Namanya Indra Parito Utomo. Seperti pemuda pada umumnya, Indra adalah orang yang selalu berusaha menjaga fashion style-nya sedemikian rupa agar nampak keren dan fashionable, namun di mata teman-temannya, meski berdandan sekeren apapun ia tetap saja Parito yang unik. Pemuda dengan gaya seperti dia bisa kita temui di pinggiran simpang lima saat malam minggu, atau jika kita menonton televisi, kita bisa melihat orang-orang seperti Indra meloncat-loncat kegirangan di depan kamera reporter yang sedang meliput bencana banjir.
Dalam kamus teman-temannya, Indra adalah orang dengan pribadi unik, yang kalau berbicara terdengar sangat ngoyo dan very fast. Nada bicaranya menekan, kadang juga gaya bicaranya seperti orang sedang ingin menahan tawa. Bila saya boleh mendeskripsikan, wajahnya mirip jendral Cheng dalam film Yoko jaman dulu.
Namun di sini kita tak hendak menceritakan detail-detail gambaran bentuk Indra bagiamana, karena yang hasil karya asli bentukan Allah jangan dibicarakan lagi. Sudah Sunnatullah! Sekarang mari kita membicarakan usaha dan buah prestasi pemuda yang pernah populer dengan nama Parito ini.
7 Oktober 2009, hari ini, saya dikejutkan dengan berita bahagia dari dirinya via SMS. Begini isi pesannya: “Ris, kamu kan tahu sendiri… bertahun-tahun selama di MUS.YQ aku nggak pernah dapat juara apa pun. Selama ikut lomba aku selalu saja kalah, tapi hari ini aku juara 1 lomba debat. Alhamdulillah…”
Kabar tahadduts binni’mah itu kembali mengingatkan saya pada hari-hari di pesantren dulu. Selama 8 tahun mukim di pesantren, tiap tahunnya ia hampir selalu tampil sebagai “atlet” pidato mewakili residennya. setiap kali tampil, setiap kali pula ia menelan kekalahan. Namun ia bukanlah pribadi yang putus asa. Jiwa besarnya luar biasa!
Dalam kamus saya, Indra adalah pemuda yang jika dalam lagunya D’Masiv disebut pantang menyerah. Karena saya yakin, bahwa pemuda macam dia selalu mengamini kata Leo Tolstoy yang dikutip Andrea Hirata dalam Sang Pemimpi-nya: “Tuhan tahu, tapi menunggu...”
Saya bukanlah orang yang suka menarik “pajak kebahagiaan” seorang teman yang sedang merayakan kemenangan. Jujur, saya turut bersuka cita atas ikhtiyar dan buah prestasinya itu. Isi pesan itu nampak polos, diungkap dengan tulus dan sejujur-jujurnya, yang menggambarkan bahwa selama ini ia tak pernah sekali pun menjuarai kompetisi dan sekarang ia ketiban rejeki juara 1. dilihat dari kata-katanya, ia nampak bersorak bahagia. Saya yakin, hatinya ini sedang terbang melanglang buana ke angkasa. “Hwahaha..... Aku juara satu....” begitulah suara selebrasinya.
Pesan itu sekaligus datang sebagai tamparan kecil bagi saya. “Lha terus kapan aku juara satu?” Hmm.... hati saya mengiri, karena yaono-yaene ikut lomba berkali-kali saya belum pernah sekali pun merasakan atsmosfer menjadi yang pemenang terbaik: juara 1!
Saya yakin semua orang ingin menjadi yang terbaik, bahkan dalam kamus saya keinginan itu adalah sebuah usaha yang “wajib”. Seseorang harus berusaha menjadi The Best, hasilnya biar Allah yang menentukan.
Catatan ini saya tulis untuk melecut semangat-semangat orang yang telah berkali-kali gagal agar tidak mudah menyerah, karena setiap kompetisi selalu mempunyai kesan tersendiri. Delapan tahun Indra mengikuti kompetisi, dan baru 2009 ini dikaruniai Allah prestasi pertama yang langsung juara 1 adalah bonus dari kesabaran yang tidak pantas dipandang sebelah mata. Kita hanya berkewajiban berusaha dan berdoa, baru kemudian tawakkal pada apa pun hasilnya.
Sedikit mengutip pesan istri Bang Azrul dalam sinefilm PPT 3 di SCTV, “Sementara kita pilih bagaimana jalannya, biar nanti Allah yang mengatur bagaimana hasilnya.” Mari kita berkompetisi, fastabiqul khoirot! Semoga kita bisa mengambil hikmahnya. Amien… (^_^)
Rabu, 07 Oktober 2009
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)

0 komentar:
Poskan Komentar