
Cinta mengajak kita untuk merefleksi apa yang terjadi di sekitar kita, tentang pemahaman hak asasi manusia dan berbagai hal yang ada di dalamnya. Dengan cinta, saya mencoba menuliskan bahwa persoalan cinta juga merupakan persoalan benturan keadaan, benturan realitas, kemampuan, dan segala persoalan eksistensi identitas manusia tertentu. Seni bercinta yang diadopsi dari Barat menjadi “turis-turis” asing yang bisa melihat, menilai, menyentuh, dan acap kali menikmati cinta di balik etalase cinta sebelum saatnya. Sehingga persoalan cinta tak ubahnya seperti barang dagangan yang dipajang di deretan persoalan hidup, tentang kesewang-wenangan, perampasan, dan segal persoalan manusia yang lemah dan hanya sebatas penilaian, tidak bisa berbuat apa-apa dan malah terkadang ditindas dengan mengatasnamakan cinta sejati, karena persoalan cinta telah menjadi komoditi, dan mungkin itu benar adanya.
Akan tetapi terlalu berlebihan untuk secepat itu menilai dan menentukan keadaan cinta karena persoalan cinta sebenarnya tidak hanya persoalan impor/ ekspor nilai budaya, benturan peradaban, etika, nilai moral, tapi juga merupakan persoalan komitmen semua pihak untuk bertanggungjawab terhadap penghargaan nilai kemanusiaan, jadi persoala cinta adalah komitmen universal, komitmen kita bersama.
Syaikh Abdul Qadir Al Jailani pun turut angkat bicara tentang cinta, “Cinta adalah syiar bagi orang-orang yang tulus, ia adalah sumber sifat-sifat terpuji bagi para pengelana. Sumber kesabaran meski ketika sedang tak diuji, sumber rasa syukur meski tak diberi nikmat, dan su,mber keridhaan atas apa yang telah ditakdirkan atasnya. Dia tidak melihat kepada orang lain, tidak memikirkan apa pun selain Allah.”
Kemudian beliau Syekh Abdul Qadir Al Jailani masih melanjutkan kata-katanya, “Apakah engkau mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki rasa cemburu? Ia mencipatakanmu hanya untuk-Nya, mengapa engkau bersama dengan selain dirinya? Apakah Anda tidak mendengar firman-Nya yang berbunyi, “Allah mencintai mereka dan mereka mencintainya.” Dan juga firman-Nya, “Dan tidaklah Ku cipatakan jin dan manusia melainkan untuk menyembahku?” (Adz-dzariyat:56). Tapi saya hendak jujur, dalam kapasitas saya sebagai manusia biasa, saya tidak bisa lepas untuk tetap mencintai dan dicintai sesama makhluk, dan saya tidak bisa mengelak bahwa mencintai wanita adalah sebuah hal yang mengandung banyak resiko, termasuk di antaranya adalah sakit, benci, rindu, cemburu, dan lain sebagainya. Tapi bagaimana pun juga, saya tetap mencintainya. Nastaghfiruka 'ala khottoyana, Ya Robb..... Aku mencintai-Mu dan mencintainya. Wallahu A’lam.
