Minggu, 18 November 2007

Pura-pura

Sebenarnya, kata pura-pura adalah bukan sebenarnya. hanya pura-pura. kadang kita selalu berpura-pura, atau bahkan selalu berpura-pura. pura-pura pandai, agar dikira benar-benar pandai. pura-pura bisa, agar dikatakan bisa, meski sebenarnya kita tidak bisa.

Ada yang pura-pura mencintai, agar tidak melukai orang yang telah bersusah payah mencintainya. ada yang pura-pura membenci, agar dikatakan punya gengsi tinggi. Walhasil, dunia memang hanya sementara, tempat sementara untuk berpura-pura. salah seorang teman saya berkata, "kalau kita tidak berpura-pura, kita tidak akan mendapat teman". apa memang begitu?? saya rasa tidak. mengapa harus berpura-pura agar bisa mendapatkan teman? bukankah teman yang baik justru lebih suka kejujuran. Saya jadi teringat hadits Nabi, "Qulil Haqqon walau kana Murron", berkatalah jujur meski pahit rasanya.

Tapi saya sadar, dunia ini memang hanya tempat berpura-pura. toh, memang di sini kita hanya berpura-pura. tapi, ada beberapa hal yang menurut saya harus jujur, dan tidak pura-pura. Saya harus jujur bahwa, Tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah Utusan Allah.

2 komentar:

arisbanget mengatakan...

ya...sebenarnya pura-pura itu kadang perlu untuk menjadikan hidup menjadi lebih hidup.

irmudaskyg mengatakan...

pura2, menurut hemat kami adalah sikap yang merupakan bawaan manusia pada umumnya. lihat saja orang jawa.
katakanlah ketika kita lewat di depan rumah seorang relasi, atau katakan lah kenalan anda lalu ia berkata,"monggo mampir....". padahal itu hanya basabasi atau PURA2 lovable. sebenarnya andaikan kita mampir kerumahnya maka ia sagat keberatan terhadap kehadiran kita.
kami sangat mendukung dan setuju terhadap sikap pura-pura ini karena manfaatnya sangatlah banyak, antara lain mempererat silaturrahim, meski pun hanya sekedar omong kosong.

Poskan Komentar