspirasinya.” Hwihihi… guyon saya dalam hati.
Pikiran-pikiran tentang “ini nulisnya bagaimana?” - “bagaimana menulis ini?” - “apa harus begini?” keraguan dan pertanyaan-pertanyaan kecil di kepala kadang-kadang memang menghambat dan menyurutkan minat dan keinginan seseorang untuk menulis.
Sampai saya ada ide untuk memancingnya lagi, “besok kamu kuliah kan? Dosennya siapa?” tanya saya santai. “iya kuliah… Besok jadwalnya Pak fulan, orangnya galak. Kalo pas mata kuliahnya, nggak ada orang berani tidur,” jawabnya panjang lebar. “Lha… sekarang bayangkan saja wajahnya, deskripsikan wajah beliau dan suasana kelas. Coba itu.” pancing saya.
Kembali ke depan Komputer (untuk kesekian kalinya) dia terbayang wajah sang dosen. Ia mendeskripsikan wajahnya, terbayang kegalakannya, terbayang suasana kelasnya saat diajar dosen, dan tingkah laku teman-teman sekelas saat kuliah. Tanpa terasa tangan teman saya itu sudah mengetikan cerita-cerita tentang si dosen killer dan suasana kelas.
“Ahh… selesai sudah, lega rasanya. Puas hati saya, akhirnya keluar juga yang ada di dalam dada,” ujar teman saya itu usai mengakhiri catatannya. Lalu saya bisikkan sepotong kalimat di telinganya. “menulis itu mudah, yang sulit adalah meniru gaya tulisan orang lain.”
* YAB, tinggal di kerikiltumpul@gmail.com
Aneh memang. Di saat ada ide, ada gagasan, ada uneg-uneg, tapi tangan ini kaku rasanya diajak untuk melaju menuturkan isi hati melalui tulisan. Tapi memang begitulah, Andai saja otak kita punya tombol “print” mungkin gampang saja mengeluarkan isi pikiran dan hati kita. Tinggal pencet tolmbol “print” lalu pilih subject file yang hendak dicetak, langsung keluar apa yang hendak kita tuang dalam tulisan. Sayangnya otak kita hanya bisa memerintah tangan untuk bergerak sesuai dengan apa yang diperintahkan. Tapi ya begitu, tidak semua yang kita mau bisa langsung dituangkan dalam bentuk tulisan. Lalu bagaimana caranya? Mudah saja.
Saya mempunyai seorang teman yang minta diajari proses kreatif menulis. Lalu saya suruh dia untuk mengamati apa yang dia lihat, apa yang dia dengar, apa yang dia setuh, apa yang dia rasa, dan apa yang dia pikir. Sudah hampir dua jam dia “bersemedi” mengamati apa saja, namun goresan pena di atas kertas tak kunjung ia mulai. “Aku masih bingung tentang bagaimana caranya memulai tulisan,” ujarnya.
“lha kamu pengen nulis yang bagaimana?” tanya saya. “aku pengen nulis kaya’ Andrea Hirata,” jawabnya polos. “ya udah… coba saja,” balas saya simple. Selang tiga puluh menit ia kembali lagi, “Nggak bisa… sulit!” teman saya mengadu. “Ya sudah… gaya penulisan yang kamu suka kaya’ siapa?” tanya saya padanya. “Aku suka gayanya Kang Abik,” dia menjawab sembari tersenyum. “ya udah…. coba tulis…” saya mencoba menyemangatinya lagi. Selang dua puluh menit ia kembali mengeluh “wahh…. Nggak bisa! Aku bingung nulisnya,” keluhnya. Huhh…. Saat itu saya berfikir konyol, “apa saya harus bunuh diri dulu, biar kejadian ngendat itu bisa ditulisnya. Bisa jadi bahan inspirasinya.” Hwihihi… guyon saya dalam hati.
Pikiran-pikiran tentang “ini nulisnya bagaimana?” - “bagaimana menulis ini?” - “apa harus begini?” keraguan dan pertanyaan-pertanyaan kecil di kepala kadang-kadang memang menghambat dan menyurutkan minat dan keinginan seseorang untuk menulis.
Sampai saya ada ide untuk memancingnya lagi, “besok kamu kuliah kan? Dosennya siapa?” tanya saya santai. “iya kuliah… Besok jadwalnya Pak fulan, orangnya galak. Kalo pas mata kuliahnya, nggak ada orang berani tidur,” jawabnya panjang lebar. “Lha… sekarang bayangkan saja wajahnya, deskripsikan wajah beliau dan suasana kelas. Coba itu.” pancing saya.
Kembali ke depan Komputer (untuk kesekian kalinya) dia terbayang wajah sang dosen. Ia mendeskripsikan wajahnya, terbayang kegalakannya, terbayang suasana kelasnya saat diajar dosen, dan tingkah laku teman-teman sekelas saat kuliah. Tanpa terasa tangan teman saya itu sudah mengetikan cerita-cerita tentang si dosen killer dan suasana kelas.
“Ahh… selesai sudah, lega rasanya. Puas hati saya, akhirnya keluar juga yang ada di dalam dada,” ujar teman saya itu usai mengakhiri catatannya. Lalu saya bisikkan sepotong kalimat di telinganya. “menulis itu mudah, yang sulit adalah meniru gaya tulisan orang lain.”
* YAB, tinggal di kerikiltumpul@gmail.com
Rabu, 07 Oktober 2009
Seorang Teman dan Prestasi Pertamanya
Namanya Indra Parito Utomo. Seperti pemuda pada umumnya, Indra adalah orang yang selalu berusaha menjaga fashion style-nya sedemikian rupa agar nampak keren dan fashionable, namun di mata teman-temannya, meski berdandan sekeren apapun ia tetap saja Parito yang unik. Pemuda dengan gaya seperti dia bisa kita temui di pinggiran simpang lima saat malam minggu, atau jika kita menonton televisi, kita bisa melihat orang-orang seperti Indra meloncat-loncat kegirangan di depan kamera reporter yang sedang meliput bencana banjir.
Dalam kamus teman-temannya, Indra adalah orang dengan pribadi unik, yang kalau berbicara terdengar sangat ngoyo dan very fast. Nada bicaranya menekan, kadang juga gaya bicaranya seperti orang sedang ingin menahan tawa. Bila saya boleh mendeskripsikan, wajahnya mirip jendral Cheng dalam film Yoko jaman dulu.
Namun di sini kita tak hendak menceritakan detail-detail gambaran bentuk Indra bagiamana, karena yang hasil karya asli bentukan Allah jangan dibicarakan lagi. Sudah Sunnatullah! Sekarang mari kita membicarakan usaha dan buah prestasi pemuda yang pernah populer dengan nama Parito ini.
7 Oktober 2009, hari ini, saya dikejutkan dengan berita bahagia dari dirinya via SMS. Begini isi pesannya: “Ris, kamu kan tahu sendiri… bertahun-tahun selama di MUS.YQ aku nggak pernah dapat juara apa pun. Selama ikut lomba aku selalu saja kalah, tapi hari ini aku juara 1 lomba debat. Alhamdulillah…”
Kabar tahadduts binni’mah itu kembali mengingatkan saya pada hari-hari di pesantren dulu. Selama 8 tahun mukim di pesantren, tiap tahunnya ia hampir selalu tampil sebagai “atlet” pidato mewakili residennya. setiap kali tampil, setiap kali pula ia menelan kekalahan. Namun ia bukanlah pribadi yang putus asa. Jiwa besarnya luar biasa!
Dalam kamus saya, Indra adalah pemuda yang jika dalam lagunya D’Masiv disebut pantang menyerah. Karena saya yakin, bahwa pemuda macam dia selalu mengamini kata Leo Tolstoy yang dikutip Andrea Hirata dalam Sang Pemimpi-nya: “Tuhan tahu, tapi menunggu...”
Saya bukanlah orang yang suka menarik “pajak kebahagiaan” seorang teman yang sedang merayakan kemenangan. Jujur, saya turut bersuka cita atas ikhtiyar dan buah prestasinya itu. Isi pesan itu nampak polos, diungkap dengan tulus dan sejujur-jujurnya, yang menggambarkan bahwa selama ini ia tak pernah sekali pun menjuarai kompetisi dan sekarang ia ketiban rejeki juara 1. dilihat dari kata-katanya, ia nampak bersorak bahagia. Saya yakin, hatinya ini sedang terbang melanglang buana ke angkasa. “Hwahaha..... Aku juara satu....” begitulah suara selebrasinya.
Pesan itu sekaligus datang sebagai tamparan kecil bagi saya. “Lha terus kapan aku juara satu?” Hmm.... hati saya mengiri, karena yaono-yaene ikut lomba berkali-kali saya belum pernah sekali pun merasakan atsmosfer menjadi yang pemenang terbaik: juara 1!
Saya yakin semua orang ingin menjadi yang terbaik, bahkan dalam kamus saya keinginan itu adalah sebuah usaha yang “wajib”. Seseorang harus berusaha menjadi The Best, hasilnya biar Allah yang menentukan.
Catatan ini saya tulis untuk melecut semangat-semangat orang yang telah berkali-kali gagal agar tidak mudah menyerah, karena setiap kompetisi selalu mempunyai kesan tersendiri. Delapan tahun Indra mengikuti kompetisi, dan baru 2009 ini dikaruniai Allah prestasi pertama yang langsung juara 1 adalah bonus dari kesabaran yang tidak pantas dipandang sebelah mata. Kita hanya berkewajiban berusaha dan berdoa, baru kemudian tawakkal pada apa pun hasilnya.
Sedikit mengutip pesan istri Bang Azrul dalam sinefilm PPT 3 di SCTV, “Sementara kita pilih bagaimana jalannya, biar nanti Allah yang mengatur bagaimana hasilnya.” Mari kita berkompetisi, fastabiqul khoirot! Semoga kita bisa mengambil hikmahnya. Amien… (^_^)
Dalam kamus teman-temannya, Indra adalah orang dengan pribadi unik, yang kalau berbicara terdengar sangat ngoyo dan very fast. Nada bicaranya menekan, kadang juga gaya bicaranya seperti orang sedang ingin menahan tawa. Bila saya boleh mendeskripsikan, wajahnya mirip jendral Cheng dalam film Yoko jaman dulu.
Namun di sini kita tak hendak menceritakan detail-detail gambaran bentuk Indra bagiamana, karena yang hasil karya asli bentukan Allah jangan dibicarakan lagi. Sudah Sunnatullah! Sekarang mari kita membicarakan usaha dan buah prestasi pemuda yang pernah populer dengan nama Parito ini.
7 Oktober 2009, hari ini, saya dikejutkan dengan berita bahagia dari dirinya via SMS. Begini isi pesannya: “Ris, kamu kan tahu sendiri… bertahun-tahun selama di MUS.YQ aku nggak pernah dapat juara apa pun. Selama ikut lomba aku selalu saja kalah, tapi hari ini aku juara 1 lomba debat. Alhamdulillah…”
Kabar tahadduts binni’mah itu kembali mengingatkan saya pada hari-hari di pesantren dulu. Selama 8 tahun mukim di pesantren, tiap tahunnya ia hampir selalu tampil sebagai “atlet” pidato mewakili residennya. setiap kali tampil, setiap kali pula ia menelan kekalahan. Namun ia bukanlah pribadi yang putus asa. Jiwa besarnya luar biasa!
Dalam kamus saya, Indra adalah pemuda yang jika dalam lagunya D’Masiv disebut pantang menyerah. Karena saya yakin, bahwa pemuda macam dia selalu mengamini kata Leo Tolstoy yang dikutip Andrea Hirata dalam Sang Pemimpi-nya: “Tuhan tahu, tapi menunggu...”
Saya bukanlah orang yang suka menarik “pajak kebahagiaan” seorang teman yang sedang merayakan kemenangan. Jujur, saya turut bersuka cita atas ikhtiyar dan buah prestasinya itu. Isi pesan itu nampak polos, diungkap dengan tulus dan sejujur-jujurnya, yang menggambarkan bahwa selama ini ia tak pernah sekali pun menjuarai kompetisi dan sekarang ia ketiban rejeki juara 1. dilihat dari kata-katanya, ia nampak bersorak bahagia. Saya yakin, hatinya ini sedang terbang melanglang buana ke angkasa. “Hwahaha..... Aku juara satu....” begitulah suara selebrasinya.
Pesan itu sekaligus datang sebagai tamparan kecil bagi saya. “Lha terus kapan aku juara satu?” Hmm.... hati saya mengiri, karena yaono-yaene ikut lomba berkali-kali saya belum pernah sekali pun merasakan atsmosfer menjadi yang pemenang terbaik: juara 1!
Saya yakin semua orang ingin menjadi yang terbaik, bahkan dalam kamus saya keinginan itu adalah sebuah usaha yang “wajib”. Seseorang harus berusaha menjadi The Best, hasilnya biar Allah yang menentukan.
Catatan ini saya tulis untuk melecut semangat-semangat orang yang telah berkali-kali gagal agar tidak mudah menyerah, karena setiap kompetisi selalu mempunyai kesan tersendiri. Delapan tahun Indra mengikuti kompetisi, dan baru 2009 ini dikaruniai Allah prestasi pertama yang langsung juara 1 adalah bonus dari kesabaran yang tidak pantas dipandang sebelah mata. Kita hanya berkewajiban berusaha dan berdoa, baru kemudian tawakkal pada apa pun hasilnya.
Sedikit mengutip pesan istri Bang Azrul dalam sinefilm PPT 3 di SCTV, “Sementara kita pilih bagaimana jalannya, biar nanti Allah yang mengatur bagaimana hasilnya.” Mari kita berkompetisi, fastabiqul khoirot! Semoga kita bisa mengambil hikmahnya. Amien… (^_^)
Langgan:
Entri (Atom)
