Ingin hasil perfect, atau setidaknya mendekati sempurna. Itulah harapanku atas berbagai mata kuliah di prodiku, Hubungan Internasional (FISIP UNWAHAS Semarang). Berbagai mata kuliah ingin aku lahap dengan serius. Mulai dari yang belum pernah aku kenal sebelumnya, seperti Pengantar Ilmu Politik, Pengantar Sosiologi, Pengantar Filsafat, dan Pengantar Ekonomi, hingga yang jamak aku dapatkan semasa sekolah dulu, seperti Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Pancasila, dan Pendidikan Agama. Padahal sebenarnya, untuk mengejar standart minimum beasiswa yang aku peroleh pun cukup dengan perolehan 3,00. Tapi aku tak mau berhenti pada nilai itu, kepalang basah! maka target IP-ku pun tidak main-main, yakni minimal 3,80.
IP 3,80 jelas bukan jumlah yang sedikit, mengingat batas maksimum IP adalah 4,00, jadi target 3,80 adalah mendekati sempurna. Saat mematok target itu pun aku yakin, bahwa cara meraihnya pun tidak asal-asalan, mesti jungkir balik, dan yang pasti harus lebih ganas dalam melahap buku-buku tebal. Lebih tepatnya, aku harus bisa menjadi predator buku! Bukan hanya menjadi kutu buku.
Jumlah teman sekelasku pun tidak banyak, hanya sekitar 15 anak saja. (Maklum... secara umum, peminat FISIP memang tidak begitu banyak. Apalagi jurusan Hubungan Internasional yang di Jateng hanya ada di UNWAHAS saja. Itu jelas mempengaruhi nilai jual HI di wilayah Jateng.) lima belas anak itu, semuanya peraih beasiswa awal, dengan skill di atas rata-rata (tapi tidak semuanya dech) tapi tentu saja, kami semua tetap harus berpacu menjadi yang terbaik. Lebih-lebih aku, yang sudah masuk list beberapa dosen FISIP. (Malu dong kalau nggak bisa be the best)
Tapi cobaan menimpaku, sifat asliku muncul: malas belajar! Maklum... zaman sekolah dulu. Di madrasah dan pesantrenku dulu aku tidak begitu ngopeni pelajaran semacam ini. Pelajaran-pelajaran umum adalah hal yang jamak diabaikan olehku. Walhasil, waktu-waktuku di sini memang lebih banyak bermuara pada sisi lain dari mata kuliah.
Awal-awal masuk dulu, aku diminta dosen dan beberapa senior untuk jadi panitia Kongres Akbar Pemilihan BEM. Terus terang, awalnya aku tidak mau, karena ini jelas akan mengurangi jatah waktu belajarku (hwehehe... gayaku sok rajin belajar) tapi ternyata, anak baru yang jadi panitia tidak cuma aku saja, ada beberapa yang jadi panitia (ternyata mereka daftar sendiri untuk jadi panitia).
Setelah acara yang menurutku cuma mengobral omong kosong dan membuang-buang waktu dan uang itu selesai, aku kembali jadi YAB. Sssttt... diam-diam aku mulai merancang impian-impianku untuk UNWAHAS. Program-program yang dulu pernah aku rencanakan sebelum benar-benar masuk UNWAHAS, aku rancang, dan tentu saja aku mengumpulkan massa untuk berepot-repot, menyibukkan diri dengan program-programku dalam “menghidupkan” nyawa emulasi kampus. Mengingat jargon zaman ini adalah, “kuasailah media” maka media internal kampus menjadi obyek utama kami. Akhirnya, jadilah buletin elwahid, yang alhamdulillah mendapat respon positif dari banyak kalangan universitas. Welehh... welehhh.... semoga aja langgeng. Amien. (namun elwahid sebenarnya saya harapkan akan berkembang menjadi majalah kampus. Doain aja yach...)
Namun, tidak sedikit pula yang merespon negatif, terutama kalangan-kalangan “mamang”, (maaf jika saya anggap demikian, karena sifat pesimis mereka yang acap mengganggu kinerja kami.) Dari sini saja pikiranku segera menerawang ke mana-mana. Ooo... kubu-kubu di sini ternyata mirip partai-partai di negaraku. Sama warnanya namun bisa pecah menjadi dua, tiga dan seterusnya. Sama niat baiknya, tetapi macam-macam cara menjalankannya. Lumayan jika cuma beda cara. Tetapi ada niat baik yang begitu banyaknya sementara kebaikannya sendiri tidak muncul-muncul juga. Hingga akhirnya media yang saya dirikan itu pun membuat beberap pihak kalng kabut dan akhirnya turut memperbarui media mereka. Konflik emulasi di kampusku itu sungguh mengisyaratkan tentang bermacam-macam keadaan yang ada di otakku. “OK... silahkan kalian main keras, saya tidak berminat. Kami ingin main cerdas saja! Hwehehe.....” kilahku saat itu. Karena kerja keras saat ini tidak lebih jitu daripada kerja cerdas.
Setelah sukses dengan program pertama, aku masih seperti dulu: mencintai sastra. Maka aku tegaskan untuk mengikuti sayembara cerpen se-Jateng, Jatim, dan DIY. Walhasil, hari-hariku pun sibuk dengan berfikir kreatif menyusun ide dalam cerpen. Hingga hasilnya, lahirlah cerpen berjudul: LiNGKARAN. (sayang... gagal jadi the best. hehehe...)
Kesibukan itu jelas memakan waktuku untuk belajar, padahal saat itu aku sadar betul bahwa aku sedang UTS (Ujian Tengah Semester) tapi karena keburu “nafsu” cerpen. (yach... mungkin karena terlalu cinta, hehehe....) maka hari-hariku lebih bertumpu pada pergulatan metafora, diksi, dan gaya bahasa, daripada berpusing-pusing dengan buku-buku tebal kuliah. Ironisnya, aku lebih banyak keluar duit untuk buku-buku sastra daripada buku-buku Sosial Politik. (Gila kan??)
Terus tertang kesibukan-kesibukan yang tidak begitu penting itulah yang banyak bermuara pada hari-hariku di UNWAHAS, hingga masa UAS selesai, ada dua mata kuliah yang dulu aku tidak sempat mengumpulkan tugas paper, makalah. Hingga akhirnya aku curhat dengan salah satu senior yang memang akrab denganku, kebetulan tahun kemarin dia menjadi peraih IP terbaik. Muhammad Masykur Afandi, aku acap memanggilnya Bang Fandi. “Alhamdulillah... UAS kemarin aku bisa ngerjain dengan optimis sukses, tapi Bang.... aku belum buat tugas membuat makalah Pancasila dan Agama.... kira-kira gimana ya??” keluhku saat itu. Dan aku masih ingat betul saat dia menasehatiku, “Ingin hasil yang terbaik kok tidak melakukan yang terbaik.” Saat itu aku langsung sadar diri, target 3,80 mungkin memang harus dibiarkan melayang saat ini. Aku merasa sangat berdosa dengan diriku, dosenku, orang tuaku. (kesepakatan dengan sahabat-sahabatku di universitas lain pun jadi kebayang.... “yang IP-nya sedikit ngasi hadiah ama yang IP-nya tinggi.” Ughhh.... berapa rupiah yang mesti aku keluarkan untuk memberi hadiah-hadiah pada mereka? Huhuhu...)
Namun aku tidak ingin larut dalam penyesalan, toh, aku memang masih asing dengan berbagai mata kuliah itu, (terus terang materi-materi FISIP, terutama HI, bikin aku cepet BeTe. yach.. masih asing sich... secara, aku kan dulu jebolan IPA). Namun semua itu hilang saat aku dikabari bang Fandi, bahwa dia telah mengecek, IP-ku lebih dari harapan, 3,90. Subhanallah.... aku langsung mencak-mencak, jengkulitan. Hwohoho... (Ya Allah... saya janji dech, semester depan saya akan berjuang lebih sungguh-sungguh dalam belajar dan kuliah. Saya tidak ingin mengecewakan impian saya, orang tua, dan dosen saya.) saya jadi teringat dengan pesan salah salah dosen saya, “Apa yang kamu pikirkan, itulah yang akan terjadi.”
Syukron ‘ala a’tho’ika, ya Allah.... Engkau selalu memberi lebih dari apa yang aku harap.Wallahu A’lam. Terakhir dan ini terpenting bagiku, mata kuliah yang sebenarnya asing ini mengajariku meyakini satu hal: “Jika segala sesuatu dikerjakan sesuai porsinya, tak peduli betatapun lambat kita berusaha, selama kita berfikir kita bisa, maka kita akan menuai hasil maksimal juga! If U think U can, U can. OK”
Minggu, 01 Maret 2009
Tahun Awal di UNWAHAS: IP-ku 3,90
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)

3 komentar:
alah aneh2. penting iso mangan laha wis mas, iyo tah ora??
alah aneh2. penting iso mangan laha wis mas, iyo tah ora??
alah aneh2. penting iso mangan laha wis mas, iyo tah ora??
Poskan Komentar