Rabu, 07 Mei 2008

Sajak Hujan

Kutulis sajak ini kala malam menangis,
saat ratusan mata di sana mendung gerimis

Sebenarnya…
Sering kali aku dan mereka berkata,
ketika orang memuji milikku dan milik mereka,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan-Nya,

harta ini hanya titipan-Nya,
keluarga ini hanya titipan-Nya,
dan semua ini memang hanya titipan-Nya

Kadang aku berpikir…
Adakah aku dan mereka punya hak atas sesuatu yang bukan milik kami?
namun… beberapa gumpal hati mereka terasa berat,
nampak isak tangis di sekeliling imajinasiku
ketika titipan itu diminta kembali oleh-Mu, Tuhan…


Ketika diminta kembali, kami sebut itu musibah
kusebut itu ujian, tes kesabaran
kusebut dengan istilah apa saja untuk melukiskan bahwa itu derita
Meraba-raba ikhlas hati atas kehendak-Nya


Ada gurat sedih di wajah Sabtu siang hari,
saat kudapati kabar duka Jum’at pagi
Cadar kabut duka menutup wajah langit Jepara
ada hujan yang merintik di sajakku ini
Mautul ‘Alim Mautul ‘Alam.


Tuhan… tabahkan hati mereka,
Sematkan pula ikhlas itu padaku dan keluargaku
karena aku dan mereka juga akan meninggalkan dan ditinggalkan.


kerikil tumpul

Kudus, 1 Mei 2008
7 Hari wafatnya KH. Muhtarom, Batealit Jepara
Dalam dingin, ditemani isak tangis langit di Aula DPRD Kudus.

0 komentar:

Poskan Komentar