Ku nanti hujan di pucuk musim rindudan ternyata tibalah saatnya, Novemberkusaatnya menuai lembaran-lembaran airmenebar jejak di atas tanah
Rintiknya merdu…Semarang yang panas menjadi dingin.
Basah…
Saat itulah datang rintik-rintik
Menemani anak-anak berpesta air
Sorak sorai…
Inilah saatnya kita membajak ceritatentang atap-atap yang berdenting
tentang senandung bambu di atas tanah basah.
tapi kini..
masih kunanti hujan kata di pucuk musim ceritabersama kesibukan yang meruntuhkan tanggul-tanggul idedan bibit-bibit imajinasiku masih saja mandul.
Aku kehilangan banyak kata!
Kesibukanku mulai deras.
Membanjiri waktu khayalku
Dan seseorang di ujung sana
Memasungku dalam buaian kata
Aku dihujam rintik-rintik kata yang bisa membuatku angkuh
Ingatkan aku…
Aku masih bukan siapa-siapa!
November telah dimulai dari kemarin
Tapi ladang karyaku masih gundul
Dan waktu bertanam kata nampaknya semakin mahal
PP. Wahid Hasyim Sampangan - Semarang, 06 November 2008

0 komentar:
Poskan Komentar