Saya yakin, bahwa semua orang perlu rasanya untuk mengeluarkan apa yang ada di hati dan pikiran, meskipun hanya lewat tulisan. Apalagi jika uneg-uneg rasanya sudah menyesak di dada. Lha… tapi bingung saat akan memulai menulis, tidak tahu mau nulis apa, tapi rasa ingin menulis sudah membuncah.
Aneh memang. Di saat ada ide, ada gagasan, ada uneg-uneg, tapi tangan ini kaku rasanya diajak untuk melaju menuturkan isi hati melalui tulisan. Tapi memang begitulah, Andai saja otak kita punya tombol “print” mungkin gampang saja mengeluarkan isi pikiran dan hati kita. Tinggal pencet tolmbol “print” lalu pilih subject file yang hendak dicetak, langsung keluar apa yang hendak kita tuang dalam tulisan. Sayangnya otak kita hanya bisa memerintah tangan untuk bergerak sesuai dengan apa yang diperintahkan. Tapi ya begitu, tidak semua yang kita mau bisa langsung dituangkan dalam bentuk tulisan. Lalu bagaimana caranya? Mudah saja.
Saya mempunyai seorang teman yang minta diajari proses kreatif menulis. Lalu saya suruh dia untuk mengamati apa yang dia lihat, apa yang dia dengar, apa yang dia setuh, apa yang dia rasa, dan apa yang dia pikir. Sudah hampir dua jam dia “bersemedi” mengamati apa saja, namun goresan pena di atas kertas tak kunjung ia mulai. “Aku masih bingung tentang bagaimana caranya memulai tulisan,” ujarnya.
“lha kamu pengen nulis yang bagaimana?” tanya saya. “aku pengen nulis kaya’ Andrea Hirata,” jawabnya polos. “ya udah… coba saja,” balas saya simple. Selang tiga puluh menit ia kembali lagi, “Nggak bisa… sulit!” teman saya mengadu. “Ya sudah… gaya penulisan yang kamu suka kaya’ siapa?” tanya saya padanya. “Aku suka gayanya Kang Abik,” dia menjawab sembari tersenyum. “ya udah…. coba tulis…” saya mencoba menyemangatinya lagi. Selang dua puluh menit ia kembali mengeluh “wahh…. Nggak bisa! Aku bingung nulisnya,” keluhnya. Huhh…. Saat itu saya berfikir konyol, “apa saya harus bunuh diri dulu, biar kejadian ngendat itu bisa ditulisnya. Bisa jadi bahan inspirasinya.” Hwihihi… guyon saya dalam hati.
Pikiran-pikiran tentang “ini nulisnya bagaimana?” - “bagaimana menulis ini?” - “apa harus begini?” keraguan dan pertanyaan-pertanyaan kecil di kepala kadang-kadang memang menghambat dan menyurutkan minat dan keinginan seseorang untuk menulis.
Sampai saya ada ide untuk memancingnya lagi, “besok kamu kuliah kan? Dosennya siapa?” tanya saya santai. “iya kuliah… Besok jadwalnya Pak fulan, orangnya galak. Kalo pas mata kuliahnya, nggak ada orang berani tidur,” jawabnya panjang lebar. “Lha… sekarang bayangkan saja wajahnya, deskripsikan wajah beliau dan suasana kelas. Coba itu.” pancing saya.
Kembali ke depan Komputer (untuk kesekian kalinya) dia terbayang wajah sang dosen. Ia mendeskripsikan wajahnya, terbayang kegalakannya, terbayang suasana kelasnya saat diajar dosen, dan tingkah laku teman-teman sekelas saat kuliah. Tanpa terasa tangan teman saya itu sudah mengetikan cerita-cerita tentang si dosen killer dan suasana kelas.
“Ahh… selesai sudah, lega rasanya. Puas hati saya, akhirnya keluar juga yang ada di dalam dada,” ujar teman saya itu usai mengakhiri catatannya. Lalu saya bisikkan sepotong kalimat di telinganya. “menulis itu mudah, yang sulit adalah meniru gaya tulisan orang lain.”
* YAB, tinggal di kerikiltumpul@gmail.com
Kamis, 08 Oktober 2009
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)

1 komentar:
bener kang, setiap manusia itu punya gaya tulisan yang unik dan otentik. sangat tidak etis bila seseorang menginginkan gaya tulisannya seperti (katakanlah) Kang Abik.
Namun kalo sebagai contoh model tulisan yang bermutu sih gak apa-apa...
Poskan Komentar