Sabtu, 22 Maret 2008

Aku Mencintaimu, Cinta


Cinta mengajak kita untuk merefleksi apa yang terjadi di sekitar kita, tentang pemahaman hak asasi manusia dan berbagai hal yang ada di dalamnya. Dengan cinta, saya mencoba menuliskan bahwa persoalan cinta juga merupakan persoalan benturan keadaan, benturan realitas, kemampuan, dan segala persoalan eksistensi identitas manusia tertentu. Seni bercinta yang diadopsi dari Barat menjadi “turis-turis” asing yang bisa melihat, menilai, menyentuh, dan acap kali menikmati cinta di balik etalase cinta sebelum saatnya. Sehingga persoalan cinta tak ubahnya seperti barang dagangan yang dipajang di deretan persoalan hidup, tentang kesewang-wenangan, perampasan, dan segal persoalan manusia yang lemah dan hanya sebatas penilaian, tidak bisa berbuat apa-apa dan malah terkadang ditindas dengan mengatasnamakan cinta sejati, karena persoalan cinta telah menjadi komoditi, dan mungkin itu benar adanya.

Akan tetapi terlalu berlebihan untuk secepat itu menilai dan menentukan keadaan cinta karena persoalan cinta sebenarnya tidak hanya persoalan impor/ ekspor nilai budaya, benturan peradaban, etika, nilai moral, tapi juga merupakan persoalan komitmen semua pihak untuk bertanggungjawab terhadap penghargaan nilai kemanusiaan, jadi persoala cinta adalah komitmen universal, komitmen kita bersama.

Syaikh Abdul Qadir Al Jailani pun turut angkat bicara tentang cinta, “Cinta adalah syiar bagi orang-orang yang tulus, ia adalah sumber sifat-sifat terpuji bagi para pengelana. Sumber kesabaran meski ketika sedang tak diuji, sumber rasa syukur meski tak diberi nikmat, dan su,mber keridhaan atas apa yang telah ditakdirkan atasnya. Dia tidak melihat kepada orang lain, tidak memikirkan apa pun selain Allah.”

Kemudian beliau Syekh Abdul Qadir Al Jailani masih melanjutkan kata-katanya, “Apakah engkau mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki rasa cemburu? Ia mencipatakanmu hanya untuk-Nya, mengapa engkau bersama dengan selain dirinya? Apakah Anda tidak mendengar firman-Nya yang berbunyi, “Allah mencintai mereka dan mereka mencintainya.” Dan juga firman-Nya, “Dan tidaklah Ku cipatakan jin dan manusia melainkan untuk menyembahku?” (Adz-dzariyat:56). Tapi saya hendak jujur, dalam kapasitas saya sebagai manusia biasa, saya tidak bisa lepas untuk tetap mencintai dan dicintai sesama makhluk, dan saya tidak bisa mengelak bahwa mencintai wanita adalah sebuah hal yang mengandung banyak resiko, termasuk di antaranya adalah sakit, benci, rindu, cemburu, dan lain sebagainya. Tapi bagaimana pun juga, saya tetap mencintainya. Nastaghfiruka 'ala khottoyana, Ya Robb..... Aku mencintai-Mu dan mencintainya. Wallahu A’lam.

Selasa, 04 Maret 2008

Syukurku Pada-Mu

Setelah sekian lama tidak “menyentuh” blog ini (karena banyaknya aktivitas saya akhir-akhir ini. hehehe... pura-pura sibuk), ada sebuah rindu yang terus menjajah hati saya untuk ber-tahadduts binni’mah pada khalayak. Bahwa sudah selayaknya saya berterima kasih pada rekan-rekan OSIS dan beberapa teman sekelas atas rayuan dan paksaan mereka yang telah berhasil mendorong saya untuk mengikuti lomba apresiasi sastra dalam cerpen dan puisi di UMK. Karena, tidak jauh berbeda dengan 10 Januari 2008, 10 Februari kemarin ternyata masih menyimpan banyak kejutan yang meminang kebahagiaan di hati saya. Alhamdulillah, predikat terbaik ke-2 berhasil mendarat di nomor 66, YAB. Meski target juara (terbaik pertama) masih belum berhasil saya genggam, tapi memang itulah yang saat ini bisa saya raih dalam kapasitas saya sebagai seorang yang masih bodoh, puji syukur tetap harus saya panjatkan meski dalam kesekian kalinya, saya harus rela berada di bawah perempuan (juara satu perempuan-red).

Tidak itu saja, dalam sebuah talk show tentang kepenulisan di UMK, oleh salah seorang narasumber, saya diberi hadiah berupa bukunya yang berjudul Wiralaba, Minim Rugi Maksim di Laba. Meski itu adalah buku tentang bisnis ekonomi, tapi mendapatkannya secara cuma-cuma yang diberikan oleh penulisnya sendiri melalui sebuah game cerdas tentu mengandung nilai prestis tersendiri.

Agaknya, tahun 2008 merupakan tahun untuk membangkitkan gairah saya dalam berprestasi. Setelah (lumayan) sukses dengan perolehan gelar terbaik ke-dua dalam lomba cerpen yang diselenggarakan Muhammadiyah pada bulan Januari, alhamdulillah pada Februari-nya saya “berhasil” bersyukur dengan predikat terbaik ke-dua dalam lomba puisi di UMK. Meski sebenarnya kekecewaan itu ada karena pihak perempuan lebih mendominasi jalannya lomba sekaligus kemenangannya. Tapi bagaimanapun juga saya tetap bersyukur dengan pemberian ini. (Lagian siapa sich yang nggak bahagia ketika berhasil mendapat hadiah 1 juta,hehehe…)

Di lain pihak, saya diberi beasiswa madrasah selama semester genap dengan predikat murid berprestasi 2008 (sementara). Masya’Allah… rezeki sepertinya terus mengalir masuk rekening (tapi juga nggak pernah berhenti keluar, hehehe…) Allah, syukron ‘ala kulli ni’amika… Ana ‘abdukal faqir, ila ridloka, wa mahabbatika… Faghfirli waliwalidayya wa ahlana, fi dunya wad dien. Amien… Wallahu A’lam.