Sejarah kita menyodorkan sketsa rumit bahwa proses untuk naik menjadi presiden dan turun dari tahta Istana Merdeka ternyata bisa menjadi dua hal yang sama-sama serunya. Para pemimpin di negeri ini selalu melewati cara yang sulit, bahkan kadang menyakitkan, ketika harus turun dari kursi yang didudukinya manakala datang akhir masa jabatannya. Sumber rasa sakit itu sebenarnya datang dari satu sebab saja, yaitu cara turun yang tidak lazim. Cara yang wajar bukannya kita semua tidak tahu, tapi entah karena apa, para pemimpin itu selalu saja tergiur dengan cara-cara keliru yang dirancangnya sendiri.
Kekeliruan mereka tentu bisa bertingkat-tingkat kelasnya. Dari yang sekadar tak puas jika hanya menjabat sekali, lalu ingin menjabat untuk yang kedua, sok merasa rakyat masih menghendaki ia memimpin lalu dengan segala cara ingin memperpanjang masa jabatannya, hingga tingkat yang paling rimba: kemauan untuk berkuasa selamanya. Akhirnya, proses turun yang mestinya menjadi laku alamiah dan biasa-biasa saja justru mengakibatkan babak belur, luka-luka, dan rasa sakit belaka.
Hikmah dari cara turun yang kacau itu ialah segagah dan sebesar apa pun pemimpin kita, tak peduli berapa banyak bintang jasa yang dikumpulkannya, betapa memukau karisma kebapakannya, mereka ternyata selalu seperti para pendaki gunung yang gagah menaklukkan puncak, namun kebingungan ketika harus mencari jalan untuk kembali turun ketika waktunya tiba. Karena itu, yang akhirnya terjadi adalah bingung dan nervous yang amat sangat, juga suasana yang mendebarkan di mana-mana. Kronologi selanjutnya, suhu politik naik, ekonomi kacau, demo di mana-mana, pejabat tunggang langgang, adegan saling dorong, jatuh, dan akhirnya rasa sakit yang tak terhindarkan.
Pemimpin yang turun menapaki anak tangga satu demi satu dengan wajah tersenyum sambil dipegangi sebelah tangannya seperti anjuran filsafat mikul dhuwur adalah impian semua pemimpin kita. Pak Harto bahkan pernah berkali-kali menyampaikan, bahwa mengisi masa pensiun sambil madheg pandita ratu adalah impian mewah terakhirnya. Tapi, ternyata tetangga dekat kita, Singapura-lah yang sukses mempraktikkannya. Lee Kwan Yew yang dua tahun lebih muda dibanding Pak Harto lengser keprabon pada 1990 setelah menjabat sejak 1965. Setelah kursi perdana menteri ditempati Goh Chok Tong, Lee didudukkan di kursi goyang sebagai menteri Kanan di jajaran kementerian Goh.
Dibandingkan Singapura, Indonesia punya jam terbang lebih tinggi soal gonta-ganti pemimpin. Telah enam kali kita punya pengalaman ganti presiden sejak republik ini berdiri. Tapi, mulai presiden pertama Soekarno, kemudian Soeharto, Habibie, Gus Dur, hingga Megawati, semua lengser dengan cara yang tidak happy.
"Inilah saatnya menutup satu babak dalam sejarah Singapura dan memulai babak baru," kata Goh Chok Tong dalam pidato serah terima jabatan kepada Lee Hsien Loong, perdana menteri yang sekarang. Ada kesan rapi ketika era lama berakhir dan era baru mengganti. Jauh berbeda dengan kita, cobalah simak bagaimana Soekarno jatuh lalu digantikan Soeharto, dan Soeharto pun akhirnya diturunkan paksa. Habibie jatuh, lalu digantikan Gus Dur yang tak lama kemudian digusur. Sebagai presiden dengan bakat humor yang nyaris tiada tanding, proses turunnya Gus Dur dari kursi istana ternyata tak sedikit pun mampu memancing tawa kita seperti humor-humor Gus Dur biasanya. Kita semua ingat, pada saat-saat terakhir kejatuhan Gus Dur, televisi menyiarkan tayangan langsung dari istana yang sedang panas dan Gus Dur yang selama rezim Ode Baru selalu mampu menghibur kita semua dituntun ke sana-kemari hanya dengan celana kolor.
Kita memang tidak tahu secara detail bagaimana Soekarno turun dari kursi kepresidenan kala itu karena belum datang era televisi yang bisa menyiarkan secara langsung detik-detik presiden dijatuhkan. Tapi, dari berbagai referensi dan cerita mulut berbagai versi, presiden pertama kita, agaknya, memang jatuh tersungkur secara menyedihkan. Soekarno tak sekadar terpeleset dari anak tangga kekuasaannya yang tinggi, tapi ada semacam proses mendorong yang begitu kasarnya.
SBY memang baru akan mengakhiri masa jabatannya pada 2009. Namun, proses saling dorong antara kubu Mega dan SBY, tampaknya, telah dimulai sejak awal tahun kemarin, sekadar untuk menegaskan bahwa "duel" memang belum berakhir. "Pemerintahan saat ini, saya lihat seperti penari poco-poco. Maju satu langkah, mundur satu langkah. Maju dua langkah, mundur dua langkah. Kadang malah hanya jalan di tempat," kata Megawati dalam pidato politik Ulang Tahun Ke-35 PDIP di GOR Sriwijaya Palembang tempo hari (jawa pos 31/1).
Sindiran itu langsung dibalas kubu SBY. "Kalau kebijakan SBY tentang pemberantasan kemiskinan ibarat penari poco-poco, Megawati ibarat penari undur-undur. Tidak pernah maju, tetapi mundur terus," kata ketua Fraksi Partai Demokrat DPR. (jawa pos 2/2).
Yang menjadi misteri dari babak ending ini adalah bagaimana detik-detik Presiden SBY dalam mengakhiri masa baktinya. Tapi sepertinya menurunkan presiden dari singgasananya agaknya lebih keren dan mengasyikan dari pada berusaha menurunkan harga BBM yang tidak sesegera diturunkan Presiden SBY. Lepas dari warming up dorong-mendorong antara kubu Mega dan SBY. Bagaimana dengan serah terima jabatan rektor di UNWAHAS? Sudahkah madheg pandita ratu? Agaknya ada yang kesulitan untuk turun dari “singgasana sementara” di rektorat. Sebagai warga NU yang selalu menjunjung ta’awun. Mari kita bantu beliau turun dari kursi empuk yang telah membawa beliau tidur terlelap dalam jabatan sementara. Wallahu a’lam.