Beberapa hari yang lalu ada sebuah email yang masuk ke mail box saya. Isinya cuma tiga buah kata, tapi cukup jitu untuk membuat jantung saya berdegup kencang dan membuat dahi saya berekrut ketika membacanya. Adalah kalimat “I Love U” yang tertulis dalam email yang dikirim oleh seseorang yang tak saya ketahui siapa, dan dimana sebenarnya dia berada. Yang jelas email itu dikirim oleh seseorang yang beralamat email melinda.sherpa@gmail.com
Keterkejutan saya pada isi email itu langsung buru-buru saya hapus dari memori hati dan otak saya. Sebab saya pikir, saya tak perlu bingung untuk mencari tahu siapa sebenarnya pengirim email tersebut, meski di sana tertulis jelas nama pengirimnya. Tapi sekali lagi, saya rasa saya tak perlu tahu siapa dia sebenarnya. Bukannya sombong kepada pengirimnya atau apatis terhadap isi emailnya, tapi saya pikir (mungkin) itu hanya iseng-iseng pengirimnya belaka, atau bisa saja pengirimnya memang sengaja mengerjai saya. Oleh sebab itu, maka saya pun tak punya inisiatif sama sekali untuk menanggapinya dengan membalas email tersebut. Lagi pula, jika isi email itu serius pun, saya tak hendak menyikapinya serius, apalagi membalasnya. Karena saya punya alasan yang lebih serius dari pada isi email tersebut.
Sikap cuek saya terhadap isi email itu tidak lantas membuat saya apatis terhadap satu kata ‘sakti’ yang ada di dalamnya, yakni kata LOVE. Entah kenapa, setelah kedapatan kata itu, ‘hobi’ saya dalam mengulas kata perihal cinta tiba-tiba muncul kembali.
Siapa pun tahu, arti love adalah cinta, tapi cinta yang bagaimana, seperti apa, dan kepada siapa cinta itu ada, ternyata masih sangat abstrak untuk diulas. Bagi saya kerajaan cinta belum bisa dijelaskan secara konkrit dan spesifik, karena wilayah kerajaan cinta masih terlalu luas untuk dikelilingi.
Cinta, menurut saya adalah sebuah kata yang sakral, hingga saya tak berani memberikannya pada setiap orang. Saya takut salah memberi, karena cinta saya hanya untuk orang yang pantas saya cintai. (Lagi pula, siapa yang mau saya cintai? hehehe... ) Tapi, watak manusia pada umumnya adalah ingin mencintai dan dicintai.
Cinta adalah kelenjar rangsang yang tidak selalu aktif di syaraf fisik. Ia bisa berupa insight, pengolahan emosi pada hati kecil kita. Namun ternyata, cinta tak selalu indah seperti di awal kita mengenalnya. Persahabatan sedekat apapun, tak pernah memilah-milah apa itu cinta atau hanya kedengkian semata. Permasalahan tentang cinta kadang justru timbul dari sahabat dekat, atau orang kepercayaan kita sendiri, karena cinta tak sebening kaca pada umumnya, melainkan jendela buram, yang mesti dibersihkan tiap kita ingin memandang ke luar sana.
Saya, atau lebih umumnya, kita. Kita merasa begitu takut untuk kehilangan orang yang kita cintai. Kita merasakan khawatir, takut, dan cemas yang begitu luar biasa ketika orang yang kita cintai juga dicintai banyak orang. Tapi, kadang kita, atau lebih khususnya saya. Saya juga sangat bahagia. Bahkan saya tak percaya bisa sebegitu bahagia. Sosok orang yang saya cintai itu bagaikan sebuah mimpi yang sangat indah, hingga saya begitu takut untuk terjaga dari tidur nyenyak saya, sebab saya tak ingin berpisah darinya barang sedikit pun, apalagi kehilangannya, jelas saya tak mau. Dia memenuhi segala yang saya impikan: Cerdas, pintar, baik hati, lembut, sabar, perhatian, pengertian, manis, dan jelita. hingga terkadang saya ingin menyimpannya di balik kelopak mata saya, agar hanya saja yang mampu melihat kecantikannya. Dalam tidur, saya biasa memanggilnya ‘Peri biru’. Namun pada akhirnya, saya harus sadar-(mengutip perkataan Aris Nugraha, sutradara Bajaj Bajuri)-, “Jangan melihat orang lain dengan serba sempurna. Sempurna baiknya, sempurna jahatnya, sempurna indahnya, sempurna buruknya. Tiada manusia yang sempurna, dan kita tak mungkin memuja dan membenci secara membabi buta”.
Mungkin, anda berfikir email tadi salah kirim, atau katakanlah saya mendapat hal yang salah. Itu terserah logika anda. Tapi, saya pikir kita kadang butuh salah untuk mempercepat proses kedewasaan kita, agar kita bisa lebih teliti, dan tentunya lebih hati-hati lagi dalam memberi dan menerima cinta. Cinta memang bukan segala-galanya, tapi segala-galanya bermula dari cinta. Wanita bagi pria adalah jiwa dalam jiwa, tapi nilai pria bagi wanita adalah yang ada pada dirinya. Tahukah anda, siapa wanita yang saya cintai? Dialah ibu, dan tentunya, (calon) istri saya. Wallahu a’lam.
Keterkejutan saya pada isi email itu langsung buru-buru saya hapus dari memori hati dan otak saya. Sebab saya pikir, saya tak perlu bingung untuk mencari tahu siapa sebenarnya pengirim email tersebut, meski di sana tertulis jelas nama pengirimnya. Tapi sekali lagi, saya rasa saya tak perlu tahu siapa dia sebenarnya. Bukannya sombong kepada pengirimnya atau apatis terhadap isi emailnya, tapi saya pikir (mungkin) itu hanya iseng-iseng pengirimnya belaka, atau bisa saja pengirimnya memang sengaja mengerjai saya. Oleh sebab itu, maka saya pun tak punya inisiatif sama sekali untuk menanggapinya dengan membalas email tersebut. Lagi pula, jika isi email itu serius pun, saya tak hendak menyikapinya serius, apalagi membalasnya. Karena saya punya alasan yang lebih serius dari pada isi email tersebut.
Sikap cuek saya terhadap isi email itu tidak lantas membuat saya apatis terhadap satu kata ‘sakti’ yang ada di dalamnya, yakni kata LOVE. Entah kenapa, setelah kedapatan kata itu, ‘hobi’ saya dalam mengulas kata perihal cinta tiba-tiba muncul kembali.
Siapa pun tahu, arti love adalah cinta, tapi cinta yang bagaimana, seperti apa, dan kepada siapa cinta itu ada, ternyata masih sangat abstrak untuk diulas. Bagi saya kerajaan cinta belum bisa dijelaskan secara konkrit dan spesifik, karena wilayah kerajaan cinta masih terlalu luas untuk dikelilingi.
Cinta, menurut saya adalah sebuah kata yang sakral, hingga saya tak berani memberikannya pada setiap orang. Saya takut salah memberi, karena cinta saya hanya untuk orang yang pantas saya cintai. (Lagi pula, siapa yang mau saya cintai? hehehe... ) Tapi, watak manusia pada umumnya adalah ingin mencintai dan dicintai.
Cinta adalah kelenjar rangsang yang tidak selalu aktif di syaraf fisik. Ia bisa berupa insight, pengolahan emosi pada hati kecil kita. Namun ternyata, cinta tak selalu indah seperti di awal kita mengenalnya. Persahabatan sedekat apapun, tak pernah memilah-milah apa itu cinta atau hanya kedengkian semata. Permasalahan tentang cinta kadang justru timbul dari sahabat dekat, atau orang kepercayaan kita sendiri, karena cinta tak sebening kaca pada umumnya, melainkan jendela buram, yang mesti dibersihkan tiap kita ingin memandang ke luar sana.
Saya, atau lebih umumnya, kita. Kita merasa begitu takut untuk kehilangan orang yang kita cintai. Kita merasakan khawatir, takut, dan cemas yang begitu luar biasa ketika orang yang kita cintai juga dicintai banyak orang. Tapi, kadang kita, atau lebih khususnya saya. Saya juga sangat bahagia. Bahkan saya tak percaya bisa sebegitu bahagia. Sosok orang yang saya cintai itu bagaikan sebuah mimpi yang sangat indah, hingga saya begitu takut untuk terjaga dari tidur nyenyak saya, sebab saya tak ingin berpisah darinya barang sedikit pun, apalagi kehilangannya, jelas saya tak mau. Dia memenuhi segala yang saya impikan: Cerdas, pintar, baik hati, lembut, sabar, perhatian, pengertian, manis, dan jelita. hingga terkadang saya ingin menyimpannya di balik kelopak mata saya, agar hanya saja yang mampu melihat kecantikannya. Dalam tidur, saya biasa memanggilnya ‘Peri biru’. Namun pada akhirnya, saya harus sadar-(mengutip perkataan Aris Nugraha, sutradara Bajaj Bajuri)-, “Jangan melihat orang lain dengan serba sempurna. Sempurna baiknya, sempurna jahatnya, sempurna indahnya, sempurna buruknya. Tiada manusia yang sempurna, dan kita tak mungkin memuja dan membenci secara membabi buta”.
Mungkin, anda berfikir email tadi salah kirim, atau katakanlah saya mendapat hal yang salah. Itu terserah logika anda. Tapi, saya pikir kita kadang butuh salah untuk mempercepat proses kedewasaan kita, agar kita bisa lebih teliti, dan tentunya lebih hati-hati lagi dalam memberi dan menerima cinta. Cinta memang bukan segala-galanya, tapi segala-galanya bermula dari cinta. Wanita bagi pria adalah jiwa dalam jiwa, tapi nilai pria bagi wanita adalah yang ada pada dirinya. Tahukah anda, siapa wanita yang saya cintai? Dialah ibu, dan tentunya, (calon) istri saya. Wallahu a’lam.

0 komentar:
Poskan Komentar