Membicarakan Idul Fitri sekarang memang sudah basi, tapi mari kita bicarakan idul fitri itu dengan kesetiaan, karena memang banyak hal yang membuat hati saya mengharu biru saat lebaran tiba. Misalnya teman saya asal Kudus, sesama lulusan TBS yang jadi ustadz plus penjaga madrasah di Jakarta yang terpaksa menunda pulang mudiknya karena harus menyelengarakan bermacam-macam kegiatan. Mulai dari memimpin anak-anak takbir keliling kampung di malam hari sampai menjadi ketua panitia zakat fitrah di kampung barunya, di Jakarta.
Dia, teman saya itu berujar, “jika saya mudik. Saya harus menempuh perjalanan jauh, dan memakan biaya yang tidak sedikit pula. Biarlah saya di sini saja, saya setia dan menikmati profesi saya.” Mendengar itu hati saya komplain, “lalu dimana romantisme antara dirimu dengan ayah-ibumu?” tapi yang jelas saya begitu bersyukur, saya bisa berkumpul dengan sanak keluarga saya.
Terharu juga saat mengingat teman saya di Tasik yang menjadi korban gempa saat Ramadan kemarin. Rumahnya roboh dan dia kini menumpang di rumah saudaranya. Terharu pula saat mengingat tepat satu tahun lalu, dimana tetangga saya meninggal saat tanggal satu Syawal. Sungguh kejadian yang sangat ironi. Keluarga tetangga saya itu harus bersedih di tengah kegembiraan orang lain merayakan Idul Fitri. Bisa dibayangkan, betapa bingung dan repotnya menjadi ahli mushibah. Mereka harus mengurusi hal-ihwal si mayit, mulai dari pemandian jenazah, pengafanan, pemakaman, hingga pengajian selama tujuh hari. Untung saja, ada banyak tetangga yang mempunyai solidaritas tinggi. Sebagai tetangga yang baik, kami tetap setia dengan berempati dan besimpati atas kematian ini.
Tetapi baiklah. Di tengah sinema haru itu, marilah kita pungut sisa-sisa yang masih ada, soal-soal yang mengharukan hati kita, setidaknya hati kecil saya ini. Biar ia menjadi sedikit penentram dan menumbuhkan lagi kerindukan kita atas pentingnya kebersamaan dan nilai kesetiaan.
Di antara sederet soal yang membuat haru itu adalah HP tua milik saya. Ia tampak terengah-engah dan ngos-ngosan menerima berondongan SMS yang terlalu deras untuk HP se-usianya. Sebentar-sebentar HP ini sudah berteriak bahwa ia tak kuat lagi menerima SMS. “no place for new message,” ujarnya.
Satu-satu pesan masuk itu saya hapus agar bisa menerima SMS lagi. Bukan pekerjaan yang mudah memang, karena sambil membuang, aku sempatkan untuk membalasnya, dengan sentuhan pribadi, dengan pilihan diksi dan gaya bahasa yang aku rangkai sedemikian rupa. Bukan SMS generik, yang sekali bikin bisa dikirim untuk seluruh umat sejagat. Aku tahu pentingnya menyebut nama-nama, dan menempatakn mereka sebagai pribadi istimewa di hatiku. Aku sangat mengerti hebohnya perasaan pihak yang dihargai dengan cara yang tentu saja special.
Jika cuma berpikir tentang mode, tentang ketuaan dan tentang gaya, rasanya HP ini sudah layak untuk saya campakkan, karena bahkan keponakan saya pun turut mengejeknya. ”Itu HP kalo dipake melempar kepala kambing bisa klenger!,” katanya. Tetapi setiap hendak menjual atau menukartambah benda ini, entah kenapa saya selalu teringat logika poligami. Banyak suami yang menyakiti istri pertama dengan kawin lagi cuma karena ia telah peot dan tua. Padahal, istri pertama tersebut begitu besar jasanya. Dia (istri pertama) itulah yang telah setia menemaninya.
Begitu pula dengan HP saya ini. HP ini telah menemani saya dalam Touring Education PNMHII di UNAIR Surabaya, HP ini juga yang membantu dan menemani saya di ASEAN University Student Conference, HP ini juga telah menghubungkan silaturrahim saya dengan banyak orang penting, mulai dari orang tua, saudara, guru, dosen, sahabat, bahkan pejabat. HP ini juga pernah sangat berjasa dalam menyelamatkan saya saat tersesat di Semarang tempo dulu. Sungguh! Saya telah menyematkan bintang jasa pada HP butut saya ini.
Saat orang-orang dengan bangga menenteng BlackBerry, maka dengan sebongkah setia dan rendah hati saya cukup membawa HP strawberry, karena warna HP saya ini memang merah, yang melambangkan kobaran cinta yang membakar siapa pun yang mendekat! Harga romantisme dan jasa yang telah diberikan HP ini pada saya begitu banyak. saya tidak bisa membayangkan betapa pedih dan sakit hatinya HP saya ini jika saya melegonya dengan HP baru. Maka selama HP ini masih bisa bersuara dan kirim SMS, biarlah ia menjadi teman hidup saya. Saya tetap meyakini, Life’s love and loyality! Biarkah rasa sayang ini menjadi harga sebuah kesetiaan HP ini pada saya. Semoga HP ini tetap membawa berkah. Amien.
Rabu, 30 September 2009
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)

1 komentar:
oalah kang,, mbok yoho HP iku disimpen neng kotak emas. bagaimanapun juga barang tua perlu perawatan extra.
apa nggak kasian HP sampeyan yang udah mota-mati dilelep sama kantong celana sampeyan yang ketat.
sumonggo.... HP sampeyan di ganti, yang lama disimpan untuk monumen sejarah. mungkin nanti HP sampeyan jadi barang antik saat sampeyan tua....
Poskan Komentar