Apakah benar remaja Indonesia rendah dalam minat membaca dan menulis? Saya rasa itu tidak benar. Fakta menyebutkan bahwa remaja di negara kita, (termasuk saya, dan mungkin juga anda), sangat gemar dalam membaca dan menulis, terutama jika yang ditulis dan dibaca adalah SMS (Short Message Service). Bahkan tanpa kita sadari, minta kita dalam dua aktifitas tersebut sangat tinggi. Karena memang selain biayanya yang ekonomis, caranya pun praktis. Tinggal pencet-pencet, maka dalam hitungan detik pesan sampai tujuan.
Data riil menyebutkan. Dua tahun lalu Presiden SBY pernah memberikan sebuah nomor yang langsung diakses R-1. Nomor tersebut adalah 9949, yang difungsikan sebagai penampung suara-suara rakyat. “Silahkan rakyat menyampaikan keluhan tentang apa saja, nanti akan ditidaklanjuti”, begitulah kurang lebih kata Presiden waktu itu. Dalam tempo waktu dua hari, sebanyak 15.300 SMS masuk ke nomor tersebut. Berdasarkan data tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa hobi masyarakat Indonesia terhadap baca-tulis SMS sangat tinggi.
Fakta di atas mengindikasikan bahwa remaja, atau masyarakat Indonesia pada umumnya sangat ‘gila’ terhadap budaya membaca dan menulis yang konon sudah mulai punah. SMS tidak hanya sebagai fenomena baru. Lebih dari itu, SMS adalah sebuah aktifitas keseharian yang telah membudaya dan telah menjadi kegiatan yang tak bisa, atau katakanlah sulit ditinggalkan.
Menyikapi begitu maraknya hobi remaja Indonesia terhadap baca tulis SMS, setidaknya ada langkah serius dari pihak DIKNAS untuk membuat sebuah terobosan baru yang saya sebut dengan “Kurikulum SMS”. Sebuah kurikulum yang bisa merefleksikan sebuah pola pendidikan yang sifatnya SIMPLE, CEPAT, AKURAT, dan HEMAT. Tidak seperti kurikulum-kurikulum pada umumnya yang penuh dengan teori, teori, dan teori, hingga akhirnya siswa lebih memilih SMS-an daripada mendengar guru berteori panjang lebar. Wallahu A'lam.
Rabu, 02 Januari 2008
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)

0 komentar:
Poskan Komentar