my God... if I fall in love,
please, put my love to someone who love You
to increase my strength to love You..
my God... if I fall in love,
please, keep my love to her so,
i dont love her more than i love You
my God... if I fall in love,
permit me to touch a heart who chiseled her love to You so,
I dont fall into a dale of illusion love
my God... if I fall in love,
keep my heart to her so,
i dont go from Your heart
my God... verily, I request to You to love You forever
to love everybody who love You
and everything that can accompany me to love You...
the "lovable's" lover
Puisi di atas adalah karya dari seorang santriwati PPYUR MAK NU BANAT Kudus, (kali ini saya tak hendak mempublikasikan namanya, karena saya yakin si Empunya puisi tak hendak namanya terpampang di sini, yang jelas dia adalah mantan Ketua OSIS MA NU Banat Kudus). Saya copy tanpa merubah tulisan, hanya sedikit merapikan tata letaknya agar enak dibaca.
Sungguh, puisi cinta yang sangat bernuansa religi. Kata si Empunya puisi, bait-baitnya dimaksudkan sebagai sebuah ungkapan bahwa cinta sejati hanya milik-Nya. Terlepas bagaimana pembaca menilainya, yang jelas, kata-katanya santun, mendidik, simple, dan tidak aneh-aneh. (Yach... mungkin perlu sedikit perubahan agar benar-benar tidak terasa aneh. Sedikit saja, sudah cukup) Tapi, kata-kata yang terangkai dalam bahasa Inggris tersebut bisa menjadi tidak simple dan terasa sangat aneh bagi orang yang tidak mengerti bahasa Inggris. Saya sendiri pun “belum berani” membuat puisi yang tersusun dalam bahasa Inggris, karena saya belum menguasai sastra Inggris. Boro-boro sastra Inggris, sastra Indonesia saja masih kalang kabut. Lagi pula, bahasa Inggris saya masih parah, apalagi sastranya? Hehe....
Sayang, puisi tersebut gagal masuk buletin madrasah saya, el Insyaet. Bukan karena puisi tersebut jelek atau aneh, sungguh bukan. Bukan itu sebabnya, melainkan redaksi saya yang teledor, terlambat membuka email. Ketika itu redaksi el Insyaet membuka email setelah proses penerbitan.
Mungkin ada tanda tanya besar dalam pikiran anda saat mengetahui ada puisi di atas. Mengapa justru puisinya yang saya masukkan dalam posting kali ini? Kenapa tidak puisi saya sendiri? Apakah ada hubungan cinta antara kami berdua sebagaimana gosip yang dulu pernah berkembang di madrasah Mu’allimat? (Aneh kan? Kenapa justru kabar burung itu mencuat di Mu’allimat, kenapa tidak di Banat? Huhh... saya juga tidak tahu kenapa. Aneh!!) Bukan, bukan, bukan itu jawabannya. Begini jawabannya, Saya hanya turut mengamini pendapatnya, dengan begitu hati saya terpanggil untuk mempublikasikan puisi cinta-nya sebagai sebuah ungkapan bahwa cinta sejati hanya milik-Nya. Karena kemarin si Empunya puisi tersebut menanyakan apa arti cinta menurut saya. Dia heran dan sedikit isykal dengan puisi karya saya di blog ini (Wanita dari Utara. Puisi pada artikel berjudul CINTA). Dan atas keheranan itulah dia akhirnya “bertanya” via email, “menurut anda apa sich itu cinta????” (kalimat tanya-nya tidak saya rubah sedikit pun, termasuk empat tanda tanya yang menghebohkan itu, hehehe....). sekedar intermezzo, subject email-nya pun tidak main-main, “Saya tertantang untuk Bertanya.”
Begini isi emailnya, (yang saya ambil hanya poin pentingnya saja). “.......Membaca puisi anda berjudul Wanita dari Utara, anda berkata yang anda bahas adalah tentang refleksifitas cinta tersebut....tapi kenapa orientasi anda jelas pada....(anda tahu sendiri) mungkin,,, jiwa kepuitisan orang berbeda satu sama lain, yang dimaksud..bagaimana jika ada orang yang memaknai puisi tersebut berbeda dengan maksud anda...kenapa anda tidak memakai bahasan lain dalam puisi tersebut..karena jelas dalam puisi tersebut denotasi kelihatan... dan...ternyata anda suka membahas cinta,cinta, dan cinta.... Ada Apa sich dengan Cinta????.....”
Banyak orang menganalogkan cinta seperti kentut (maaf ya sebelumnya), bila ditahan sakit perut, bila dikeluarkan orang-orang pada ribut. Dan itu pula yang dulu pernah menimpa diri saya. Ada juga yang mengartikan cinta sebagai garam kehidupan, hidup tanpa cinta akan terasa hambar dan tidak berarti. Tapi menurut zodiak saya, capricon. Cinta bagi capricon adalah suatu kebutuhan, begitu mereka mendapatkannya, mereka akan memperlakukannya sebagai barang berharga. Capricorn sangat setia selama pasangannya selalu bersedia membantunya.
Sebenarnya terlalu banyak definisi dari cinta. Tergantung cinta yang bagaimana, siapa yang merasakannya dan kepada siapa cinta itu diberikan.
Cinta adalah permainan, bagi orang yang gak serius dengannya.
Cinta adalah kekuatan, bagi orang yang kesepian karenanya.
Cinta adalah kesempurnaan, bagi orang yang sangat mendambakannya.
Cinta adalah kebutuhan, bagi orang yang memdambakannya.
Cinta adalah ibadah, bagi seorang hamba pada Robb-nya, seorang suami pada istrinya, istri pada suaminya, ibu pada anaknya, anak pada ibunya, dst.
Ya... gini nich efeknya, kalo satu kata poligami sama banyak makna.
Tapi secara garis besar, CINTA menurut saya adalah sebuah rasa yang bisa melahirkan kerinduan terhadap sesuatu, sebuah, atau seseorang yang diinginkannya, hingga menumbuhkan perasaan bahagia pada setiap orang yang merasakannya. (Wallahu A’lam).
Lalu bagaimana tanggapan saya mengenai puisi saya yang agak di-isykal-kan oleh “dia”?. tenang.... tentu saya akan menjawabnya. Cinta bagi saya mempunyai makna yang luas, dan (mungkin) tak terbatas. Saya sendiri menyebutnya sebagi makhluk tak terbatas, karena memang mempunyai arti yang luas. oleh sebab itu, bisa saja refleksifitas cinta seseorang diorientasikan pada Robb-nya melalui makhluk-Nya. Yach.... karena saya sendiri bukan seorang penyair, kalau dianggap pun penyair, tentu hanya penyair amatiran, sudah gitu gadungan lagi, hehe...... saya pun hanya berlagak sok bisa menulis puisi, atau dengan kata lain, pura-pura bisa berpuisi. Bukankah tidak selamanya pura-pura itu buruk. Iya kan? tapi saya tidak pura-pura bercinta. Lha, sedangkan dia?, Wallahu A’lam.
Sungguh, puisi cinta yang sangat bernuansa religi. Kata si Empunya puisi, bait-baitnya dimaksudkan sebagai sebuah ungkapan bahwa cinta sejati hanya milik-Nya. Terlepas bagaimana pembaca menilainya, yang jelas, kata-katanya santun, mendidik, simple, dan tidak aneh-aneh. (Yach... mungkin perlu sedikit perubahan agar benar-benar tidak terasa aneh. Sedikit saja, sudah cukup) Tapi, kata-kata yang terangkai dalam bahasa Inggris tersebut bisa menjadi tidak simple dan terasa sangat aneh bagi orang yang tidak mengerti bahasa Inggris. Saya sendiri pun “belum berani” membuat puisi yang tersusun dalam bahasa Inggris, karena saya belum menguasai sastra Inggris. Boro-boro sastra Inggris, sastra Indonesia saja masih kalang kabut. Lagi pula, bahasa Inggris saya masih parah, apalagi sastranya? Hehe....
Sayang, puisi tersebut gagal masuk buletin madrasah saya, el Insyaet. Bukan karena puisi tersebut jelek atau aneh, sungguh bukan. Bukan itu sebabnya, melainkan redaksi saya yang teledor, terlambat membuka email. Ketika itu redaksi el Insyaet membuka email setelah proses penerbitan.
Mungkin ada tanda tanya besar dalam pikiran anda saat mengetahui ada puisi di atas. Mengapa justru puisinya yang saya masukkan dalam posting kali ini? Kenapa tidak puisi saya sendiri? Apakah ada hubungan cinta antara kami berdua sebagaimana gosip yang dulu pernah berkembang di madrasah Mu’allimat? (Aneh kan? Kenapa justru kabar burung itu mencuat di Mu’allimat, kenapa tidak di Banat? Huhh... saya juga tidak tahu kenapa. Aneh!!) Bukan, bukan, bukan itu jawabannya. Begini jawabannya, Saya hanya turut mengamini pendapatnya, dengan begitu hati saya terpanggil untuk mempublikasikan puisi cinta-nya sebagai sebuah ungkapan bahwa cinta sejati hanya milik-Nya. Karena kemarin si Empunya puisi tersebut menanyakan apa arti cinta menurut saya. Dia heran dan sedikit isykal dengan puisi karya saya di blog ini (Wanita dari Utara. Puisi pada artikel berjudul CINTA). Dan atas keheranan itulah dia akhirnya “bertanya” via email, “menurut anda apa sich itu cinta????” (kalimat tanya-nya tidak saya rubah sedikit pun, termasuk empat tanda tanya yang menghebohkan itu, hehehe....). sekedar intermezzo, subject email-nya pun tidak main-main, “Saya tertantang untuk Bertanya.”
Begini isi emailnya, (yang saya ambil hanya poin pentingnya saja). “.......Membaca puisi anda berjudul Wanita dari Utara, anda berkata yang anda bahas adalah tentang refleksifitas cinta tersebut....tapi kenapa orientasi anda jelas pada....(anda tahu sendiri) mungkin,,, jiwa kepuitisan orang berbeda satu sama lain, yang dimaksud..bagaimana jika ada orang yang memaknai puisi tersebut berbeda dengan maksud anda...kenapa anda tidak memakai bahasan lain dalam puisi tersebut..karena jelas dalam puisi tersebut denotasi kelihatan... dan...ternyata anda suka membahas cinta,cinta, dan cinta.... Ada Apa sich dengan Cinta????.....”
Banyak orang menganalogkan cinta seperti kentut (maaf ya sebelumnya), bila ditahan sakit perut, bila dikeluarkan orang-orang pada ribut. Dan itu pula yang dulu pernah menimpa diri saya. Ada juga yang mengartikan cinta sebagai garam kehidupan, hidup tanpa cinta akan terasa hambar dan tidak berarti. Tapi menurut zodiak saya, capricon. Cinta bagi capricon adalah suatu kebutuhan, begitu mereka mendapatkannya, mereka akan memperlakukannya sebagai barang berharga. Capricorn sangat setia selama pasangannya selalu bersedia membantunya.
Sebenarnya terlalu banyak definisi dari cinta. Tergantung cinta yang bagaimana, siapa yang merasakannya dan kepada siapa cinta itu diberikan.
Cinta adalah permainan, bagi orang yang gak serius dengannya.
Cinta adalah kekuatan, bagi orang yang kesepian karenanya.
Cinta adalah kesempurnaan, bagi orang yang sangat mendambakannya.
Cinta adalah kebutuhan, bagi orang yang memdambakannya.
Cinta adalah ibadah, bagi seorang hamba pada Robb-nya, seorang suami pada istrinya, istri pada suaminya, ibu pada anaknya, anak pada ibunya, dst.
Ya... gini nich efeknya, kalo satu kata poligami sama banyak makna.
Tapi secara garis besar, CINTA menurut saya adalah sebuah rasa yang bisa melahirkan kerinduan terhadap sesuatu, sebuah, atau seseorang yang diinginkannya, hingga menumbuhkan perasaan bahagia pada setiap orang yang merasakannya. (Wallahu A’lam).
Lalu bagaimana tanggapan saya mengenai puisi saya yang agak di-isykal-kan oleh “dia”?. tenang.... tentu saya akan menjawabnya. Cinta bagi saya mempunyai makna yang luas, dan (mungkin) tak terbatas. Saya sendiri menyebutnya sebagi makhluk tak terbatas, karena memang mempunyai arti yang luas. oleh sebab itu, bisa saja refleksifitas cinta seseorang diorientasikan pada Robb-nya melalui makhluk-Nya. Yach.... karena saya sendiri bukan seorang penyair, kalau dianggap pun penyair, tentu hanya penyair amatiran, sudah gitu gadungan lagi, hehe...... saya pun hanya berlagak sok bisa menulis puisi, atau dengan kata lain, pura-pura bisa berpuisi. Bukankah tidak selamanya pura-pura itu buruk. Iya kan? tapi saya tidak pura-pura bercinta. Lha, sedangkan dia?, Wallahu A’lam.

0 komentar:
Poskan Komentar