Rabu, 30 Januari 2008

Renungan dalam Kejujuran

Adalah Dirimu

Adalah sebuah meja itu

Tempat kita bertukar pandang

Saat lembam kurasakan dalam angan

Dan tetes kembang Lily merintik merayu


Pada kertas putih itu

Kau menyedot hatiku dalam pusaran mata

Dalam titik tak terkendali

Aku selalu temukanmu... dalam deru kasih merindu

Bak fluida raksa yang tak leleh

Kau abadi dalam ingatan


Dalam gumpal darah, di situlah hati

Tempatku tanam cinta diam-diam

Saat kulihat aku dalam pandangan

Namun tak ada yakin itu terjadi,

Karena kau... adalah kesempurnaan


Aku berpegang tangan, mata bertukar pandang

Demikian juga hatiku

Saat bulan jadi sewarna arang
Dibakar jenuh dalam tegukan ilalang


Tiada sangka terjadi...

Dalam sebuah labirin

Aku menemukanmu dalam dingin

Kau mengerang rindu dalam pelukan

Membendung hasrat dalam kecupan

Hingga atmaku terbang, menirwana

Ooh... cinta, kaukah itu?


Lalu aku menunggu...

Kata yang bergulir jatuh dari dinding-dinding bisu
Dan aku menunggu...

Kata yang terpasung dalam sentuhan mesramu


Sentuhanmu... memusnah segala lelah

Meski bumi, langit, semesta terbelah

Meski mata menangis darah

Tiadakan setitik melebihi yang sudah

Ketika kejujuranmu memecah hatiku

Cinta... kaukah itu?


Cinta...

Menjadi darah dalam tubuhku

Memberi kehidupan dalam atmaku

Ragamu... Mewarnai denting waktu,

Dan kau datang... bak fajar merobek gulita

Saat katakan, "aku mencintaimu"

Dan suaraku menjawab, "cintaku juga padamu"

Karena kau... adalah dirimu.

Kerikil tumpul
Sabtu, 26 Januari 2008.
dalam sebuah labirin cinta dunia
yang hangat sekaligus mencekam kerinduan surgawi.

Ada sesuatu yang berbeda antara cinta dan nafsu. Cinta selalu tampil memukau dengan cahayanya yang terang benderang dan mewangi, sementara nafsu adalah polusi udara, mencemarkan kasih sayang atas nama cinta. Cinta murni adalah 24 karat, cinta yang tercampur secuil nafsu adalah emas 22 karat, sedangkan cinta yang terlalu bernafsu adalah cinta berkarat.
Namun, secara manusiawi, apalagi dalam kapasitas kita sebagai manusia biasa. Kita harus jujur, bahwa kita tidak mungkin menerapkan cinta 24 karat, karena Allah memberikan fitrah kepada manusia berupa nafsu. Tapi tak ada alasan bagi kita untuk lengah begitu saja, mengingat Allah juga membekali kita otak dan hati. Nafsu butuh pengendalian, agar tidak menjadi ledakan bom atom yang membinasakan. Cukup letupan cinta saja yang akan memperindah dunia kita. Jangan terlalu, dan saya sadar akan hal itu. Sesuatu yang besar justru akan membahayakan. Sepanjang hidup Anda, ingatlah bahwa cinta adalah api dan air, kita tentu tak ingin api menjadi kobaran panas yang melalap rumah-rumah kalbu, dan tentu kita juga tak ingin air menjadi banjir yang mengguyur, menghanyutkan sukma.
Sebagai makhluk kecil, kita cukup butuh secuil saja dari apa yang kita harap. Kita tak perlu muluk-muluk ingin ini dan itu, semuanya. Cukup cinta adalah merah dan biru. bukan yang lainnya. Wallahu A'lam

Minggu, 20 Januari 2008

Sepotong Syukur di Antara Syukur

Ada banyak kejutan dan kebahagiaan dalam Januari 2008 ini. mulai dari keterkejutan saya ketika mengetahui Among Kurnia Ebo, (penulis lepas asal Jogja) ternyata juga mengenali YAB. dan lebih bahagianya lagi, saya diberi hadiah berupa bukunya yang berjudul Menulis Gak Perlu Bakat. Tidak itu saja, di depan puluhan pasang mata yang memadati seminar bertajuk "The Spirit of Writing" itu saya didoakan semoga menjadi penulis besar Indonesia.

Pada 10 Januari, Alhamdulillah cerpen saya berhasil menjadi terbaik kedua dalam lomba cerpen se-Kabupaten Kudus di Muhammadiyyah Kudus. Meski hati saya belum puas karena target juara belum pernah tercapai. dan lebih parahnya lagi, lagi-lagi saya harus berada satu strip di bawah perempuan. seandainya juara itu diraih seorang laki-laki tentu saya tidak begitu mempersoalkan. tapi kali ini perempuan. Untuk yang kesekian kalinya saya harus rela satu strip di bawah perempuan.

Meski begitu, apa pun yang telah saya peroleh adalah sebuah karunia terbaik yang saya dapatkan saat itu. mungkin belum saatnya orang bodoh seperti saya merasakan manisnya gelar juara. Memang benar apa kata saudara saya, mencapai ilmu ikhlas memang sulitnya minta ampun. tapi saya sadar. sekali lagi saya berkata. Apa pun yang diberikan Allah pada kita adalah yang terbaik untuk kita. Bukankah kita wajib bersyukur atas apa pun yang berhasil kita peroleh? Lain syakartum la'azidannakum wa lain kafartum, inna adzaby lasyadiid. Maafkan hamba-Mu yang bodoh ini ya Allah.... cukupkan hamba atas kelengahan ini. Ampuni hamba.


Kamis, 03 Januari 2008

Happy Birthday in Unhappy New Year

Tinggal menunggu hitungan jam, usiaku akan bertambah satu tahun. Genap menjadi 19 th. memperingati hari ulang tahun bagi saya bukan berarti saya tidak selaras dengan background saya sebagai muslim, apalagi saya adalah seorang santri. Bagi saya, moment seperti ini adalah langkah positif, selagi masih dalam batas-batas wajar dalam koredor Islam. saya menyebut moment ini sebagai peringatan dengan proses muhasabah menuju kedewasaan, atau lebih tepatnya dijadikan sebagai langkah awal dalam introspeksi diri, bahwa semakin bertambah usiaku berarti semakin berkurang umurku di bumi. 04 Januari 1989 - 04 Januari 2008, tak terasa sudah 19 tahun aku hidup di bumi, sedangkan amal ibadahku masih tak seberapa di banding dosa-dosaku. Ya Allah.... betapa dloifnya hamba-Mu ini.

Ya Allah.... ampuni segala dosaku, hapus segala kesalahanku, jadikanlah aku menjadi hamba-Mu yang taat pada-Mu, mampu dan mau menjauhi segala larangan-Mu, mampu dan mau menjalankan segala perintah-Mu. Hamba sadar, kadang hamba terlalu berlebihan dalam mencintai ciptaan-Mu, maka ampunilah hamba, Ya Allah... dan ampuni pula kekasih hamba yang juga terlalu mencintai hamba. Jadikanlah cinta kami menjadi perantara cinta kepada-Mu, Ya Allah...... Jadikanlah kami menjadi orang yang sukses di dunia dan akhirat-Mu. Amien............

Ya Allah...... Indonesia sudah terlalu lama meneteskan air mata, hingga musibah banjir ada dimana-mana. Dengan tangis penuh iba dan doa penuh harap, lindungi lami dari amarah-Mu. Ampuni kami, tabahkanlah saudara-saudara kami yang tertimpa musibah. kuatkanlah hati mereka. Guru-guru kami, teman-teman, kerabat kami. selamatkan mereka semua. Hanya kepada-Mu lah kami pantas mengiba. kabulkanlah doa kami. Hamba sadar, hamba bukan siapa-siapa, hamba hanya sekerdil buruk di antara banyak ciptaan-Mu yang baik, ibarat sebuah kerikil tumpul di antara bebatuan emas. tapi atas nama manusia tersempurna, Nabi Muhammad Shollallahu 'alaihi wassalam, kabulkanlah doa hamba. cukup pengabulan itu sebagai hadiah terindah di ulang tahun ini.

Secuil Pertanyaan tentang Cinta

just for my love

my God... if I fall in love,
please, put my love to someone who love You
to increase my strength to love You..
my God... if I fall in love,
please, keep my love to her so,
i dont love her more than i love You
my God... if I fall in love,
permit me to touch a heart who chiseled her love to You so,
I dont fall into a dale of illusion love
my God... if I fall in love,
keep my heart to her so,
i dont go from Your heart
my God... verily, I request to You to love You forever
to love everybody who love You
and everything that can accompany me to love You...

the "lovable's" lover


Puisi di atas adalah karya dari seorang santriwati PPYUR MAK NU BANAT Kudus, (kali ini saya tak hendak mempublikasikan namanya, karena saya yakin si Empunya puisi tak hendak namanya terpampang di sini, yang jelas dia adalah mantan Ketua OSIS MA NU Banat Kudus). Saya copy tanpa merubah tulisan, hanya sedikit merapikan tata letaknya agar enak dibaca.

Sungguh, puisi cinta yang sangat bernuansa religi. Kata si Empunya puisi, bait-baitnya dimaksudkan sebagai sebuah ungkapan bahwa cinta sejati hanya milik-Nya. Terlepas bagaimana pembaca menilainya, yang jelas, kata-katanya santun, mendidik, simple, dan tidak aneh-aneh. (Yach... mungkin perlu sedikit perubahan agar benar-benar tidak terasa aneh. Sedikit saja, sudah cukup) Tapi, kata-kata yang terangkai dalam bahasa Inggris tersebut bisa menjadi tidak simple dan terasa sangat aneh bagi orang yang tidak mengerti bahasa Inggris. Saya sendiri pun “belum berani” membuat puisi yang tersusun dalam bahasa Inggris, karena saya belum menguasai sastra Inggris. Boro-boro sastra Inggris, sastra Indonesia saja masih kalang kabut. Lagi pula, bahasa Inggris saya masih parah, apalagi sastranya? Hehe....
Sayang, puisi tersebut gagal masuk buletin madrasah saya, el Insyaet. Bukan karena puisi tersebut jelek atau aneh, sungguh bukan. Bukan itu sebabnya, melainkan redaksi saya yang teledor, terlambat membuka email. Ketika itu redaksi el Insyaet membuka email setelah proses penerbitan.

Mungkin ada tanda tanya besar dalam pikiran anda saat mengetahui ada puisi di atas. Mengapa justru puisinya yang saya masukkan dalam posting kali ini? Kenapa tidak puisi saya sendiri? Apakah ada hubungan cinta antara kami berdua sebagaimana gosip yang dulu pernah berkembang di madrasah Mu’allimat? (Aneh kan? Kenapa justru kabar burung itu mencuat di Mu’allimat, kenapa tidak di Banat? Huhh... saya juga tidak tahu kenapa. Aneh!!) Bukan, bukan, bukan itu jawabannya. Begini jawabannya, Saya hanya turut mengamini pendapatnya, dengan begitu hati saya terpanggil untuk mempublikasikan puisi cinta-nya sebagai sebuah ungkapan bahwa cinta sejati hanya milik-Nya. Karena kemarin si Empunya puisi tersebut menanyakan apa arti cinta menurut saya. Dia heran dan sedikit isykal dengan puisi karya saya di blog ini (Wanita dari Utara. Puisi pada artikel berjudul CINTA). Dan atas keheranan itulah dia akhirnya “bertanya” via email, “menurut anda apa sich itu cinta????” (kalimat tanya-nya tidak saya rubah sedikit pun, termasuk empat tanda tanya yang menghebohkan itu, hehehe....). sekedar intermezzo, subject email-nya pun tidak main-main, “Saya tertantang untuk Bertanya.”

Begini isi emailnya, (yang saya ambil hanya poin pentingnya saja). “.......Membaca puisi anda berjudul Wanita dari Utara, anda berkata yang anda bahas adalah tentang refleksifitas cinta tersebut....tapi kenapa orientasi anda jelas pada....(anda tahu sendiri) mungkin,,, jiwa kepuitisan orang berbeda satu sama lain, yang dimaksud..bagaimana jika ada orang yang memaknai puisi tersebut berbeda dengan maksud anda...kenapa anda tidak memakai bahasan lain dalam puisi tersebut..karena jelas dalam puisi tersebut denotasi kelihatan... dan...ternyata anda suka membahas cinta,cinta, dan cinta.... Ada Apa sich dengan Cinta????.....”

Banyak orang menganalogkan cinta seperti kentut (maaf ya sebelumnya), bila ditahan sakit perut, bila dikeluarkan orang-orang pada ribut. Dan itu pula yang dulu pernah menimpa diri saya. Ada juga yang mengartikan cinta sebagai garam kehidupan, hidup tanpa cinta akan terasa hambar dan tidak berarti. Tapi menurut zodiak saya, capricon. Cinta bagi capricon adalah suatu kebutuhan, begitu mereka mendapatkannya, mereka akan memperlakukannya sebagai barang berharga. Capricorn sangat setia selama pasangannya selalu bersedia membantunya.

Sebenarnya terlalu banyak definisi dari cinta. Tergantung cinta yang bagaimana, siapa yang merasakannya dan kepada siapa cinta itu diberikan.
Cinta adalah permainan, bagi orang yang gak serius dengannya.
Cinta adalah kekuatan, bagi orang yang kesepian karenanya.
Cinta adalah kesempurnaan, bagi orang yang sangat mendambakannya.
Cinta adalah kebutuhan, bagi orang yang memdambakannya.
Cinta adalah ibadah, bagi seorang hamba pada Robb-nya, seorang suami pada istrinya, istri pada suaminya, ibu pada anaknya, anak pada ibunya, dst.
Ya... gini nich efeknya, kalo satu kata poligami sama banyak makna.
Tapi secara garis besar, CINTA menurut saya adalah sebuah rasa yang bisa melahirkan kerinduan terhadap sesuatu, sebuah, atau seseorang yang diinginkannya, hingga menumbuhkan perasaan bahagia pada setiap orang yang merasakannya. (Wallahu A’lam).

Lalu bagaimana tanggapan saya mengenai puisi saya yang agak di-isykal-kan oleh “dia”?. tenang.... tentu saya akan menjawabnya. Cinta bagi saya mempunyai makna yang luas, dan (mungkin) tak terbatas. Saya sendiri menyebutnya sebagi makhluk tak terbatas, karena memang mempunyai arti yang luas. oleh sebab itu, bisa saja refleksifitas cinta seseorang diorientasikan pada Robb-nya melalui makhluk-Nya. Yach.... karena saya sendiri bukan seorang penyair, kalau dianggap pun penyair, tentu hanya penyair amatiran, sudah gitu gadungan lagi, hehe...... saya pun hanya berlagak sok bisa menulis puisi, atau dengan kata lain, pura-pura bisa berpuisi. Bukankah tidak selamanya pura-pura itu buruk. Iya kan? tapi saya tidak pura-pura bercinta. Lha, sedangkan dia?, Wallahu A’lam.

Rabu, 02 Januari 2008

Kurikulum SMS

Apakah benar remaja Indonesia rendah dalam minat membaca dan menulis? Saya rasa itu tidak benar. Fakta menyebutkan bahwa remaja di negara kita, (termasuk saya, dan mungkin juga anda), sangat gemar dalam membaca dan menulis, terutama jika yang ditulis dan dibaca adalah SMS (Short Message Service). Bahkan tanpa kita sadari, minta kita dalam dua aktifitas tersebut sangat tinggi. Karena memang selain biayanya yang ekonomis, caranya pun praktis. Tinggal pencet-pencet, maka dalam hitungan detik pesan sampai tujuan.

Data riil menyebutkan. Dua tahun lalu Presiden SBY pernah memberikan sebuah nomor yang langsung diakses R-1. Nomor tersebut adalah 9949, yang difungsikan sebagai penampung suara-suara rakyat. “Silahkan rakyat menyampaikan keluhan tentang apa saja, nanti akan ditidaklanjuti”, begitulah kurang lebih kata Presiden waktu itu. Dalam tempo waktu dua hari, sebanyak 15.300 SMS masuk ke nomor tersebut. Berdasarkan data tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa hobi masyarakat Indonesia terhadap baca-tulis SMS sangat tinggi.

Fakta di atas mengindikasikan bahwa remaja, atau masyarakat Indonesia pada umumnya sangat ‘gila’ terhadap budaya membaca dan menulis yang konon sudah mulai punah. SMS tidak hanya sebagai fenomena baru. Lebih dari itu, SMS adalah sebuah aktifitas keseharian yang telah membudaya dan telah menjadi kegiatan yang tak bisa, atau katakanlah sulit ditinggalkan.

Menyikapi begitu maraknya hobi remaja Indonesia terhadap baca tulis SMS, setidaknya ada langkah serius dari pihak DIKNAS untuk membuat sebuah terobosan baru yang saya sebut dengan “Kurikulum SMS”. Sebuah kurikulum yang bisa merefleksikan sebuah pola pendidikan yang sifatnya SIMPLE, CEPAT, AKURAT, dan HEMAT. Tidak seperti kurikulum-kurikulum pada umumnya yang penuh dengan teori, teori, dan teori, hingga akhirnya siswa lebih memilih SMS-an daripada mendengar guru berteori panjang lebar. Wallahu A'lam.