Senin, 19 Oktober 2009
P E S A I N G
Pesaingmu sangat efisien, rajin, cermat, dan teliti. Bahkan mereka termasuk orang-orang yang jeli terhadap kelemahan-kelemahanmu. Sedikit saja kesalahanmu pasti akan nampak di mata pesaingmu. Mereka membuatmu merasa harus terus mencari cara untuk memperbaiki nilai dan prestasi yang kamu raih,
Pesaingmu selalu membuatmu selalu waspada untuk selalu konsentrasi dan konsisten dalam penguasaan nilai dan perolehan prestasimu, karena pesaingmu akan dengan mudah merebut posisimu, melebihi nilaimu, dan melampaui presatsimu jika kamu menerapkan gaya santai dan selalu tenang-tenang saja.
Pesaingmu memaksakan disiplin tinggi terhadap dirimu. Tanpa pesaing, kamu akan menjadi malas, tidak mempunyai mental tanding yang kokoh, tidak mempunyai semangat berkompetisi, dan bahkan kamu bisa kehilangan selera terhadap usaha dan prestasimu sendiri.
Pesaingmu memberi banyak kesan dan pesan kepadamu. Tanpa pesaing, kamu akan menjadi pemenang dalam drama “single fighter” yang membosankan. Tanpa pesaing, kamu akan mempertahankan budaya dan gaya “permainan” yang monoton. Tanpa pesaing, kamu tidak akan menaikkan porsi latihan dan semangatmu. Tanpa pesaing, kamu akan nampak menjadi pemenang tunggal namun mati perlahan-lahan.
Berbahagialah dirimu yang mempunyai pesaing. Cintailah pesaing-pesaingmu melebihi cintamu pada sahabatmu, karena pesaingmu juga mencintaimu, sebab ia juga membutuhkanmu untuk menjadi pesaingnya. Sayangilah pesaingmu, karena pesaingmu adalah kekasih: yang mengejekmu secara terbuka namun menyemangatimu secara diam-diam.
Itulah mengapa aku selalu menghormati pesaing-pesaingku. Sikap mereka terhadapku merupakan hal positif bagi diriku. Semoga Allah memberkahi pesaing-pesaingku, dan menambah berkah-Nya pada diriku. Amien…
Kamis, 08 Oktober 2009
Hal yang Sulit dalam Menulis
Aneh memang. Di saat ada ide, ada gagasan, ada uneg-uneg, tapi tangan ini kaku rasanya diajak untuk melaju menuturkan isi hati melalui tulisan. Tapi memang begitulah, Andai saja otak kita punya tombol “print” mungkin gampang saja mengeluarkan isi pikiran dan hati kita. Tinggal pencet tolmbol “print” lalu pilih subject file yang hendak dicetak, langsung keluar apa yang hendak kita tuang dalam tulisan. Sayangnya otak kita hanya bisa memerintah tangan untuk bergerak sesuai dengan apa yang diperintahkan. Tapi ya begitu, tidak semua yang kita mau bisa langsung dituangkan dalam bentuk tulisan. Lalu bagaimana caranya? Mudah saja.
Saya mempunyai seorang teman yang minta diajari proses kreatif menulis. Lalu saya suruh dia untuk mengamati apa yang dia lihat, apa yang dia dengar, apa yang dia setuh, apa yang dia rasa, dan apa yang dia pikir. Sudah hampir dua jam dia “bersemedi” mengamati apa saja, namun goresan pena di atas kertas tak kunjung ia mulai. “Aku masih bingung tentang bagaimana caranya memulai tulisan,” ujarnya.
“lha kamu pengen nulis yang bagaimana?” tanya saya. “aku pengen nulis kaya’ Andrea Hirata,” jawabnya polos. “ya udah… coba saja,” balas saya simple. Selang tiga puluh menit ia kembali lagi, “Nggak bisa… sulit!” teman saya mengadu. “Ya sudah… gaya penulisan yang kamu suka kaya’ siapa?” tanya saya padanya. “Aku suka gayanya Kang Abik,” dia menjawab sembari tersenyum. “ya udah…. coba tulis…” saya mencoba menyemangatinya lagi. Selang dua puluh menit ia kembali mengeluh “wahh…. Nggak bisa! Aku bingung nulisnya,” keluhnya. Huhh…. Saat itu saya berfikir konyol, “apa saya harus bunuh diri dulu, biar kejadian ngendat itu bisa ditulisnya. Bisa jadi bahan inspirasinya.” Hwihihi… guyon saya dalam hati.
Pikiran-pikiran tentang “ini nulisnya bagaimana?” - “bagaimana menulis ini?” - “apa harus begini?” keraguan dan pertanyaan-pertanyaan kecil di kepala kadang-kadang memang menghambat dan menyurutkan minat dan keinginan seseorang untuk menulis.
Sampai saya ada ide untuk memancingnya lagi, “besok kamu kuliah kan? Dosennya siapa?” tanya saya santai. “iya kuliah… Besok jadwalnya Pak fulan, orangnya galak. Kalo pas mata kuliahnya, nggak ada orang berani tidur,” jawabnya panjang lebar. “Lha… sekarang bayangkan saja wajahnya, deskripsikan wajah beliau dan suasana kelas. Coba itu.” pancing saya.
Kembali ke depan Komputer (untuk kesekian kalinya) dia terbayang wajah sang dosen. Ia mendeskripsikan wajahnya, terbayang kegalakannya, terbayang suasana kelasnya saat diajar dosen, dan tingkah laku teman-teman sekelas saat kuliah. Tanpa terasa tangan teman saya itu sudah mengetikan cerita-cerita tentang si dosen killer dan suasana kelas.
“Ahh… selesai sudah, lega rasanya. Puas hati saya, akhirnya keluar juga yang ada di dalam dada,” ujar teman saya itu usai mengakhiri catatannya. Lalu saya bisikkan sepotong kalimat di telinganya. “menulis itu mudah, yang sulit adalah meniru gaya tulisan orang lain.”
* YAB, tinggal di kerikiltumpul@gmail.com
Rabu, 07 Oktober 2009
Seorang Teman dan Prestasi Pertamanya
Dalam kamus teman-temannya, Indra adalah orang dengan pribadi unik, yang kalau berbicara terdengar sangat ngoyo dan very fast. Nada bicaranya menekan, kadang juga gaya bicaranya seperti orang sedang ingin menahan tawa. Bila saya boleh mendeskripsikan, wajahnya mirip jendral Cheng dalam film Yoko jaman dulu.
Namun di sini kita tak hendak menceritakan detail-detail gambaran bentuk Indra bagiamana, karena yang hasil karya asli bentukan Allah jangan dibicarakan lagi. Sudah Sunnatullah! Sekarang mari kita membicarakan usaha dan buah prestasi pemuda yang pernah populer dengan nama Parito ini.
7 Oktober 2009, hari ini, saya dikejutkan dengan berita bahagia dari dirinya via SMS. Begini isi pesannya: “Ris, kamu kan tahu sendiri… bertahun-tahun selama di MUS.YQ aku nggak pernah dapat juara apa pun. Selama ikut lomba aku selalu saja kalah, tapi hari ini aku juara 1 lomba debat. Alhamdulillah…”
Kabar tahadduts binni’mah itu kembali mengingatkan saya pada hari-hari di pesantren dulu. Selama 8 tahun mukim di pesantren, tiap tahunnya ia hampir selalu tampil sebagai “atlet” pidato mewakili residennya. setiap kali tampil, setiap kali pula ia menelan kekalahan. Namun ia bukanlah pribadi yang putus asa. Jiwa besarnya luar biasa!
Dalam kamus saya, Indra adalah pemuda yang jika dalam lagunya D’Masiv disebut pantang menyerah. Karena saya yakin, bahwa pemuda macam dia selalu mengamini kata Leo Tolstoy yang dikutip Andrea Hirata dalam Sang Pemimpi-nya: “Tuhan tahu, tapi menunggu...”
Saya bukanlah orang yang suka menarik “pajak kebahagiaan” seorang teman yang sedang merayakan kemenangan. Jujur, saya turut bersuka cita atas ikhtiyar dan buah prestasinya itu. Isi pesan itu nampak polos, diungkap dengan tulus dan sejujur-jujurnya, yang menggambarkan bahwa selama ini ia tak pernah sekali pun menjuarai kompetisi dan sekarang ia ketiban rejeki juara 1. dilihat dari kata-katanya, ia nampak bersorak bahagia. Saya yakin, hatinya ini sedang terbang melanglang buana ke angkasa. “Hwahaha..... Aku juara satu....” begitulah suara selebrasinya.
Pesan itu sekaligus datang sebagai tamparan kecil bagi saya. “Lha terus kapan aku juara satu?” Hmm.... hati saya mengiri, karena yaono-yaene ikut lomba berkali-kali saya belum pernah sekali pun merasakan atsmosfer menjadi yang pemenang terbaik: juara 1!
Saya yakin semua orang ingin menjadi yang terbaik, bahkan dalam kamus saya keinginan itu adalah sebuah usaha yang “wajib”. Seseorang harus berusaha menjadi The Best, hasilnya biar Allah yang menentukan.
Catatan ini saya tulis untuk melecut semangat-semangat orang yang telah berkali-kali gagal agar tidak mudah menyerah, karena setiap kompetisi selalu mempunyai kesan tersendiri. Delapan tahun Indra mengikuti kompetisi, dan baru 2009 ini dikaruniai Allah prestasi pertama yang langsung juara 1 adalah bonus dari kesabaran yang tidak pantas dipandang sebelah mata. Kita hanya berkewajiban berusaha dan berdoa, baru kemudian tawakkal pada apa pun hasilnya.
Sedikit mengutip pesan istri Bang Azrul dalam sinefilm PPT 3 di SCTV, “Sementara kita pilih bagaimana jalannya, biar nanti Allah yang mengatur bagaimana hasilnya.” Mari kita berkompetisi, fastabiqul khoirot! Semoga kita bisa mengambil hikmahnya. Amien… (^_^)
Rabu, 30 September 2009
Harga Sebuah Kesetiaan
Dia, teman saya itu berujar, “jika saya mudik. Saya harus menempuh perjalanan jauh, dan memakan biaya yang tidak sedikit pula. Biarlah saya di sini saja, saya setia dan menikmati profesi saya.” Mendengar itu hati saya komplain, “lalu dimana romantisme antara dirimu dengan ayah-ibumu?” tapi yang jelas saya begitu bersyukur, saya bisa berkumpul dengan sanak keluarga saya.
Terharu juga saat mengingat teman saya di Tasik yang menjadi korban gempa saat Ramadan kemarin. Rumahnya roboh dan dia kini menumpang di rumah saudaranya. Terharu pula saat mengingat tepat satu tahun lalu, dimana tetangga saya meninggal saat tanggal satu Syawal. Sungguh kejadian yang sangat ironi. Keluarga tetangga saya itu harus bersedih di tengah kegembiraan orang lain merayakan Idul Fitri. Bisa dibayangkan, betapa bingung dan repotnya menjadi ahli mushibah. Mereka harus mengurusi hal-ihwal si mayit, mulai dari pemandian jenazah, pengafanan, pemakaman, hingga pengajian selama tujuh hari. Untung saja, ada banyak tetangga yang mempunyai solidaritas tinggi. Sebagai tetangga yang baik, kami tetap setia dengan berempati dan besimpati atas kematian ini.
Tetapi baiklah. Di tengah sinema haru itu, marilah kita pungut sisa-sisa yang masih ada, soal-soal yang mengharukan hati kita, setidaknya hati kecil saya ini. Biar ia menjadi sedikit penentram dan menumbuhkan lagi kerindukan kita atas pentingnya kebersamaan dan nilai kesetiaan.
Di antara sederet soal yang membuat haru itu adalah HP tua milik saya. Ia tampak terengah-engah dan ngos-ngosan menerima berondongan SMS yang terlalu deras untuk HP se-usianya. Sebentar-sebentar HP ini sudah berteriak bahwa ia tak kuat lagi menerima SMS. “no place for new message,” ujarnya.
Satu-satu pesan masuk itu saya hapus agar bisa menerima SMS lagi. Bukan pekerjaan yang mudah memang, karena sambil membuang, aku sempatkan untuk membalasnya, dengan sentuhan pribadi, dengan pilihan diksi dan gaya bahasa yang aku rangkai sedemikian rupa. Bukan SMS generik, yang sekali bikin bisa dikirim untuk seluruh umat sejagat. Aku tahu pentingnya menyebut nama-nama, dan menempatakn mereka sebagai pribadi istimewa di hatiku. Aku sangat mengerti hebohnya perasaan pihak yang dihargai dengan cara yang tentu saja special.
Jika cuma berpikir tentang mode, tentang ketuaan dan tentang gaya, rasanya HP ini sudah layak untuk saya campakkan, karena bahkan keponakan saya pun turut mengejeknya. ”Itu HP kalo dipake melempar kepala kambing bisa klenger!,” katanya. Tetapi setiap hendak menjual atau menukartambah benda ini, entah kenapa saya selalu teringat logika poligami. Banyak suami yang menyakiti istri pertama dengan kawin lagi cuma karena ia telah peot dan tua. Padahal, istri pertama tersebut begitu besar jasanya. Dia (istri pertama) itulah yang telah setia menemaninya.
Begitu pula dengan HP saya ini. HP ini telah menemani saya dalam Touring Education PNMHII di UNAIR Surabaya, HP ini juga yang membantu dan menemani saya di ASEAN University Student Conference, HP ini juga telah menghubungkan silaturrahim saya dengan banyak orang penting, mulai dari orang tua, saudara, guru, dosen, sahabat, bahkan pejabat. HP ini juga pernah sangat berjasa dalam menyelamatkan saya saat tersesat di Semarang tempo dulu. Sungguh! Saya telah menyematkan bintang jasa pada HP butut saya ini.
Saat orang-orang dengan bangga menenteng BlackBerry, maka dengan sebongkah setia dan rendah hati saya cukup membawa HP strawberry, karena warna HP saya ini memang merah, yang melambangkan kobaran cinta yang membakar siapa pun yang mendekat! Harga romantisme dan jasa yang telah diberikan HP ini pada saya begitu banyak. saya tidak bisa membayangkan betapa pedih dan sakit hatinya HP saya ini jika saya melegonya dengan HP baru. Maka selama HP ini masih bisa bersuara dan kirim SMS, biarlah ia menjadi teman hidup saya. Saya tetap meyakini, Life’s love and loyality! Biarkah rasa sayang ini menjadi harga sebuah kesetiaan HP ini pada saya. Semoga HP ini tetap membawa berkah. Amien.
Kamis, 23 April 2009
Remaja Indonesia Rajin Membaca dan Menulis
Adalah operator 3 yang nampaknya pantas mendapat sambutan luar biasa karena turut membawa pengaruh besar dalam menanamkan budaya membaca dan menulis dalam kegiatan sehari-hari remaja
Kirim SMS memang telah menjadi semacam
Untuk semua pengguna 3, jangan gunakan fasilitas SMS gratis itu untuk mengganggu orang lain. Karena siapa tahu, orang-orang yang anda “serang” dengan SMS gratis itu sedang super sibuk, sedang ingin menghubungi koleganya, atau bisa juga handpone-nya orang yang kalian ganggu itu hampir sekarat. Tolong, tanamkanlah rasa peka anda terhadap sesama, bukalah perasaan anda dalam berempati terhadap orang yang anda ganggu itu, luangkan pula waktu anda untuk kegiatan yang lebih positif ketimbang hanya saling berbalas SMS yang tidak penting. Hargailah waktu kita, karena kita hanya punya hari ini, sebab hari kemarin telah terlewati dan hari esok masih menjadi misteri. “Hidup Bukan Hanya Urusan SMS” setidaknya jargon itu bisa kita terapkan mulai dari sekarang.
Minggu, 01 Maret 2009
Tahun Awal di UNWAHAS: IP-ku 3,90
Ingin hasil perfect, atau setidaknya mendekati sempurna. Itulah harapanku atas berbagai mata kuliah di prodiku, Hubungan Internasional (FISIP UNWAHAS Semarang). Berbagai mata kuliah ingin aku lahap dengan serius. Mulai dari yang belum pernah aku kenal sebelumnya, seperti Pengantar Ilmu Politik, Pengantar Sosiologi, Pengantar Filsafat, dan Pengantar Ekonomi, hingga yang jamak aku dapatkan semasa sekolah dulu, seperti Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Pancasila, dan Pendidikan Agama. Padahal sebenarnya, untuk mengejar standart minimum beasiswa yang aku peroleh pun cukup dengan perolehan 3,00. Tapi aku tak mau berhenti pada nilai itu, kepalang basah! maka target IP-ku pun tidak main-main, yakni minimal 3,80.
IP 3,80 jelas bukan jumlah yang sedikit, mengingat batas maksimum IP adalah 4,00, jadi target 3,80 adalah mendekati sempurna. Saat mematok target itu pun aku yakin, bahwa cara meraihnya pun tidak asal-asalan, mesti jungkir balik, dan yang pasti harus lebih ganas dalam melahap buku-buku tebal. Lebih tepatnya, aku harus bisa menjadi predator buku! Bukan hanya menjadi kutu buku.
Jumlah teman sekelasku pun tidak banyak, hanya sekitar 15 anak saja. (Maklum... secara umum, peminat FISIP memang tidak begitu banyak. Apalagi jurusan Hubungan Internasional yang di Jateng hanya ada di UNWAHAS saja. Itu jelas mempengaruhi nilai jual HI di wilayah Jateng.) lima belas anak itu, semuanya peraih beasiswa awal, dengan skill di atas rata-rata (tapi tidak semuanya dech) tapi tentu saja, kami semua tetap harus berpacu menjadi yang terbaik. Lebih-lebih aku, yang sudah masuk list beberapa dosen FISIP. (Malu dong kalau nggak bisa be the best)
Tapi cobaan menimpaku, sifat asliku muncul: malas belajar! Maklum... zaman sekolah dulu. Di madrasah dan pesantrenku dulu aku tidak begitu ngopeni pelajaran semacam ini. Pelajaran-pelajaran umum adalah hal yang jamak diabaikan olehku. Walhasil, waktu-waktuku di sini memang lebih banyak bermuara pada sisi lain dari mata kuliah.
Awal-awal masuk dulu, aku diminta dosen dan beberapa senior untuk jadi panitia Kongres Akbar Pemilihan BEM. Terus terang, awalnya aku tidak mau, karena ini jelas akan mengurangi jatah waktu belajarku (hwehehe... gayaku sok rajin belajar) tapi ternyata, anak baru yang jadi panitia tidak cuma aku saja, ada beberapa yang jadi panitia (ternyata mereka daftar sendiri untuk jadi panitia).
Setelah acara yang menurutku cuma mengobral omong kosong dan membuang-buang waktu dan uang itu selesai, aku kembali jadi YAB. Sssttt... diam-diam aku mulai merancang impian-impianku untuk UNWAHAS. Program-program yang dulu pernah aku rencanakan sebelum benar-benar masuk UNWAHAS, aku rancang, dan tentu saja aku mengumpulkan massa untuk berepot-repot, menyibukkan diri dengan program-programku dalam “menghidupkan” nyawa emulasi kampus. Mengingat jargon zaman ini adalah, “kuasailah media” maka media internal kampus menjadi obyek utama kami. Akhirnya, jadilah buletin elwahid, yang alhamdulillah mendapat respon positif dari banyak kalangan universitas. Welehh... welehhh.... semoga aja langgeng. Amien. (namun elwahid sebenarnya saya harapkan akan berkembang menjadi majalah kampus. Doain aja yach...)
Namun, tidak sedikit pula yang merespon negatif, terutama kalangan-kalangan “mamang”, (maaf jika saya anggap demikian, karena sifat pesimis mereka yang acap mengganggu kinerja kami.) Dari sini saja pikiranku segera menerawang ke mana-mana. Ooo... kubu-kubu di sini ternyata mirip partai-partai di negaraku. Sama warnanya namun bisa pecah menjadi dua, tiga dan seterusnya. Sama niat baiknya, tetapi macam-macam cara menjalankannya. Lumayan jika cuma beda cara. Tetapi ada niat baik yang begitu banyaknya sementara kebaikannya sendiri tidak muncul-muncul juga. Hingga akhirnya media yang saya dirikan itu pun membuat beberap pihak kalng kabut dan akhirnya turut memperbarui media mereka. Konflik emulasi di kampusku itu sungguh mengisyaratkan tentang bermacam-macam keadaan yang ada di otakku. “OK... silahkan kalian main keras, saya tidak berminat. Kami ingin main cerdas saja! Hwehehe.....” kilahku saat itu. Karena kerja keras saat ini tidak lebih jitu daripada kerja cerdas.
Setelah sukses dengan program pertama, aku masih seperti dulu: mencintai sastra. Maka aku tegaskan untuk mengikuti sayembara cerpen se-Jateng, Jatim, dan DIY. Walhasil, hari-hariku pun sibuk dengan berfikir kreatif menyusun ide dalam cerpen. Hingga hasilnya, lahirlah cerpen berjudul: LiNGKARAN. (sayang... gagal jadi the best. hehehe...)
Kesibukan itu jelas memakan waktuku untuk belajar, padahal saat itu aku sadar betul bahwa aku sedang UTS (Ujian Tengah Semester) tapi karena keburu “nafsu” cerpen. (yach... mungkin karena terlalu cinta, hehehe....) maka hari-hariku lebih bertumpu pada pergulatan metafora, diksi, dan gaya bahasa, daripada berpusing-pusing dengan buku-buku tebal kuliah. Ironisnya, aku lebih banyak keluar duit untuk buku-buku sastra daripada buku-buku Sosial Politik. (Gila kan??)
Terus tertang kesibukan-kesibukan yang tidak begitu penting itulah yang banyak bermuara pada hari-hariku di UNWAHAS, hingga masa UAS selesai, ada dua mata kuliah yang dulu aku tidak sempat mengumpulkan tugas paper, makalah. Hingga akhirnya aku curhat dengan salah satu senior yang memang akrab denganku, kebetulan tahun kemarin dia menjadi peraih IP terbaik. Muhammad Masykur Afandi, aku acap memanggilnya Bang Fandi. “Alhamdulillah... UAS kemarin aku bisa ngerjain dengan optimis sukses, tapi Bang.... aku belum buat tugas membuat makalah Pancasila dan Agama.... kira-kira gimana ya??” keluhku saat itu. Dan aku masih ingat betul saat dia menasehatiku, “Ingin hasil yang terbaik kok tidak melakukan yang terbaik.” Saat itu aku langsung sadar diri, target 3,80 mungkin memang harus dibiarkan melayang saat ini. Aku merasa sangat berdosa dengan diriku, dosenku, orang tuaku. (kesepakatan dengan sahabat-sahabatku di universitas lain pun jadi kebayang.... “yang IP-nya sedikit ngasi hadiah ama yang IP-nya tinggi.” Ughhh.... berapa rupiah yang mesti aku keluarkan untuk memberi hadiah-hadiah pada mereka? Huhuhu...)
Namun aku tidak ingin larut dalam penyesalan, toh, aku memang masih asing dengan berbagai mata kuliah itu, (terus terang materi-materi FISIP, terutama HI, bikin aku cepet BeTe. yach.. masih asing sich... secara, aku kan dulu jebolan IPA). Namun semua itu hilang saat aku dikabari bang Fandi, bahwa dia telah mengecek, IP-ku lebih dari harapan, 3,90. Subhanallah.... aku langsung mencak-mencak, jengkulitan. Hwohoho... (Ya Allah... saya janji dech, semester depan saya akan berjuang lebih sungguh-sungguh dalam belajar dan kuliah. Saya tidak ingin mengecewakan impian saya, orang tua, dan dosen saya.) saya jadi teringat dengan pesan salah salah dosen saya, “Apa yang kamu pikirkan, itulah yang akan terjadi.”
Syukron ‘ala a’tho’ika, ya Allah.... Engkau selalu memberi lebih dari apa yang aku harap.Wallahu A’lam. Terakhir dan ini terpenting bagiku, mata kuliah yang sebenarnya asing ini mengajariku meyakini satu hal: “Jika segala sesuatu dikerjakan sesuai porsinya, tak peduli betatapun lambat kita berusaha, selama kita berfikir kita bisa, maka kita akan menuai hasil maksimal juga! If U think U can, U can. OK”
Kamis, 06 November 2008
ada mendung di hatiku
Ku nanti hujan di pucuk musim rindudan ternyata tibalah saatnya, Novemberkusaatnya menuai lembaran-lembaran airmenebar jejak di atas tanah
Rintiknya merdu…Semarang yang panas menjadi dingin.
Basah…
Saat itulah datang rintik-rintik
Menemani anak-anak berpesta air
Sorak sorai…
Inilah saatnya kita membajak ceritatentang atap-atap yang berdenting
tentang senandung bambu di atas tanah basah.
tapi kini..
masih kunanti hujan kata di pucuk musim ceritabersama kesibukan yang meruntuhkan tanggul-tanggul idedan bibit-bibit imajinasiku masih saja mandul.
Aku kehilangan banyak kata!
Kesibukanku mulai deras.
Membanjiri waktu khayalku
Dan seseorang di ujung sana
Memasungku dalam buaian kata
Aku dihujam rintik-rintik kata yang bisa membuatku angkuh
Ingatkan aku…
Aku masih bukan siapa-siapa!
November telah dimulai dari kemarin
Tapi ladang karyaku masih gundul
Dan waktu bertanam kata nampaknya semakin mahal
PP. Wahid Hasyim Sampangan - Semarang, 06 November 2008
