Kutulis sajak ini kala malam menangis,
saat ratusan mata di sana mendung gerimis
Sebenarnya…
Sering kali aku dan mereka berkata,
ketika orang memuji milikku dan milik mereka,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan-Nya,
harta ini hanya titipan-Nya,
keluarga ini hanya titipan-Nya,
dan semua ini memang hanya titipan-Nya
Kadang aku berpikir…
Adakah aku dan mereka punya hak atas sesuatu yang bukan milik kami?
namun… beberapa gumpal hati mereka terasa berat,
nampak isak tangis di sekeliling imajinasiku
ketika titipan itu diminta kembali oleh-Mu, Tuhan…
Ketika diminta kembali, kami sebut itu musibah
kusebut itu ujian, tes kesabaran
kusebut dengan istilah apa saja untuk melukiskan bahwa itu derita
Meraba-raba ikhlas hati atas kehendak-Nya
Ada gurat sedih di wajah Sabtu siang hari,
saat kudapati kabar duka Jum’at pagi
Cadar kabut duka menutup wajah langit Jepara
ada hujan yang merintik di sajakku ini
Mautul ‘Alim Mautul ‘Alam.
Tuhan… tabahkan hati mereka,
Sematkan pula ikhlas itu padaku dan keluargaku
karena aku dan mereka juga akan meninggalkan dan ditinggalkan.
Kudus, 1 Mei 2008
7 Hari wafatnya KH. Muhtarom, Batealit Jepara
Dalam dingin, ditemani isak tangis langit di Aula DPRD Kudus.

0 komentar:
Poskan Komentar